Ulasan Urban Women Book Club: Emotional Intelligence


Monday, 30 Nov -0001


Urbanesse, Pada Sabtu (24/9) yang lalu Urban Women kembali menggelar Book Club dengan tema buku yang dibaca tentang “Emotional Intelligence” (kecerdasan emosi).  Meski hujan, tidak membuat peserta Book Club kehilangan semangatnya untuk hadir dalam acara yang diadakan bulanan tersebut. Beberapa buku peserta yang di share dalam Book Club kali ini diantaranya, buku karangan Daniel Goleman bertajuk “Emotional  Intelligence, Why it can matter more than IQ” dan buku karangan Tim Wesfix berjudul “Emotional Intelligence, Itu Dipraktekin”
 

Sofie Salah satu peserta Book Club membagi ulasan buku yang telah dibacanya, “Buku karangan Daniel Goleman ini menjelaskan bahwa cerdas itu bukan segalanya, orang cerdas ujung-ujungnya berakhir tragis. Ditulis dalam buku ini ada cerita tentang seseorang yang cerdas dari segi akademis kemudian pada satu ketika ia berdebat dengan dosennya, kemudian debat yang ia lakukan dengan dosennya itu kalah. Lalu ia pun dengan refleks membunuh dosennya” Terang Sofie. Dari cerita di tersebut membuktikan bahwa IQ tinggi sama dengan IQ  rendah jadi bukan berarti seseorang dengan kecerdasan akademis yang tinggi  akan pasti memiliki kecerdasan emosi yang tinggi juga. Karena cerdas secara akademis belum tentu seseorang tersebut akan memiliki kecerdasan emosi yang baik.  Bicara tentang emosi, ada 5 pembagian emosi yang dijelaskan didalam buku ini pertama kemarahan, Kedua kesedihan,  Ketiga keterkejutan (kaget),  Keempat ketakutan dan Kelima jatuh cinta. Kalau kita bicara tentang emotional intelligence berrati kita bicara tentang bagaimana mengelola kemarahan yang cerdas, bagaimana mengelola rasa takut, rasa kaget, perasaan jatuh cinta dan rasa sedih yang cerdas.


Ketika  marah aliran darah akan lari ke tangan ditunjukkan dengan reaksi tubuh misalnya tangan gemetar, muka memerah dan beberapa orang yang sedang marah bahkan bisa melakukan tindakan refleks terhadap lawan bicaranya misalnya menampar, memukul, mencubit dan sebagainya. Di dalam buku tersebut juga dijelaskan tentang kerja otak kecil dan otak besar, otak kecil lah yang mensupport otak besar, otak kecil menyimpan memori kita dari kecil, otak kecil juga lah yang memberitahu pengalaman-pengalaman yang pernah dialami ke otak besar.

Sofie juga menjelaskan bahwa buku ini menjelaskan kecenderungan orang  menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka,

 

1.    Sadar diri.
Peka akan suasana hati mereka ketika mengalaminya. Dapat dimengerti bila orang-orang ini memiliki kepintaran tersendiri dalam kehidupan emosional mereka. Kejernihan pikiran tentang emosi boleh jadi melandasi ciri-ciri kepribadian antara lain: mereka mandiri dan yakin akan batas-batas yang mereka bangun, kesehatan jiwanya bagus, dan cenderung berpendapat positif akan kehidupan. Bila suasana hatinya sedang jelek, mereka tidak risau dan tidak larut ke dalamnya, dan mereka mampu melepaskan diri dari suasana itu dengan lebih cepat. Pendek kata, ketajaman pola pikir mereka menjadi penolong untuk mengatur emosi.
 

2.    Tenggelam dalam perasaan.
Mereka adalah orang-orang yang sering kali merasa dikuasai oleh emosi dan tak berdaya untuk melepaskan diri, seolah-olah suasana hati mereka telah mengambil alih kekuasaan. Mereka mudah marah dan amat tidak peka akan perasaannya, sehingga larut dalam perasaan-perasaan itu dan bukannya mencari prespektif baru. Akibatnya, mereka kurang berupaya melepaskan diri dari suasana hati yang jelek, merasa tidak mempunyai kendali atas kehidupan emosional mereka. Seringkali mereka merasa kalah dan secara emosional lepas kendali.
 

