Ulasan Seminar Urban Women: REALITY OF MARRIAGE


Monday, 30 Nov -0001


Setelah sebelumnya Urban Women mengadakan seminar dengan Tema Smart Dating , Kali ini Urban women mengadakan seminar ke-3 nya yang diselenggarakan pada 28  September 2015, bertempat di Nutrifood inspiring Center dengan mengambil Tema “Reality Of Marriage”.

Di dalam seminar ini kami menghadirkan 2 Narasumber yang ahli di bidang nya dan 2 Testimony wanita yang berhasil dalam menjalankan pernikahaannya dan yang tidak berhasil dengan pernikahannya tetapi menjadi berhasil dalam kehidupannya, yaitu :

 

  1. Ibu Magdalena Sitorus – Komas Perempuan
  2. Ibu Karlin Albindo – Psikolog
  3. Natalia Sindhikara – Testimony
  4. Rika Purmwita - Testimony

 

Tujuan di adakannya seminar ini karena banyak wanita beranggapan kehidupan tentang pernikahan   :

  1. Akan lebih dekat dengan orang yang dicintai
  2. Akan lebih disayang
  3.  Mempunyai keluarga yang harmonis & bahagia
  4. Semua kebutuhan terpenuhi
  5. “Happily ever after”
  6. Hidup yang lebih baik dibanding kehidupan single

Pernikahan di Indonesia kadang kadang menjadi sebuah kebudaayan. Jika ada kehidupan, ada kematian pasti ada pernikahan, tetapi kadang perempuan menjadi kan pernikahan adalah keharusan Karena adanya tekanan dari lingkungan.


Kenapa Wanita Ingin Menikah

  1. Tekanan masyarakat (umur)
  2. Tekanan keluarga
  3. Cinta
  4. Ingin berkeluarga  

Kalau di lihat dari sisi Ibu Karlin sebagai Psikolog, sebagai perempuan bisa memilih untuk menikah atau tidak menikah, tetapi karena lingkungan kita sering adanya tekanan pada wanita seperti contoh  pada saat acara keluarga ada yang belum menikah, pasti banyak yang bertanya “ Kapan menikah? Sudah umur berapa kok belum menikah? Mana pasangannya?” Nanti kalau sudah menikah akanada lagi pertanyaan “Kapan punya anak? “  tetapi ini bukan hanya jadi sebuah kebudayaan di Indonesia, sebagai manusia dimanapun saja akan seperti itu karena hanya seorang wanita yang bisa melahirkan anak. Oleh karena itu tujuan hidup wanita adalah ke sebuah pernikahan. Tetapi itu juga bukan untuk semua wanita atau semua orang yang mempunyai tujuan menikah dan mempunyai anak.

Dari sisi Ibu Magdalena dari pihak Komnas Perempuan, Perempuan mempunyai hak untuk memilih menikah atau tidak menikah, tapi ada kebiasaan- kebiasaan  yang terjadi di masyarakat seperti nya tidak lengkap kalau perempuan tidak menikah dan juga jadi banyak tekanan untuk si perempuan ini dengan pertanyaan pertanyaan yang seharusnya kita sebagai perempuan juga berkaca apabila di beri pertanyaanitu apakah nyaman? Dan apabila ada perempuan yang memang memilih tidak menikah pasti mereka sudah punya pertimbangan- pertimbangan sendiri secara sadar.  Perempuan juga bukan komoditi seperti barang yang bisa di sebut “waaah belum nikah nikah jangan- jangan tidak laku!

 

Gambaran sebuah pernikahan apakah sangat berbeda dengan  waktu pacaran?
Dan u
ntuk gambaran ideal sebuah pernikahan itu seperti apa?

Komunikasi jangan berlebihan bisa kompetitif bisa berantem, komunikasi jangan saling menjatuhkan harus tetap ada respect

Bayangan dari salah satu peserta seminar  tentang pernikahan adalah ketika sudah menikah berarti kita sudah siap menjadi orang yang lebih matang tanggung jawab lebih besar lagi. Kalau berhasil kita akan menjadi orang yang bahagia dan jadi orang yang lebih baik. Tapi sepeti deposito”.

Dari peserta lainya Karena banyak yang curhat kalau awal awal menikah kenapa tidak dari dulu menikah, menikah itu enak. Tiga kata : pernikahan itu menemukan partner hidup yang saling melengkapi seperti puzzle.

 

Idealnya sebenarnya semua saling bahagia, dunia milik berdua,  hanya saja akan ada tanggung jawab berbeda dengan saat pacaran dan ada pihak keluarga lain yang harus di pikirkan seperti ada mertua, adik atau kakak Ipar.
 

Untuk menuju pernikahan yang ideal ada beberapa yang bisa kita lakukan

  1. Komunikasi harus terjalin dengan baik, dengan cara yang benar seperti : jangan menjatuhkan pasangan cobalah untuk lebih respect terhadap pasangan kita.
  2. Manusia di takdirkan berpasangan, memiliki keluarga menyenangkan. Dengan ada anak kita punya tujuan hidup. Tapi semua itu harus ada kerja keras dari kedua belah pihak. Dan visi misi kita harus sama
  3. Suami istri adalah partner semua keputussan harus di ambil berdua.
  4. Konseling sebelum menikah sudah harus di bicarakan seperti : keuangan siapa yang membayar ini itu, seksual juga sudah harus di bicarakan, hal hal kecil juga harus di bicarakan. Karena nanti suatu saat ada masalah kita sudah punya perjanjian yang sudah di sepakati bersama apakah harus dig anti atau tetap dalam perjanjian itu.

