The Emotionally Healthy Woman: 8 Things You Have To Quit To Change Your Life


Monday, 30 Nov -0001


Buku ini mengatakan bahwa kita sebagai wanita harus sehat dalam sisi emosi, dan ada 8 langkah yang dijalankan supaya hidup kita lebih berbobot dan tidak merasa tertekan dengan ekspektasi tinggi dari sekeliling kita.

 

1. Quit Being Afraid of What Others Think

Jangan takut akan apa yang orang lain pikir tentang diri kita. Kalau kita takut, maka kita hidup untuk mereka, bukan mengikuti jalan hidup kita. Karena kita akan menyesuaikan diri kita untuk membahagiakan orang lain dan kita akan merasa hidup ini berat.

 

2. Quit Lying

Seringkali kita terlalu gampang berbohong dari hal-hal yang kecil. Kita terbiasa untuk menjawab atau memberi alasan yang tidak terjadi. Misalnya, kita berbohong saat mengatakan bahwa kita ada acara lain maka tidak ikut pergi pesta, padahal kita hanya lelah. Kita harus belajar mengatakan hal yang sebenarnya, dan kita harus mengatakan semua hal dengan hormat, jelas, jujur, dan di saat yang tepat.

 

3. Quit Dying to the Wrong Things

Ada hal-hal di hidup kita yang menguras tenaga dan semangat hidup, serta kita harus belajar untuk menyisihkan waktu untuk memenuhkan lagi tangki semangat itu. Misalnya untuk yang menyukai alam, tapi tinggal di kota Jakarta yang macet dan berpolusi, haruslah belajar untuk mencari waktu untuk mengisi kembali gairah hidup dengan bertualang ke perhutanan.

 

4. Quit Denying Anger, Sadness and Fear

Kadang kita tidak pernah mengakui dan menganalisa perasaan kita, padahal mereka adalah pedoman di hidup ini. Menggunakan perasaan ini, kita bisa sadar akan jati diri kita, dan saat-saat di mana emosi ini menampakkan hal-hal di hidup kita yang harus kita bereskan dan sembuhkan.

 

5. Quit Blaming

Janganlah menyalahkan orang lain karena kitalah yang memilih jalan hidup kita.  Adakalanya memang pilihan kita akan menyedihkan orang lain, dan kita memilih untuk tidak menyakitinya walau akan menyakiti diri sendiri, maka itulah pilihan kita dan tidak boleh kita menyalahkan keadaan atau orang lain.  

 

6. Quit Overfunctioning

Seringkali kita micro-manage semua orang di sekeliling yang kita sayang, karena kita mau melakukan yang terbaik untuk mereka. Tetapi akhirnya kita menghentikan perkembangan dan pertumbuhan mereka karena kita tidak melatih mereka untuk bertanggungjawab atas kehidupan mereka sendiri. Behentilah dan biarlah mereka bergumul dan berjuang sendiri agar mereka bisa menjadi mandiri.

 

7. Quit Faulty Thinking

Ketika kita memakai kata-kata “selalu” atau “tidak pernah”, kita sudah mempunyai cara berpikir yang salah. Karena satu kejadian tidak baik, kita menganggap semuanya tidak baik. Atau kita mencoba membaca pikiran orang lain dan mengasumsi tentang apa yang terjadi. Belajarlah untuk mengecek fakta dan realita, walaupun mungkin harus menanyakan langsung dengan orang yang bersangkutan.

 

8. Quit Living Someone Else’s Life

Kita tahu kalau kita tidak hidup otentis saat kita dipenuhi dengan ketakutan akan pemikiran orang lain, dan tidak bisa mengeluarkan suara hati saat bertemu dengan orang yang lebih hebat atau keras dari kita.Kita belajar hidup dengan integritas, saat tidak mau kita katakan “no” dan saat ingin kita katakan “yes”. Kita juga belajar letting go kehidupan orang lain karena kita tidak bisa menjalankan kehidupan mereka.

 

Buku ini sangat bermakna. Setiap kali aku mengalami sesuatu yang tidak enak, kebanyakan pasti karena tidak melakukan apa yang buku ini sudah ajari. Jadi 8 poin di atas kusimpan sangat dekat di hati, karena sangat bermanfaat.

 

Memang cara menulisnya ada berbau Kristen, karena yang menulis adalah istri seorang pendeta yang tidak tahan akan kehidupan dirinya yang tidak jujur dan tulus. Dia lelah akan hidupnya yang tidak lagi bergairah dan terus mencoba untuk menyenangi semua orang karena dia adalah istri pendeta. Tapi coba mengabaikan unsur keagamaannya dan ambil maknanya karena poin-poin ini bisa mengubah hidup kita.

 

Janganlah menyalahkan orang lain karena kitalah yang memilih jalan hidup kita.  Adakalanya memang pilihan kita akan menyedihkan orang lain, dan kita memilih untuk tidak menyakitinya walau akan menyakiti diri sendiri, maka itulah pilihan kita dan tidak boleh kita menyalahkan keadaan atau orang lain”. 



Cianna

No Comments Yet.