3.    Pasrah.
Meskipun seringkali orang-orang ini peka akan apa yang mereka rasakan, mereka juga juga cenderung menerima begitu saja suasana hati mereka, sehingga tidak berusaha untuk merubahnya. Kelihatannya ada dua cabang jenis yang pasrah ini: mereka yang terbiasa dalam suasana hati yang menyenangkan, dan dengan demikian motivasi untuk mengubahnya rendah; dan orang-orang yang kendati peka perasaannya, rawan terhadap suasana hati yang jelek tetapi menerimanya dengan dengan sikap tidak hirau, tak melakukan apapun untuk mengubahnya meskipun tertekan. Pola yang ditemukan misalnya pada orang yang menderita depresi dan yang tenggelam dalam keputusasaan.
 

Dijelaskan bahwa Reaksi yang terjadi pada nomor dua dan tiga dikenal oleh para psikiater sebagai gejala utama gangguan stres pasca trauma. Setiap peristiwa yang menimbulkan trauma dapat menanamkan ingatan-ingatan pemicu di amigdala. Jejak rasa takut dalam ingatan dan sikap terlalu waspada yang ditimbulkannya dapat berlangsung seumur hidup.

 

Buku lainnya yang dibahas pada Book Club kali ini adalah buku karangan Tim Wesfix “Emotional Intelligence” Itu “Dipraktekin”.  Buku yang dibawa oleh Indy salah satu peserta Book Club lebih menjelaskan tentang bagaimana mengelola emosi yang cerdas itu dengan cara yang mudah, menyenangkan dan tentu bisa dipelajari bukan hanya teori-teori tetapi yang baik adalah dipraktekin, sesuai dengan judulnya.
 

Indy menjelaskan bagaimana buku ini menjabarkan tentang mood dalam dunia psikologi, mood merupakan keadaan mental seseorang. Seperti yang kita ketahui, mental merupakan kombinasi antara pikiran dan perasaan. Dalam buku ini ditulis “setiap orang merespons suatu kejadian, baik secara objektif maupun sepenuhnya subjektif dan memberi pengaruh pada kondisi mentalnya”. Datangnya mood tertentu tak lain merupakan sebuah respons atas suatu hal, baik yang nyata-nyata terjadi atau yang sifatnya subtil atau halus. Misalnya, ada orang-orang bilang , “Aduh gara-gara pagi ini dikejar anjing, mood saya jadi berantakan. Saya jadi malas ngapa-ngapain” Ada pula yang sifatnya halus, “mood saya mendadak suram gara-gara mendung”.

Dalam Buku yang dibawa Indy tersebut, Indy juga menjelaskan bahwa dalam banyak kasus naaif dan optimis memang sering menyaru, seseorang yang optimis adalah mereka yang :

1. Mengakui dan menerima adanya tantangan

2. Meyakini adanya solusi yang biasa diambil


Sedang, orang naif adalah mereka yang tidak cukup tuntas dalam merespons tantangan, Tidak sungguh paham masalah yang ada dan tidak sungguh yakin akan adanya solusi. Dalam buku ini dijelaskan pula tentang kebahagiaan yang ternyata merupakan prasyarat untuk bisa mengatur emosi. “dijelaskan dalam buku ini bahwa kebahagiaan itu disini dan saat ini adalah tentang menyukuri apa yang selama ini kita anggap sesuatu yang wajar ada dan pantas ada” terang Indy.

 

Itu tadi Urbanesse ulasan singkat Book Club dengan tema “Emotional Intelligence” bagi kamu yang ingin join pada Book Club selanjutnya kamu dapat menginfokan ke kita di nomor whatsaap Urban Women 0815 1725 2504 untuk mendapatkan info jadwal, tempat serta tema Book Club selanjutnya yang akan kita angkat. Untuk Oktober nanti kita angkat mengangkat tema buku tentang “Happiness (Kebahagiaan)”. So, Urbanesse Sampai bertemu di Book Club kita selanjutnya “Let’s be a smart women together”.

 

 

 



Admin Urban Women

No Comments Yet.