To Be A Better You


Monday, 30 Nov -0001


  I know who I am. I am not perfect. I'm not the most beautiful woman in the world. But I'm one of them.

Mary J. Blige

 

 

KARAKTER

Karakter adalah salah satu hal unik dari setiap manusia, tak terkecuali perempuan. Hal inilah yang membedakan satu dengan yang lainnya. Bahkan, bisa dikatakan karakter adalah ciri khas dari setiap orang.  Namun berbeda dengan DNA, karakter adalah sesuatu yang dapat terus dikembangkan, karena ia dipengaruhi oleh berbagai peristiwa dalam hidup seseorang. Suatu saat ia mungkin menjadi seseorang yang dominan, namun dikarenakan lingkungan tertentu ia bisa saja berubah menjadi seseorang yang stabil dan mampu berempati dengan orang lain.

Saya adalah perempuan dengan karakter dominan yang selalu menggandrungi situasi kompetitif dan cenderung untuk mendominasi tiap situasi. Hal ini selalu terlihat jelas bahkan oleh rekan kerja dan atasan ketika saya berada di kantor. Jika saya lupa, saya akan benar benar menjadi orang dominan yang tidak peduli apapun disekitar saya selama itu membuat pekerjaan saya selesai. Terkadang saya lupa untuk berempati, dan cenderung menekan orang-orang disekitar untuk mengikuti cara saya.

Namun untuk sampai pada karakter saya saat ini, saya harus melewati berbagai fase dalam kehidupan saya. ketika kecil saya sudah harus menjadi lebih dewasa dibandingkan teman-teman seumuran saya karena situasi yang menghendaki demikian. Saya tumbuh sebagai anak kecil yang terbiasa menyimpan perasaan. Dilain waktu saya harus menyemangati diri sendiri untuk tetap bertahan dan kuat ketika sosok kecil ini terpaksa menjadi kambing hitam kesalahan orang lain hanya karena orang tua saya harus bekerja di tempat yang jauh sehingga tidak bisa bersama saya untuk membela saya. Kadang, saya berusaha untuk terus memikirkan hal positif dan mencoba memisahkan pikiran dari raga saya pergi ketempat yang jauh saat saya terus menerus diminta membersihkan rumah ketika seluruh keluarga besar tengah berkumpul dan bersenda gurau. Saat itu, sulit sekali untuk tidak berpikir bahwa dibandingkan keluarga, rasanya saya tak lebih hanyalah pembantu kecil mereka.

Hal-hal yang terjadi dimasa kecil itu membuat saya pada akhirnya membangun benteng pertahanan sendiri dan berjanji untuk sekalipun tidak akan pernah membiarkan siapapun lagi menjatuhkan perasaan saya apapun alasannya. Saya membangun karakter saya menjadi perempuan yang berusaha kuat dari masalah apapun, termasuk ketika saya mulai melihat KDRT dalam rumah tangga orang tua saya sejak usia 6 tahun. Imbasnya adalah bahwa meskipun saya adalah orang extrovert, saya cenderung menutup diri saya dari berhubungan dengan orang lain. Saya tumbuh menjadi seseorang yang tidak mudah mempercayai orang lain, dan lebih memilih melakukan segala sesuatu sendiri. Terbiasa sendirian dan menyelesaikan segala hal sendiri itulah yang pada akhirnya membentuk karakter saya menjadi seseorang yang dominan.

Hingga ketika suatu masa, sebuah kesadaran menghampiri saya tentang hal yang saya yakini. Pertemuan saya dengan banyak orang-orang berbeda membuat saya berhenti dan mulai melihat-lihat kembali pilihan yang saya ambil. Saya melihat wajah adik-adik saya, saya melihat orang-orang tidak berdaya dijalanan yang setiap hari terus bertanya-tanya akan makan apa mereka hari ini, saya bertemu teman-teman yang juga memiliki perang tersendiri dalam diri mereka, dan banyak anak-anak yang hidup tidak cukup beruntung.

 


Memberikan Kebaikan

Saat itu, saya disadarkan bahwa saya tidak sendiri dan tidak akan pernah menderita sendirian. Oleh karena itu saya tidak boleh memperlakukan orang lain dengan tidak adil hanya karena kejadian-kejadian dimasa lalu saya. Justru dengan semua yang telah saya alami, diri saya sendiri seharusnya mengerti dengan lebih baik seperti apa rasanya diperlakukan tidak seharusnya. Pilihan saya hanya dua, membalas dendam dengan memperlakukan orang lain seperti saya dulu diperlakukan, atau berempati dengan orang lain dan berusaha tidak menjadi orang yang menyakiti mereka.

Saya mungkin tidak bisa melupakan sepenuhnya semua hal dimasa lalu saya, namun saya memiliki pilihan untuk berdamai dengan semua itu. Karakter saya mungkin tidak akan pernah berubah dari dominan menjadi orang yang tak peduli dengan persaingan. Namun saya membuka mata dan belajar menata emosi dan karakter saya menjadi versi yang lebih baik. Saya belajar dari semua orang kecil dijalanan tentang arti bersyukur. Saya belajar untuk terus berpikir positif dan tetap teguh setiap kali menghadapi klien sulit dalam pekerjaan saya. Yang paling terpenting, saya belajar memaafkan dan berusaha untuk tidak menjadi penyebab kesusahan orang lain.

Bisa dikatakan, karakter saya telah berkembang jauh melalui semua interaksi saya dengan orang-orang disekitar saya. Kedepan, mungkin saya perlu melihat lebih jauh dari sosok seorang Hulk. Meski seorang monster hidup dalam dirinya, namun tidak membuatnya kehilangan karakter dalam dirinya - seorang ilmuwan yang suka menolong demi kebaikan manusia. Jangan pernah menyerah dengan apapun karakter yang kita miliki saat ini. Apapun itu, tujuan kita hanyalah memberikan kebaikan di manapun kita berada.

 

 



Ika Lubis

Sulung. Leo. Suka musik country. Suka semua acara masak dan membaca apa saja. Mulai menulis rutin pertama kali saat dibangku kuliah lewat blognya mataharicinta.wordpress.com. Perempuan yang lebih suka dipanggil Ika dan lahir 11 Agustus 1985 ini tertarik pada segala hal mengenai perempuan sejak bergulat dengan skripsi “HAM dan Buruh Wanita” nya. Saat ini menikmati pekerjaannya sebagai HR Consultant dibilangan Rasuna Said. Penyuka puisi dan berkampung di Medan, Sumatera Utara ini punya cita-cita bisa mengelilingi Indonesia dan menjadikannya hidup dalam catatan perjalanan. Berusaha terus berpikir positif setiap hari dan percaya pressure sesungguhnya adalah sesuatu yang kita ciptakan sendiri.

No Comments Yet.