The Fifth Mountain: Inspirational and Spiritual of Elijah


Monday, 30 Nov -0001


 

“Tuhan Maha Kuasa. Jika Ia membatasi diri-Nya hanya dengan melakukan apa-apa yang baik. Dia tidak bisa disebut Maha Kuasa; itu berarti Dia hanya menguasai satu bagian alam semesta, dan ada orang lain yang lebih berkuasa daripada-Nya, yang mengawasi dan menilai tindakan-tindakan-Nya. Kalau demikian halnya, aku lebih memilih memuja orang yang lebih berkuasa itu.”


Pada jaman pemerintahan Raja Ahab dan istrinya Ratu Jezebel atau lebih dikenal dengan nama Izebel, hiduplah seorang nabi bernama Elia. Ratu Jezebel sendiri merupakan seorang dari Phenesia yang memutuskan pindah ke Israel setelah menikah dengan Raja Ahab. Jezebel menyembah dewa – dewa Baal dan menolak untuk menerima Tuhan. Lebih parahnya, dia memaksa rakyat Israel untuk ikut menyembah dewa – dewa Baal. Nabi Elia merupakan satu – satunya orang yang terang – terangan menentang Jezebel. Akibatnya, Jezebel memerintahkan prajuritnya untuk membunuh Elia. Elia melarikan diri hingga tiba di kota Akbar dengan bimbingan Tuhan dan tinggal di rumah seorang janda beranak satu yang hidupnya berkekurangan. Hidup bersama dengan penduduk kota Akbar yang juga memuja nabi – nabi Baal tidak mudah. Elia harus dihadapkan dengan sebuah gunung yang penuh dengan mitos di dekat kota Akbar. Mereka menyebutnya Gunung Kelima, tempat tinggal para nabi Baal.


“There are moments when troubles enter our lives and we can do nothing to avoid them.
But they are there for a reason. Only when we have overcome them will we understand why they were there.”


Elia pun merasa di titik terendah dalam hidupnya. Mengapa Tuhan memalingkan wajah darinya? Akankah Elia bertahan dengan pendiriannya untuk taat pada Tuhan ketika peperangan hebat menghancurkan kota Akbar? Apa keputusan yang dipilih Elia ketika Tuhan hanya memberinya kesempatan untuk melakukan mukjizat satu kali lagi?


“…manusia harus memilih. Disitulah letak kekuatannya; kesanggupan untuk memilih”.


The Fifth Mountain/Gunung Kelima merupakan buku Paulo Coelho yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1996. Paulo Coelho menceritakan tentang kehidupan nabi Elia sebagai seorang manusia biasa. Banyak tantangan yang harus dihadapi Elia dalam menjalankan perintah Tuhan. Terkadang Elia merasa takut, ingin menyerah dan marah. Namun pada akhirnya Elia kembali bangkit dan berjuang.

Perjalanan spiritual Elia tidak hanya mengenai penggenapan perintah Tuhan, namun juga tentang cinta. Pertemuannya dengan seorang janda miskin yang memiliki satu anak membuat hidupnya berbeda. Melalui janda dan anaknya inilah nabi Elia belajar untuk bertahan dalam rasa kehilangan yang hebat dan mengatasi ketakutan.

Paulo Coelho mengambil sudut pandang yang berbeda tentang kehidupan Elia, bahwa seorang nabi pun harus berjuang keras agar doa – doanya didengar oleh Tuhan. Tidak ada mukjizat yang terjadi begitu saja jika manusia tidak mau berusaha. Paulo Coelho juga menggambarkan keintiman hubungan Elia dengan Tuhan. Tuhan tidak kemana – mana karena Tuhan ada dimana – mana. DIA selalu menyertai manusia dalam setiap kondisi. Kisah Elia mengajarkan pembaca untuk mengerti ketika kita merasa Tuhan memalingkan muka-Nya, sesungguhnya DIA justru berada sangat dekat dengan kita.


Well, satu kutipan dari The Fifth Mountain yang menarik untuk menjadi bahan renungan :

“Kita harus selalu tahu kapan suatu tahap dalam hidup kita telah berakhir. Kalau kita bersikeras mempertahankannya, padahal kita sudah tidak membutuhkannya, kita akan kehilangan sukacita dan makna hidup kita selebihnya. Dan ada risiko kita akan diguncang-guncang hebat oleh Tuhan”


Urbanesse, sampai dimana tahapan kehidupanmu saat ini?



Sumber Gambar:
gramediapustakautama.com 



Vincentia Archi Persita Wulan Ari

I am passionate traveler. Travel formed me as much as my formal education. (David Rockefeller)

No Comments Yet.