Tua Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan


Monday, 30 Nov -0001


Baru saja di facebook saya mendapat notifikasi status memorable daily yang pernah saya update dulu pada tahun 2011. Kurang lebih tulisan statusnya seperti ini “Kita tidak akan pernah tahu kemampuan kita sebelum kita mencoba dan bila gagal coba lagi..gagal coba lagi. Karena disitulah kita belajar lewati proses mematangkan kedewasaan diri. Jangan dikeluhkan, kita akan tahu manfaatnya nanti di hari depan”. Membaca status facebook tersebut saya mengingat-ingat lagi kejadian demi kejadian yang saya alami dalam hidup, beberapa cerita saya sudah pernah share di di Urban Women dan siapa sangka ternyata kejadian tidak mengenakan zaman dulu adalah titik balik dimana saya bisa bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan dewasa dari sebelumnya.
 

Di usia saya yang terbilang tidak lagi muda juga belum terlalu tua banget heeheee saya mengalami proses demi proses menuju yang dinamakan “mendewasakan diri”. Pada masa kuliah saya terbilang mahasiswi yang tidak terlalu gaul, ada kelas datang kekampus kalau nggak ada kelas ya sudah dirumah aja. Setiap beres ngampus saya jarang ngumpul dengan teman-teman karena  pada saat itu saya kuliah nyambi freelance mengajar bimbel untuk anak-anak SD dan SMP di sebuah lembaga bimbingan belajar anak di daerah Jakarta Timur, jadi waktu main saya dengan teman-teman kuliah harus tersisihkan.
 

Maklum saya anak pertama di keluarga, saat itu adik-adik saya masih kecil-kecil jadi lah saya harus membantu Ibu Bapak mencari uang untuk tambahan membiayai kebutuhan kuliah saya sendiri. Sedih? iya saya rasakan saat itu, saya mikir kok yaa teman-teman saya dikampus masih bisa jalan-jalan di mall buat belanja, nonton film terbaru di bioskop, pacaran, gonta ganti ponsel maupun motor terbaru yang dibawa kekampus  dan kongkow hingga berjam-jam di kantin kampus. Sedangkan saya nggak ada waktu untuk itu, sekalinya punya pacar pada saat kuliah cuma di manfaatin aja (waktu, tenaga dan uang saya) setelah itu boro-boro dinikahin. Selepas lulus kuliah dengan mendapatkan predikat nilai terbaik di kampus saya pun bersyukur dan berpikir lagi. Mungkin ini yang dinamakan buah dari kesabaran dan kerja keras melewati proses demi proses di masa kuliah tersebut.
 

Ternyata tidak sampai di situ proses mencapai kedewasaan selepas beres kuliah S1, saya harus menjabat predikat Job Seeker melamar kerja kesana kesini, apply sana aplly sini. Nyasar-nyasar ke kantor orang hanya untuk bekerja hingga hampir ditipu oleh persahaan pencari kerja abal-abal. Berbekal Ijasah S1 Jurusan Ilmu Jurnalistik Saat itu saya selalu berangan-angan bisa bekerja di kantor majalah ternama sebagai Junior Editor, Reporter atau hanya sekedar jadi resepsionis di salah satu televisi swasta di Jakarta dengan harapan sebagai batu loncatan setidaknya ada nama lah ketika Bapak saya ada yang tanya “kerja dimana anaknya, Ooo.. kerja di stasiun televisi swasta” padahal sebagai resepsionis bukan sebagai tim program TV heeheee.
 

Tapi itu hanya angan-angan, pada kenyataannya mencari kerja pada saat itu sulit sekali. Namanya anak pertama pasti sangat diandalkan dan menjadi harapan bagi orang tua agar bisa cepat-cepat bekerja setelah lulus kuliah. Sempat malu dengan Ibu Bapak saya, kok ya udah segede ini masih aja bergantung sama orang tua, sampai mikir “aduuuhh kapan ya bisa kerja agar setidaknya membuat mereka senang dengan mencicipi uang dari hasil keringat saya bekerja kantoran, jerih payah kuliah 4 tahun”.
 

