To Love (and Unlove) is a DECISION


Monday, 30 Nov -0001


Hello, nama saya Priscilla.

 

Saya keturunan Manado. Tinggal di Jakarta. Anak ke 3 dari 4 bersaudara.  Dalam keseharian saya, saya mempunyai banyak teman dan sanak saudara, sehingga buat saya kumpul-kumpul dan hangout itu sesuatu yang sangat biasa. Kebetulan saya orangnya juga cukup supel jadi cukup mudah buat saya untuk menambah teman. Beberapa teman juga mengatakan bahwa penampilan saya seperti blasteran. Jadi lumayanlah untuk modal bergaul di kota Jakarta ini.

 

Nah diawal tahun 2014, saya menemani papa kerumah saudaranya. Tadinya saya sudah males, tapi apa mau dikata papa tetap memaksa ditemani. Rumah om dipenuhi banyak orang karena om memang terbiasa menerima tamu-tamu baik lokal maupun asing dirumahnya. Salah satu dari tamu itu adalah teman om saat berbisnis di Brazil. Sebut saja Michael.

 

 

Pertama Kali Bertemu

Saya bertemu Michael pertama kali ketika saya baru saja keluar dari toilet. Upps kita hampir bertabrakan karena saya tidak berpikir diluar toilet ada orang dan juga sepertinya dia tidak menyangka di dalam toilet ada saya. Michael itu berbadan besar, senyum manis, layaknya pria baik-baik,  sedikit malu-malu, ganteng, dan mempunyai tinggi badan 196cm. Sedangkan saya ini dibawah 170. Kebayangkan bagaimana kagetnya saya ketika hampir bertabrakan dengan dia?

 

Walau dia ganteng tapi dia itu bukan tipe gantengnya saya jadi ya saya biasa-biasa saja. Tapi saya sadar dia terus menerus menengok ke saya dan berusaha untuk berbicara lebih dengan saya. Dari pembicaraan sekilas kita sama-sama tahu bahwa kita akan berada di Bali di waktu yang hampir bersamaan. Paling selang 1 minggu.


Karena saya tidak tertarik habis pertemuan itu saya tidak ingat lagi dengan Michael. Apalagi teman saya yang bule banyak.

 


Ini Artinya Apa Sih?

Dua minggu berselang sampailah saya di Bali. Lalu om saya yang juga teman Michael itu tiba-tiba menghubungi saya dan mengajak bertemu. Well namanya juga keluarga, ya akhirnya saya janjian bertemu. Oh la la, ada si Michael lagi. Tapi kali ini ada surprise manis, Michael datang dengan temannya Paulo dan nah Paulo ini hot banget. So my type! Yes!

 

Hari ke dua, ketiga, dan seterusnya saya hangout dengan Michael dan Paulo dan hangoutnya cukup menarik ya karena ada Paulo itu. Saya bahkan sempat dicium! Tidak bertepuk sebelah tangan. Hari terakhir saya di Bali Michael mengajak bertemu di restaurant mama saya. Saya bilang saya tidak tahu kapan balik restaurant dan Michael bilang dia bersedia menunggu. OK.


Begitu kita bertemu, selang 3 jam dari waktu kita teleponan, dia memberikan CD berisi lagu Brazil dan dia bilang itu isi hati dia. Loh saya bingung, ini ada apa sih. Tapi yah mendengarkan musik tidak ada salahnya karena saya juga suka. Iseng-iseng saya dengarkan enak juga, lalu saya coba terjemahkan sedikit-sedikit. Ohhh wow, lagunya romantis sekali dan dalam lagunya itu disenandungkan bahwa wanita yang dilihatnya bagaikan peri ditengah sinar matahari pagi dll. Pokoknya sosok wanita yang sempurna dan sangat ditunggu-tunggu.


Saya langsung tanya ke Michael, ini artinya apa sih?

Karena saya sama sekali tidak mempunyai rasa spesial dan saya juga tidak tahu dia mepunyai perasaan apa terhadap saya. Dia bilang ini perasaan dia sejak pertama kali melihat saya keluar toilet dirumah om saya. Saya tertegun sejenak. Oh ya? Well karena saya tidak mempunyai perasaan yang sama saya hanya bilang terima kasih.


