The Art of Compromising


Monday, 30 Nov -0001


Hallo urbanesse, tema urban women kali ini adalah love other. Nah bagaimana aplikasi love other ini dalam kehidupan karir dan professional kita. Apakah selama ini kita mencintai rekan kerja atau malah membenci mereka? Seru ya kalau kita  bekerja dikelilingi rekan-rekan kerja yang selalu support. Sepertinya seberat apapun kerjaan, akan jadi lebih mudah selesai. Ehm…it sounds great, right? miracle happens, we have the dream partners, yeay!

Tapi Urbanesse, kenyataannya adalah terkadang kita memiliki tipe rekan kerja perusak mood. Memang kita tidak harus menyukai dan disukai oleh semua orang. Ya, kita tidak dapat menyenangkan semua orang.  Normal bila merasa sebal terhadap seseorang yang mungkin tidak bersikap baik kepada kita. Padahal kita selalu bersama mereka di kantor setiap harinya selama lebih dari delapan jam. So, how to love them?

Ada satu rule dalam hidup saya, mungkin saya tidak harus suka dengan seseorang,  yang penting kami tidak saling mengganggu. Sama, saya tidak bisa menuntut orang itu menjadi seseorang seperti yang saya mau. Bagaimanapun juga mereka akan tetap menjadi dirinya sendiri. Namun jika harus kerja sama, yang kami pikirkan adalah selesainya proyek atau tugas dari atasan.

Tapi apakah ini bisa membuat saya “mencintai” mereka? Mungkin iya, mungkin tidak. Tergantung perspektif kita mengenai “love other”. Bagi saya, “love other” adalah apabila kita bisa berlaku baik terhadap orang lain, memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, tidak berusaha menjatuhkannya atau mencari-cari kesalahan, dan tetap professional sesuai SOP. Kompromi adalah komponen utama apabila saya harus menghadapi situasi seperti ini.

Bentuk kompromi pertama adalah respect. Ya, kita tidak akan dihormati orang lain, sebelum kita berusaha menghormati orang tersebut.  Namun ini sulit dilakukan, kenapa? Karena biasanya akan berkaitan dengan ego, harga diri, dan cara pandang kita terhadap partner tersebut. Kalau kita respect kita bisa mengerti bagaimana membangun suasana dengan partner tersebut.

Setelah kita berusaha respect, maka kompromi kedua don’t judge them. Sekali lagi ini juga sangat subjektif, tapi apabila kita sudah respect terhadap orang lain, segala hal negatif yang ada di benak perlahan akan mengarah positif. Kita akan belajar apa yang melatarbelakangi sikap si partner. Bisa saja mereka punya alasan-alasan tertentu sehingga bertingkah laku seperti itu. Itu sebabnya perlu mengenal karakter setiap orang sehingga agar bisa belajar cara bagaimana menghadapi orang itu agar tidak terjadi salah paham .

Kompromi ketiga tetaplah bersikap ramah dan sopan.  Percayalah smiling is the act of kindness. Sikap ramah seperti itu, akan membangun suasana kerja yang nyaman. Dengan begitu, pekerjaan akan terasa lebih menyenangkan.

Dan kompromi yang keempat,  kita harus tetap memberikan dukungan dan semangat kepada partner kerja. Jadilah kontributor yang baik dalam tim kerja serta bantu partner kerja untuk mencapai hasil yang diharapkan. Daripada kita berusaha saling mengungguli, yang malah mengacaukan pekerjaan, lebih baik kita berkonsentrasi untuk pencapaian maksimal.

Yang kelima untuk menghindari konflik, jaga sikap dan tetaplah bersikap biasa. Apabila kita mulai merasa tidak bisa menahan diri untuk menunjukkan sikap sebal kepadanya, batasi komunikasi dengannya,. Jangan mudah terpancing emosi. Keep calm and breath, ladies.

Kelima kompromi tersebut bisa dikatakan sederhana apabila kita memiliki niat yang kuat untuk mengasihi sesama dan memiliki keinginan yang besar untuk bisa mengenal serta memahami karakter partner kerja kita. Namun, ingat sekali lagi bahwa kita tidak dapat mengontrol orang lain, jadi kompromi yang sebenarnya adalah kompromi dengan diri kita sendiri. Ingat kata pepatah “You can’t change the direction of the wind but you can adjust the sails to reach your destination”. Bekerja selalu bisa jadi menyenangkan dan sukses jika kita memiliki sikap positif. Dengan selalu bersikap baik, kesuksesan sedang menanti kita, Urbanesse…



Unknown

No Comments Yet.