Meski begitu masih untung deh ya tidak butuh waktu lama merasakan Jobless, 3 bulan berikutnya sayapun mendapat pekerjaan, yaaa...biarpun harus meniti karir pertama setelah lulus kuliah hanya sebagai staf administrasi di salah satu lembaga non profit yang gaji awalnya minim, tapi saya tidak pesimis dan terus semangat, hingga hampir 8 tahun saya bekerja dikantor tersebut. Meski dalam perjalanannya tidak mudah bisa tahan bekerja di kantor tersebut banyak hal yang menyakitkan selama bekerja dari mulai bully, fitnah, ejekan hingga konflik yang dibuat-buat oleh rekan kerja yang tidak jelas. Namun, setelah saya sadari sekarang, ternyata perjalanan getir semasa masih bekerja di kantor tersebut kini membuat saya menjadi yang lebih kuat.
 

Sekarang saya sudah meninggalkan pekerjaan saya di kantor terdahulu, kini saya bekerja di kantor baru dengan suasana dan teman-teman baru. Dikantor saya yang baru ini Saya jadi lebih menghargai pekerjaan saya sendiri maupun pekerjaan orang lain. Karena saya tahu rasanya tidak dihargai dalam bekerja itu sangat tidak enak, Saya jadi lebih berpikir positif dalam melihat segala sesuatu, tidak mau menyepelekan waktu saatnya kerja, ya kerja saatnya istirahat, ya istirahat. Saatnya ngobrol ya ngobrol seperlunya saja.
 

Walau saya tahu “Di manapun saya bekerja, pasti akan ada terus saya temui orang-orang yang tidak satu pemikiran dengan saya, pasti akan terus ada rintangan dari orang-orang yang iri dan tidak menyukai saya entah apapun alasannya itu”.  Namun, sebagai manusia yang memiliki Tuhan saya tidak boleh lemah. Tuhan selalu ada di dekat saya dalam keadaan susah maupun senang, Karena hidup saya hari ini adalah bergantung padaNya. Saya juga selalu ingat pesan  Ibu yang mengatakan “Biarkan mereka seperti itu, kita jangan lakukan seperti yang mereka lakukan. Tetap bekerja saja dan berbuat baik pada mereka, Tidak perlu membalas. Tuhan akan memberikan jalannya”


Well...
Proses mencapai kedewasaan yang matang itu memang tidak akan pernah ada ujungnya Ladies. Selama Tuhan masih memberikan kita nafas, kita akan terus dipertemukan dengan hal-hal dan orang-orang yang membuat  kita gagal, sakit dan kecewa. Namun, dari banyaknya hal yang tidak mengenakan dan dari mereka yang mengecewakan itulah kita bertumbuh seperti batang pohon yang menjalar untuk menjadi pribadi yang tidak sempurna namun jauh lebih baik dan kuat dari sebelumnya.

Nggak kebayang jika seandainya dulu saya tidak dihadapkan dengan beragam hal yang menyakitkan dan dipertemukan dengan orang-orang yang mengecewakan mungkin hidup saya tidak akan ada cerita yang mampu memberikan motivasi dan semangat untuk diri saya sendiri. Nggak kebayang juga jika seandainya masa-masa kuliah saya habiskan untuk hura-hura, tanpa nyambi bekerja pasti saya bakal menjadi pribadi yang tidak akan pernah belajar menghargai waktu, tidak akan pernah bersyukur, merasakan pengalaman yang flat dan enak-enak aja tanpa tahu rasanya berjuang dan bekerja keras.

 

Saya bersyukur pernah melewati proses tersebut. Saya tidak menyebut diri saya sudah dewasa namun, saya sudah melewati proses mencapai tahap mendewasakan diri saya dari situasi yang menurut saya pahit dan mengecewakan di masa nya dan menjadikan saya pribadi yang lebih baik dalam memandang hidup dari sebelumnya. Jadi, jika ditanya menjadi dewasa yang matang itu seperti apa, saya akan menjawab “Menjadi dewasa yang matang adalah seperti sebuah pohon besar yang akan terus dan terus bertumbuh meski hujan, petir dan angin menghantam tetap kokoh berdiri dan tumbuh menjadi batang-batang pohon baru yang lebih kuat pastinya”. Karena menjadi Pribadi Dewasa itu kita lah yang memilih. 



Libra

No Comments Yet.