Ternyata dari Brazil dia rajin menghubungi saya. Kadang saya balas, kadang tidak. Tapi dia selalu konsisten. Dalam jangka waktu 6 bulan dia ada trip lagi ke Jakarta. Dia juga sempat menceritakan bagaimana kecewanya dia ketika hangout di Bali dan saya memperlakukan dia biasa sekali. Beda dengan perlakuan saya kepada Paulo. Mmm mau bilang apa ya? Namanya suka kan tidak bisa dipaksakan.

 

 

Berjalannya Waktu….Luluh

Di Jakarta kita bertemu lagi sambil ngopi-ngopi dan dia kembali menyatakan bahwa dia mempunyai perasaan yang sama dengan perasaan dikunjungan pertama kalinya. Kebetulan saya lagi capek dengan begitu banyak pria yang tidak bertanggungjawab dan serius, jadi saya blak-blakan saja mengatakan bahwa saya mencari sosok pria yang serius.. Lalu dia menanyakan apa kriteria saya dalam mencari laki-laki serius itu.


Ya saya bilang, selama ini saya mendoakan lelaki yang ganteng, pekerja keras, kaya, tidak pelit, cinta keluarga dan Tuhan.

 

Lalu dengan serius dan pedenya dia menjawab. Kemungkinan besar dialah jawaban doasaya karena dia bisa memenuhi semua kriteria itu dan memang tujuan dia adalah menikahi saya. Setelah saya telaah ada benarnya juga, cuma ya itu tadi sayangnya gantengnya dia bukan tipe saya dan saya tidak mempunyai banyak chemistry dengan dia. Tapi…. Di lain pihak saya memang mendambakan sosok cowo yang bisa diajak serius.

 

Akhir kata saya mengiyakan untuk menjalani hubungan ini. Dia benar memukau dan benar-benar mencuri hati saya. Bagaimana tidak? Dia selalu bisa skype dimanapun dia berada. Setiap kita berbincang-bincang dia selalu membahas rencana masa depan dia bersamaku dan yang sangat menyentuh hatiku dia benar-benar menjual salah satu perusahaannya untuk menjadi modal bisnis di Bali. Berapa laki-laki sih kalau tidak niat serius akan melakukan hal ini? Hatiku juga dengan berjalannya waktu….luluh, dan jujur saya bukan wanita yang mudah luluh karena saya sangat berhati hati. Jadi kalau saya sampai luluh itu “sesuatu banget”.

 

Belum lagi dia menawarkan untuk membiayai dana-dana pembukaan café saya di Bali. Dia bilang karena kita akan bersama uang dia juga akhirnya akan dipakai bersama.How sweet. Tapi memang saya menolak memakai uangnya. Ya saya merasa risih saja karenakan status dia masih pacar, bukan suami.

 

 

kalau ini memang jodoh saya, tolong kami dibuat lebih dekat, dan jika tidak tolong kami dijauhkan...

Karena relationship ini indah saya lalu meminta restu kepada Tuhan. Dalam doa saya, saya katakan, kalau ini memang jodoh saya, tolong kami dibuat lebih dekat, dan jika tidak tolong kami dijauhkan. Saya ingat saya doakan ini 2 bulan sebelum kunjungan dia berikutnya ke Indonesia.

 

Duh! Baru saja beberapa hari saya doakan tiba-tiba pesan pesan saya ke Michael tidak dijawab selama 3 hari. Aneh….ini benar-benar bukan dia yang biasanya. Lalu dia bilang HP-nya hilang dan akhirnya dia mengemail dengan wifi hotel memakai laptop. Tapikan kalau memakai laptop tetap bisa skype. Bukannya dia biasa kangen melihat wajah saya? Firasat saya langsung memburuk.

 

Setelah 3 hari “special” itu kita tetap berkomunikasi tapi kedekatan komunikasi kita mulai berubah. Tidak tahu saya yang sensitif atau dia juga berubah. Lalu surprisenya, seperti sudah jalan dari Tuhan, 2 minggu sebelum dia datang ke Jakarta teman baik saya menyodorkan foto-foto Michael bersama wanita Brazil lainnya dan tanggal didalam foto itu adalah tanggal dimana dia menghilang selama 3 hari itu!

