Tulus Boleh, Bodoh Jangan


Monday, 30 Nov -0001


Mengapa kita sulit berbagi dengan tulus ? Pertanyaan ini juga kerap kali saya lontarkan dalam benak. Saya akan cerita sedikit pengalaman saya tentang berbagi kasih sayang dengan tulus pada seseorang namun, cenderung malah dimanfaatkan atau disalahgunakan oleh orang tersebut. Well...Saya memang termasuk tipikal orang yang tidak enakan (tidak enak menolak, tidak enak berkata tidak, mudah sekali iba) makanya pengalaman saya kerap diperalat oleh mereka yang datang dan pergi semaunya ketika mereka sedang “membutuhkan” saya.

 

Tidak heran ketika masih usia 20an saya beberapa kali dikecewakan dengan laki-laki yang motifnya sama dalam mendekati saya, yaitu dengan cara mengambil hati dan sifat saya yang tidak enakan. Dari mulai berpacaran dengan laki-laki yang hanya memanfaatkan waktu kosong saya untuk membantunya mengerjakan semua tugas makalah kuliahnya hingga ditinggal menikah setelah di bohongi habis-habisan ketika saya sudah membantunya. Mungkin Karena ketika itu saya masih berpikir, tulus saja dulu.. toh  memberi tidak harus menerima. Ternyata pemikiran saya saat itu terlalu naif dan malah mengecewakan saya sendiri.

 

Tepatnya 11 tahun yang lalu, saya menjalin hubungan dengan pria 2 tahun lebih tua di atas saya. Saat itu saya kuliah sambil bekerja, hampir tiap minggu saya selalu memberi pasangan saya itu uang (maksud hati bekal untuk dia makan dan bayar kos-an) pernah satu waktu dia meminjam uang ke saya yang katanya akan digunakan untuk tambahan modal usaha penjualan pulsa, walaupun pada saat itu saya juga belum gajian di kantor tapi karena dia pacar saya dan memintanya dengan caranya yang membuat saya tidak enak menolak dan iba akhirnya saya putuskan untuk cashbon dikantor. Singkat cerita setelah dia memanfaatkan ketulusan kasih sayang saya ke dia, diapun pergi meninggalkan saya dan menikah dengan orang lain.  

 

Setelah kejadian tersebut saya mulai memanage ulang cara berpikir saya tentang memberi dengan tulus, khususnya dalam menerjemahkan kasih sayang dengan tulus ke pasangan. Bukan berarti saya jadi tidak lagi tulus dalam memberi. Namun saya mulai untuk lebih hati-hati. Yang mungkin awalnya baik namun karena melihat diri saya yang tidak enakkan jadi membuat mereka rentan untuk dirasuki motif lain didalamnya dan saya harus dengan bijak mampu membaca mereka dan memfilternya mana yang tulus mana yang hanya opportunist (mengambil keuntungan dari hubungan dengan saya). Mampu menempatkan diri saya dengan tegas kapan saya harus iba, kapan saya harus menolak dan kapan saya harus berkata iya.

 

Sebelas tahun berlalu dari kisah cinta yang penuh dengan kekecewaan tersebut,  kini saya sudah menikah. Kata orang Tuhan itu Imbang...dia tidak pernah bimbang dalam membagi berkat ke hambanya. Saat ini saya memiliki pasangan yang memiliki karakter “tidak enakkan” seperti saya namun bedanya dengan saya, pasangan saya itu walaupun tidak enakkan tetapi dia memiliki radar yang bisa dia atur On Off nya kapan saatnya dia harus iba, kapan saatnya dia harus menolak dan kapan saatnya dia harus berkata Iya, yang saya masih belum kepikiran adalah pasangan saya bisa mengetahui karakteristik orang per orang yang dia lihat cukup dari wajah dan gestur.

 

Ketika kami masih pacaran dia pernah mengatakan “kamu itu perempuan yang tulus tapi polos apa aja senangnya ngasih apapun yang bisa kamu kasih, meskipun dengan orang yang baru kenal bahkan jahat tapi kamu nggak pernah tahu niat mereka, kalau kamu dipertemukan dengan cowok baik awalnya, dia jadi bisa berniat buruk untuk memanfaatkan kamu karena kepolosan yang kamu buat sendiri. Nggak baik seperti itu kamu harus bisa mengubahnya tulus boleh, bodoh jangan”. Katanya. Mmmm...benar juga, dulu ketika saya beberapa kali ditipu dengan laki-laki itu karena saya keliru menterjemahkan “Berbagi kasih sayang yang tulus itu dengan cara polos hingga saya tidak bisa membaca karakter laki-laki yang sedang mendekati saya sampai akhirnya harus tertipu dan dimanfaatkan”

 

