The Importance of Self-Control for Everybody's Life


Monday, 30 Nov -0001


Dahulu, Eleanor Roosevelt pernah berkata; “to handle yourself use your head, to handle others use your heart.” Jika kita perhatikan, banyak hal yang terasa tidak benar tengah terjadi saat ini. Terlepas dari sedikitnya berita positif yang diberitakan media, peristiwa yang terjadi masih banyak berkisar pada hal hal seperti tawuran, korupsi, perampokan, vandalism, penyalahgunaan obat terlarang, hingga free sex yang seolah menjadi hal biasa di kalangan anak muda zaman sekarang. Semuanya bermuara pada satu hal, ketidakmampuan individu dalam mengendalikan diri.

Saat ini, usia muda kita mungkin masih menjadi alibi bahwa ini adalah saat yang tepat untuk bersenang-senang, tanpa batasan sama sekali. Namun kita sering kali tidak menyadari, penyesalan kita di masa tua kelak adalah buah dari apa yang kita lakukan di masa muda kita.

Lantas, apa sih pentingnya kontrol diri? Toh, ini hidup saya, hidup kamu, hidup mereka. Ini toh urusan saya, bukan kamu. Betul, hidup kita dan apa yang kita lakukan adalah urusan masing-masing kita. Namun kontrol diri sesungguhnya memiliki peranan penting dalam perjalanan kehidupan kita. Yang pertama, ia punya peran penting tentang bagaimana kita berhubungan dengan orang lain. Saya sering bilang, saya memiliki sifat dasar yang temperamen dan bossy. Ketika saya hanya mengikuti apa yang saya mau, bisa dipastikan saya tak akan punya kehidupan sosial yang baik. Jika saya ngotot dengan sifat temperamen dan bossy di kantor, saya yakin 100% bahwa saya akan segera dikucilkan. Sebagai anak sulung dulu saya terbiasa melakukan kedua hal ini, hingga akhirnya saya berpikir bahwa adik-adik saya tidak berhak untuk diperlukan seperti itu. Di sinilah kontrol diri menjadi semacam penyelamat bagi saya. Kontrol diri membuat saya selalu bertanya terlebih dahulu, apakah perbuatan ataupun perkataan yang ingin saya keluarkan sudah benar dan tidak menyakiti orang lain. Pada akhirnya, kontrol diri selalu menjadi alarm internal saya dalam menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitar saya. Pada akhirnya, ia mengajarkan saya untuk berempati, pada setiap hal yang dilalui orang lain, yang mungkin tidak selalu saya ketahui.

Peran kedua adalah bahwa kontrol diri membantu kita menunjukkan siapa diri kita serta nilai kehidupan yang kita yakini. Kita banyak mendengar berita, bahwa dua pasang remaja bisa begitu ringannya membunuh sahabat mereka hanya karena cemburu. Ada lagi mahasiswa atau pelajar yang tawuran, lagi lagi karena masalah remeh temeh. Atau para remaja putri yang sering kali berpikiran pendek untuk mengakhiri hidupnya ketika hubungan cintanya putus karena ia sedang hamil, atau sudah sering melakukan hal yang hanya boleh dilakukan pasangan suami istri. Atau juga perilaku konsumtif kebanyakan masyarakat kita untuk memiliki benda-benda yang sedang menjadi tren terkini, namun isi kantong ‘sebenarnya’ tak mencukupi untuk gaya hidup seperti itu sehingga pada akhirnya memilih menggesekkan ‘kartu sakti’ demi mendapat pengakuan sebagai seseorang yang update dengan gaya hidup terbaru.