 

Wanita di dalam foto itu adalah mantan pacar Michael. Mereka terlihat sangat mesra. Hatiku hancur berkeping-keping. Sedih karena semua rencana-rencana masa depan kita buyar, dan kecewa sekali bahwa dengan mudahnya dia berselingkuh. Lebih parahnya lagi dia berbohong besar untuk menutupi 3 hari  itu. Padahal saya sudah memberikan yang terbaik dalam relationship ini. I give my best. Saya sudah bertekad akan berada disamping Michael dalam suka dan duka dalam pernikahan saya nantinya bersama dia. Tapi tentunya tidak dalam kondisi ini….

 


"satu-satunya..."

Dia adalah satu-satunya laki-laki yang bisa membuat saya percaya lagi akan janji pernikahan. Satu-satunya yang saya berikan kesempatan masuk ke dalam hati saya yang sudah lama vakum ini dan satu-satunya yang saya andalkan sebagai pria ganteng namun baik dan terhormat. Kata satu-satunyasekarang seperti kapas tertiup angin sepoi-sepoi, hanyut begitu saja……tanpa bobot dan tanpa makna….

 

Beberapa hari berselang dan mendaratlah Michael di Jakarta. Ini pesan yang dia terima dari saya begitu mendarat.‘I know everything about the girl. Just simply don’t lie to me. I cannot accept this”

 

Dia memberikan banyak alasan yang sebenarnya menurut saya mengada-ada tapi karena hati saya juga masih cinta, saya temani dia selama 1 bulan di Bali mengurus pekerjaannya. Tapi dengan berjalannya waktu, kita bukan makin harmonis. Perasaan saya menjadi semakin hampa. Hampa karena dirudung kekecewaaan dan baying-bayang pengkhianatan itu tadi. Pada saat yang sama keluarga saya juga sedang mempunyai masalah besar.

 

Juga terbukti, kalau dia mengatakan dia tidak akan melepaskan saya, tapi selepas dia kembali ke Brazil, dia berusaha menghubungi saya dan begitu saya jawab 1-2 kali dengan perasaan dingin, dia pun berhenti menghubungi saya. Apa iya orang yang serius akan benar-benar berhenti berusaha hanya karena jawaban yang dingin?

 

 

Kata "Harus"

Cinta, kecewa, benci, dan pahit bercampur satu. Tapi akhirnya saya mengatakan kepada diri saya. Walau saya tidak bisa melupakan dia saya harus belajar melupakan.

 

Ternyata kata “harus” itu kunci dan sejak saya mengatakan saya harus. Saya bisa:

  1. Sedih namun tidak berkepanjangan
  2. Menerima kenyataan ini dengan baik
  3. Tidak melakukan pelampiasan2 yang tidak sehat
  4. Bisa menaruh semua ini sebagai masa lalu.

 

Lalu saya malah bangga dengan kejadian ini, ternyata:

 

  1. Saya lebih kuat dari yang saya bayangkan.
  2. Saya bisa perpegang pada prinsip yang benar diatas perasaan cinta saya.
  3. Terbukti “dia akan berusaha mati matian buat saya”  itu hanya isapan jempol.
  4. Saya berani membuka hati namun saya juga berani mengatakan stop terhadap perasaan saya jika memang mengikuti perasaan akan membawa dampak negatif pada hidup saya.

 

Saya bangga akan diri saya serta keputusan yang saya buat! Saya sadar saya sekarang sudah dewasa. Berbeda dengan Priscilla yang dulu. Untung ada kejadian ini, jadi saya bisa mengukur kedewasaan saya dan kekuatan mental serta emosi saya. Saya sudah tidak takut lagi membuka hati saya untuk kedepannya, namun tentunya, untuk orang yang tepat.

 

 

“It is a wise & smart decision not just an abrupt decision driven by momentary sentiments”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Priscilla

No Comments Yet.