Suami saya termasuk orang yang senang memberi tumpangan tempat tinggal pada teman-temannya yang datang  dari desa dan merantau ke Jakarta, saya sempat khawatir takut kalau-kalau suami saya dimanfaatkan oleh teman-temannya. Tapi ternyata dia sudah punya alasan tersendiri mengapa membantu mereka. Suami saya tidak sungkan berbagi makanan yang saya masak, ke temannya yang menginap di kontrakan kami. Dia mengatakan “saya tahu rasanya hidup di perantauan seorang diri tanpa teman yang mempedulikan dan yang tidak mau berbagi itu tidak enak rasanya, jadi sekarang ketika kita punya meki kita sendiri masi menyewa tempat tinggal, tidak ada salahnya kita bagi apa yang kita bisa bagi karena berbagi itu tidak harus dengan uang toh”. Jangan berpikir macam-macam katanya, saya lihat mereka makan dengan lahap suami saya pun jadi terlihat bahagia dan semangat ketika makan dengan teman-temannya tidak seberapa memang makanannya hanya nasi, sayur asam, tempe, sambal dan ikan asin yang saya masak untuk teman suami saya.

 

Memang di antara teman-teman satu kampungnya hanya suami saya yang terbilang lumayan dari segi pekerjaan dan latar belakang pendidikannya. Kami bersyukur atas hal itu, maka saya selalu mendukungnya ketika dia mau berbagi dengan teman-teman seperjuangannya dulu ketika dia masih dalam kondisi sulit. Suami saya tidak pernah memilih-milih ketika berteman. Baik dengan yang berpendidikan tinggi maupun yang tidak memiliki pendidikan tinggi, hanya saja dia bisa memilih dan melihat mana sifat temannya yang tidak baik seperti opportunist (hanya mengambil keuntungan dari orang lain/sifat memanfaatkan orang lain untuk keuntungannya sendiri) dan mana yang benar-benar tulus (ada saat dibutuhkan dan tidak pergi ketika suami saya sedang kesusahan). Berbeda dengan saya yang tidak bisa membaca perangai orang lain (mana yang tulus dan mana yang hanya memanfaatkan saja).

 

Bahkan satu waktu pernah beberapa kali ada temannya yang mungkin tahu kalau saya dan suami termasuk pasangan yang tidak enakan, senang memberi dan mudah iba, temannya  tersebut meminjam uang pada saya, berhubung dia teman dekat suami saya, sayapun langsung meminjamkannya uang. Namun hingga saat ini belum dibayarnya. Dia mengatakan uang yang dipinjamnya itu untuk biaya berobat anaknya, ternyata setelah 3 hari dia pinjam uang ke saya kami mendapati dia memiliki handphone baru. Dari situ suami saya langsung berpikir untuk tidak lagi mempercayai dia cukup 1 kali dibohongi dan itu dijadikannya pelajaran untuk lebih cerdas lagi dalam membantu orang lain. 

 

 

Beberapa waktu lalu temannya tersebut coba meminjam lagi uang ke suami saya, padahal pinjaman sebelumnya belum dia bayar ke saya dengan alasan belum ada uang dari bisnisnya yang masuk. Alhasil suami saya pun memutus semua komunikasi ke dia dan mengatakan untuk menjaga jarak hubungan serta tidak mau lagi berteman dengan orang tersebut.  Dia sangat reaktif terhadap tindakan temannya yang sudah coba memanfaatkan kami. Saya belajar dari suami saya untuk lebih tegas dalam berteman dengan mereka yang hanya memanfaatkan  saja, harus mampu membedakan mana yang tulus dan mana yang hanya memanfaatkan kebaikan kita. Suami saya mengatakan “Ada saatnya di mana kita tulus memberi ke mereka dan ada saatnya kita melakukan tindakan represif dan reaktif spontan untuk menjauhi orang tersebut yang sudah memanfaatkan ketulusan kita”. Awalnya saya menganggap suami saya terlalu sadis dia memutuskan hubungan perkawanannya ketika dia sudah mendapati dimanfaatkan oleh sahabatnya sendiri tapi setelah saya tahu alasannya untuk menyadarkan orang tersebut agar tidak memanfaatkan orang lain dan juga menjauhi kelurganya dari orang-orang yang bersikap opportunist.

Mmm
...Saya rasa itu lebih fair ketimbang kita terima-terima saja untuk tetap berteman atau berhubungan dengan seseorang yang sudah memperalat perkawanan atau hubungan dengan kita. “Pasangan saya membibit saya bertumbuh menjadi perempuan yang lebih cerdas dan tulus dalam berbagi namun tidak polos, Polos pun tetap tulus namun tidak bodoh, itu intinya.

So, Urbanesse..Yuuk kita sama-sama menjadi pribadi yang cerdas dalam berbagi.



Libra

No Comments Yet.