To Love Or To Fight?


Monday, 30 Nov -0001


To love or to fight, it’s all your call. I prefer, to love.

“Love doesn’t make the world go round. Love is what makes the ride worthwhile.”

-Franklin P. Jones

Dalam setiap hubungan, baik persahabatan, persaudaraan, ataupun pernikahan bisa dipastikan akan selalu ada percikan-percikan. Dalam takaran wajar tentu resiko bahayanya tidak seberapa. Namun jika takaran wajar yang sedikit itu kemudian perlahan lahan menjadi tumpukan, akibatnya bisa seperti api dalam sekam, meledak ketika sudah tak lagi mampu dibendung.

Saya yang memiliki karakter dominan memang tidak pernah takut berkonflik. Saya juga tak gentar ketika harus berseberangan arah dalam hal pendapat atau tindakan. Tapi ketika saya sudah berada dalam kehidupan pernikahan, dengan sendirinya saya berusaha mengurangi sikap saya ini. Saya belajar untuk tidak meributkan hal-hal kecil dan fokus melihat hal-hal positif di sekitar saya. Namun adakalanya ketika sumbu emosi saya begitu pendek karena berbagai tekanan di dalam dan luar rumah. Sesuatu yang sebenarnya masih bisa saya tahan jika saja pasangan saya peka pada ‘perasaan’ saya pada saat itu. Dan ketika ia menarik pemicunya, maka semua kekesalan yang sedang saya tekan perlahan-lahan mulai berhamburan. Saya marah sejadi-jadinya. Dan tidak seperti marah-marah saya sebelumnya, kali ini bahkan saya tidak bisa membayangkan hal-hal baik lainnya.

Apa yang saya alami, hanya sedikit dari banyak pertengkaran semua orang di muka bumi ini. Melalui media, kita menyaksikan betapa suami istri yang tengah dalam proses cerai saling melempar komentar terlebih sang suami juga dengan entengnya membawa-bawa perempuan lain. Tidak hanya itu, remaja ABG bisa dengan santainya membunuh sahabat mereka sendiri hanya karena alasan-alasan tidak masuk akal, dan menghabisi nyawa anak tunggal tersebut. Seorang ibu bahkan bisa menenggelamkan anak bungsunya yang berusia 2 tahun kedalam tong air, setelah percobaan awal pada anak sulungnya gagal. Di jalanan, hal sekecil apapun bisa membuat orang saling bunuh. Mental yang sakit, hanya itu jawabannya. Dan ketika mental seseorang sakit, ia akan selalu menyakiti perasaan orang yang memiliki hubungan apapun dengannya.

Tapi bukankah hidup kita terlalu singkat untuk dihabiskan hanya untuk saling menyakiti. Bahkan sering kali kita baru menyadari makna seseorang ketika mereka sudah tidak lagi bersama kita. Dan ketika kita menyadarinya, mereka tak lagi bisa kembali bersama kita. Dan pada akhirnya, kita hanya bisa menyesali tentang pilihan yang telah kita ambil. Bahwa kita seharusnya bisa hidup berdampingan dalam damai dan bahagia dengan orang-orang di sekeliling kita, daripada hanya bertengkar dan menyakiti mereka. Penyesalan yang akan sering kali membawa kita jauh dari kedamaian.

Meski menyadari bahwa apa yang saya lakukan sangat tidak pantas untuk dilakukan terhadap pasangan yang telah memberikan hidupnya untuk saya, butuh waktu bagi saya untuk mundur dan meredakan amarah saya. Saya harus mengingat lagi apa artinya kebersamaan kami dan berbagai ujian yang telah kami tempuh untuk memperjuangkannya. Namun dalam keadaan sama-sama tertekan sangat sulit menundukkan emosi, apalagi ketika pasangan saya juga terpancing dengan keadaan. Keadaannya menjadi cukup chaos untuk kami berdua.

Itu adalah pertengkaran paling lama yang pernah kami alami setelah menikah. Pulang ke rumah dan mengurus diri masing-masing sampai tidur dalam diam. Namun keesokan paginya setelah saya bangun, saya melihat wajah pasangan saya. Lelap dan damai dalam tidurnya. Kenapa saya tidak bisa menahan sedikit saja perasaan saya? Kenapa saya harus memancing dan mengungkit semua hal tidak penting di masa lalu? Kenapa saya harus marah-marah? Pagi yang kami lalui hari itu biasa saja, sama seperti pagi-pagi lainnya. Saling bercerita, pergi kantor bareng, dan sama-sama terburu-buru. Namun kami tau masing-masing ingin meminta maaf atas pertengkaran semalam, hanya saja kami terlalu keras kepala untuk mengatakannya secara langsung. Jadi saya yang mulai meminta maaf diikuti dengan pasangan saya. Pagi itu, saya berjanji kepada diri saya sendiri – lagi – , bahwa saya tidak akan mengulangi hal seperti ini. Tentu saja janji yang tidak mudah, apalagi jika saya harus berdamai dengan banyak tekanan disekitar saya. Tapi saya tau suami saya juga akan melakukan yang sama. Dan ia telah berhasil melakukannya sejak kami menikah hingga saat ini.

Jika ia bisa berdamai dengan pribadi saya yang keras kepala dan pemberontak ini, kenapa saya tidak bisa belajar untuk berdamai dengan semua tekanan yang memang akan selalu ada dalam hidup saya? Lagipula, tak peduli seberapapun besarnya tekanan, saya tahu bahwa dia akan selalu ada untuk saya. Bahwa seberapa berat rintangan yang akan kami hadapi di depan sana, dia selalu ada untuk mendamaikan perasaan saya. Saya hanya perlu belajar berdamai dengan apapun yang berpotensi momotong pendek sumbu kesabaran saya. Saya hanya perlu mengingat cinta yang telah diberikan pasangan saya itu dan membuang semua ide tentang pertengkaran jauh-jauh dari dalam kepala saya. Saya tidak ingin menjadi orang yang menyesal karena mengabaikan hal-hal istimewa dalam hidup saya.

Urbanesse, hidup yang kita jalani memang sudah kompleks. Banyak hal baik dan buruk terjadi dalam hidup kita. Namun di tengah pasang surut itu, hanya cinta yang akan membuat kita tetap bertahan daripada menyulut perang atau pertengkaran dimana-mana. Jika hari ini kau memiliki cinta yang seperti itu, jangan lepaskan. Peluklah mereka yang telah bersedia mencintai kita apa adanya. Karena sesungguhnya, cinta mereka adalah surga dalam hidup dan dunia yang kita tempati.

Picture source:

http://simantov-international.com/making-love-keeping-the-passion-in-your-marriage/



Unknown

No Comments Yet.