 

Di dalam masyarakat kita, sudah berkembang perempuan harus tunduk :

kalau dari pihak Komnas Perempuan hal itu adalah di budaya yang berkembang dalam lingkukang  kita : perempuan yang baik adalah yang tidak banyak bicara, nrimo, kesuksesan seorang  perempuan secara budaya di lihat sebagai perempuan yang tahan di banting tahan menderita. Tetapi di jaman urban women tidak ada perempuan yang ingin menderita.

Menikah adalah sama seperti jadi seorang manager atau admin itu skill yang harus di lakukan karena banyak yang harus di kerjakan menyiapkan keperluan suami, dan rumah juga banyak yang harus di urus.
 

Adanya Pasangan menjadi Mami Boy ?

Sulit nya pasangan kita kalau dia jadi mamiBoy. Menujukkan cintanya mengikuti standart pemikiran mamanya, tetapi tidak melihat ada pihak yang terganggu.

Untuk merubah atau memberitahukan ke pasangan  bahwa Ada batas-batas yang tidak bisa di masukki oleh mertua, sangat sulit dan bertahap. Tergantung pilihan dari si Wanita apakah bisa dengan sabar untuk menerima perlakuan tersebut sampai pasangannya dapat mengerti.
 

Ada hal-hal yang mudah diubah dan ada yang susah untuk diubah, semua rujukan dan standarnya seperti mamanya

  1. Kalau sudah bawaan orok akan susah di rubah. Kecuali pasangan itu dapat berdialog bersama atau dengan orang ke tiga.
  2. tidak cepat menghakimi pasangan , pelan pelan di komunikasikan sampai dia paham atau menemukan kalau itu menganggu dan menyakiti istrinya.

Di budaya kita perempuan tidak boleh melebihi si pasangannya. Karena berfikir sudah sama sama tahu jadi tidak ada lagi yang harus di komunikasikan. Seharusnya tetap ada yang harus di komunikasikan baik masalah financial, Seksual, karir.

Bisa juga laki laki itu adalah menjadi korbanterperangkap dalam budaya di besarkan seperti anak laki laki tidak boleh menangis, anak laki laki harus jadi kepala keluarga, laki laki harus jadi nomer One. Dan mereka sulit sekali membebaskan dari budaya itu, ketika si istri jadi lebih dari suami. Suami merasa jadi tidak berharga jadi minder. 

Ada persoalan seksual yang tidak naik kepermukaan tetapi yang naik adalah hal hal seperi ekonomi dll

Kalau ternyata masalah nya seksual apakah pasangan itu sadar akan masalah itu?,  ada yang sadar ada yang tidak tetapi karena itu adalah sebuah hal yang tabu di ungkap maka tidak terungkap.
 

Kunci sebuah pernikahan adalah Komunikasi. Apresiasikan semua yang pasangan kita lakukan dengan cara mengkomunikasikan. Kalau ketika ada masalah yang sudah tidak dapat di komunikasikan labih baik cari orang ke tiga yang bukan keluarga agar lebih objektif semua saran atau masukan.

Komunikasi untuk yang sudah menikah adalah menjadi sebuah komitment setiap hari harus ada yang di komunikasikan jangan menjadi tidak mau tahu. Kita harus tahu hari ini suami kita ngapain aja dan sebaiknya.

Komunikasi untuk yang sudah bercerai dapat di lakukan? Yang tetap harus di komunikasikan adalah semua yang berhubungan dengan Anak karena perceraian sangat berat bagi anak.  Tetap anak harus di ajak untuk berkomunikasi tentang orang tuanya yang sudah bercerai agar mengerti dan besarkan hati nya kalau semua akan tetap bertemu orang tuanya dan kasih sayang tidak akan berkurang.

Sebuah pernikahan harus membuat kita bahagia karena bahagia itu menular ke keluarga  ketika kita tidak bahagia maka keluarga kita akan menjadi tidak bahagia. Dan usahakan jangan mati sebagai pribadi, janagn mati di sebuah pernikahan. Tapi apabila ada sebuah konflik apa yang harus di lakukan dan berdamai dengan itu.

Semua harus di pikirkan matang matang dan itu yang terbaik untuk kita, kalau kita mati dalam pribadi maka pernikahan itu akan mati juga. Pernikahan itu bukan tujuan akhir tapi sebuah perjalanan yang akan kita mulai bersama dengan pasangan kita.
 


Apakah
living together dapat membantu agar pernikahan baik nantinya ?

Living together tidak di sarankan, karena tidakmembantu untuk sebuah pernikahan nantinya akan lebih baik. Untuk apa memberikan semuanya apabila tidak ada komitment jelas. Lebih baik travel bersama tetapi tidak satu kamar karena nanti akhirnya akan timbul free seks. Karena wanita apabila sudah memberikan semua nya untuk pasangan yang akan rugi adalah kita para wanita.
 

Bagaimana caranya menjaga komunikasi tetap hangat.

 Asal dasarnya tetap percaya. Kita harus tahu bagaimana cara pasangan kita berkomunikasi karena pasangan kita adalah orang yang berbeda. Maka usahakan untuk selalu mencari titik tengah.

Lima tahun pertama perkawinan ada kalanya perasaan bosan dan banyak sekali cobaan. Akan ada fase- fasenya akan muncul, makam elatih berdialog terbuka dengan di imbagi kepercayaan penuh kepada pasangan akan mengurangi adanya konflik.

 

Jadi Reality Of Marriage tidak seperti cerita di dongeng – dongeng yang hanya bahagia nya saja. Ada banyak hal yang harus di urus, di bicarakan, dan saling mengerti.  Butuh kedewasaan dalam mengambil keputusan dalam pernikahan



Admin Urban Women

No Comments Yet.