Tersenyum Pada Kehidupan..


Monday, 30 Nov -0001


Saya bersyukur menjadi perempuan :). Ada banyak keindahan yang Tuhan taruh dalam kepribadian kita, yang bisa dikembangkan dan tentunya kita nikmati dalam proses tersebut. Saya sempat cerita juga kepada Urbanesse pengalaman saya bagaimana belajar menjadi seorang perempuan. Jadi perempuan itu perlu belajar terus loh! Dan saya menikmati sekali proses belajar ini.

Dari 9 hal yang pernah kita bahas; kasih, sukacita, kedamaian, penguasaan diri, kebaikan, kemurahan, kelemahlembutan, kesabaran dan kesetiaan, pencapaian saya yang paling terasa sekali adalah soal “sukacita”. Yup, mau tahu seperti apa cerita saya? Hehehehe..

Jadi, semasa kecil dulu saya adalah seorang anak yang (bisa dibilang) sangat pendiam. Udah bawaan sepertinya. Lingkungan juga jadi salah satu faktor pendukung. Ditambah, beberapa pengalaman hidup yang saya alami kemudian membentuk saya menjadi perempuan yang super melankolis.

Se-melankolis apa saya kala itu? Perasaan saya mudah sekali untuk naik turun. Ibarat neon, kadang menyala terang, kadang redup. Saya lebay banget kalau lagi ngalemin masalah. Pernahkah Urbanesse seperti saya? ^.^

Perempuan yang bersukacita.. ini bukan gambaran diri saya waktu itu.

Kalau ada masalah, saya akan pikirkan terus menerus. Cari solusi, mungkin iya. Tapi lebih kepada terpuruk dalam perasaan. Akibatnya, mood jadi sering up and down.

Waktu itu saya gak berpikir kalau saya bermasalah dan perlu berubah. Yang saya tahu, saya adalah orang yang punya kepekaan lebih. Orang lain cuek, sedangkan saya lebih care. Normal-normal ajagak ada yang masalah dalam diri saya.

Lalu, apa yang kemudian membuat saya berubah?

Kehidupan spiritual saya yang semakin baik. Ini yang membuat saya mulai berubah. Pengertian saya akan kehidupan dan Sang Khalik, membuat saya jadi lebih mengerti siapa saya dan harus seperti apa saya. Rasanya seperti bercermin. Urbanesse ingat cerita saya tentang “Belajar Menajdi Perempuan”? Proses yang saya jalani tersebut sumbernya karena itu tadi. Oh, saya gak boleh begini. Oh, saya harus begitu. Saya seperti menemukan blue-print kehidupan saya, dan saya mengejar untuk mencapainya.

Waktu saya tahu bahwa ada yang gak beres dengan cara saya merespon, saya pun kemudian mulai bertekad dan belajar untuk berubah. Caranya? Dengan menjaga emosi saya. Berhati-hati terhadap apa yang saya pikirkan dan rasakan. Urbanesse setuju gakSelf talk biasanya jadi pemicu untuk para perempuan punya negative thinking atau bad mood. Seringnya sih seperti itu yaa ;p Makanya saya menjaga diri saya dari hal ini. Belajar untuk memikirkan dan merasakan (hanya) yang baik dan yang bermanfaat.

Saya sih tidak langsung berubah waktu itu. Perlu latihan yang berulang-ulang. Saya perlu berproses. Berapa lama? Hmm saya gak menghitung juga berapa lama waktu yang diperlukan. Tapi kalau dihitung dari titik mulanya tadi itu, kira-kira sepuluh tahun. Sampai sekarang pun saya masih terus berlatih. Waktu masalah datang, dan saya mulai terpuruk dalam perasaan, yang saya lakukan adalah “shifting”. Beralih dari pikiran atau perasaan-perasaan tersebut, dan yang paling utama adalah memohon pertolongan Sang-Khalik.

Kesadaran akan kebesaran dan kedaulatan Sang Khalik lah yang bisa membuat seorang perempuan punya sukacita, bahkan di tengah badai sekalipun.

Well, sekarang saya gak lagi menjadi perempuan yang murung, yang menanggung beban dengan cara yang berlebihan. Ketika permasalahan datang, saya tetap bisa bersukacita. Perasaan saya gak lagi seperti lampu neon yang kadang terang, kadang redup. Dalam segala situasi saya belajar bahwa ada Penguasa dari alam semesta, yang menjadi Penolong bagi saya. Makanya sekarang saya bisa jadi perempuan yang (lebih) tersenyum pada kehidupan :D

Inilah proses pembelajaran yang saya alami. Bagaimana dengan Urbanesse? Apapun yang kita hadapi, mari jalani hidup ini dengan tersenyum. Bersukacita senantiasa, sekali lagi.. Berukacitalah!



Unknown

No Comments Yet.