Lagi-lagi, ini adalah soal kontrol diri. Tulisan ini bukan tentang sinisme subjektif saya ketika seseorang mampu membeli barang barang bagus. Big NO. Yang ingin saya sampaikan adalah seberapa penting kontrol diri dapat membantu kita menunjukkan siapa diri kita yang sesungguhnya, daripada hanya sekedar peduli pada kulit luar semata. Dengan semua contoh yang saya sebutkan di atas dan tanpa adanya kontrol diri yang benar, masyarakat tentu akan melabeli diri kita sebagai pembunuh, tukang tawuran, ‘gadis tidak benar’, hingga hedonis. Masalahnya, apakah nilai ini yang ingin kita jadikan sebagai persona pribadi kita? Mengambil jeda dan mengontrol diri, adalah salah satu cara bagi kita untuk kembali memikirkan, nilai kehidupan seperti apa dari pribadi kita yang ingin dilihat oleh orang lain.

Peran ketiga adalah bagaimana kontrol diri membantu mencapai tujuan pribadi masing-masing individu. Pada dasarnya ini adalah tahap lebih lanjut dari peran sebelumnya. Ketika kontrol diri membantu kita menemukan nilai-nilai yang ingin kita yakini dan aplikasikan dalam kehidupan kita, maka kita sudah setengah jalan dalam mencapai tujuan pribadi kita apapun yang kita inginkan, baik dalam hubungan dengan orang lain, maupun secara professional. Saya memiliki seorang sahabat yang pernah ‘menyimpang’ dalam hidupnya. Ia menyia-nyiakan masa muda keemasannya dengan membuang-buang waktu untuk berprestasi di kampusnya meskipun pada dasarnya ia adalah sosok yang cemerlang. Kisah tak menyenangkan dengan sosok ayahnya membuatnya memilih mencari kasih sayang dari para pria yang lebih tua darinya, sehingga tanpa sadar ia tidak terlalu menyadari bahwa kadang mereka memanipulasinya untuk urusan seks. Ia juga tak peduli pada karirnya sehingga tak pernah menyukai pekerjaannya dan kerap berpindah-pindah.

Hingga suatu kali ia bertemu dengan seorang pria baik-baik yang membuatnya berhenti dan memikirkan kembali seperti apa kehidupan di belakangnya. Meski tidak bisa memperbaiki kesalahannya di masa lalu, ia mulai berusaha mengendalikan kehidupannya dan dirinya. Ia menjauhi semua perbuatan di masa lalunya dan mulai menata kembali karirnya. Setiap kali kami bisa menghabiskan waktu bersama, ia kerap curhat bahwa mengontrol dirinya dari semua hal di masa lalu tidak pernah segampang membalikkan telapak tangan. Namun laki-laki baik itu memberikannya tujuan tentang kehidupan seperti apa yang ia inginkan untuk hidupnya, dan bagaimana ia mulai merencanakan untuk mencapai tujuan-tujuan besar pribadinya.

Cerita tentang sahabat saya semakin mengingatkan saya bahwa tantangan terbesar dalam kehidupan seseorang adalah mengontrol diri kita sendiri. Ketika kita tidak belajar untuk mengontrol apa yang kita pikirkan, maka kita tidak akan pernah tau bagaimana mengontrol perilaku kita. Karena pada dasarnya, perbedaan dari apa yang kita inginkan dan apa yang kita butuhkan terletak pada kontrol diri tersebut.

Bagi saya pribadi, self-control  adalah tentang latihan setiap hari untuk terus bersyukur, memaafkan, berempati dan berbelas kasih, memperhatikan kata-kata yang ingin dikeluarkan, menjauhi masalah yang tidak perlu, serta tak lupa untuk terus berkomunikasi dengan Dzat yang menciptakan saya. Self-control bukan produk jadi, melainkan sesuatu yang perlu dilatih setiap hari. Namun percayalah, buahnya selalu manis. Tanpa kontrol diri dan membangun komunikasi intens dengan pencipta saya, saya tidak yakin bisa selalu memiliki hari-hari tenang setiap kali memasuki kantor yang penuh dengan deadline, clients’ demanding request from time to time, hingga faktor-faktor eksternal yang tidak bisa diprediksi meski saya sudah memikirkan semua kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Pada akhirnya, ini semua tergantung dari kontrol diri kita masing-masing untuk menyikapi semua hal dalam setiap aspek kehidupan kita.



Unknown

No Comments Yet.