Ternyata (Tidak) Semua Laki-laki Pemberi Harapan Palsu ?


Monday, 30 Nov -0001


Tema Urban Women bulan ini “Seberapa pentingkah laki-laki dimata perempuan?” cukup menggelitik saya menulis kisah beberapa rekan saya yang  berkali-kali terjerembab pada pria yang “salah” menurut rekan saya itu. Jika kita bicara jujur sambil bertanya pada diri sendiri pasti jawabannya “Yaaa...Penting sih”. Kita tidak bisa menepis anggapan tersebut, karena di budaya kita memang masih menerapkan pemikiran bahwa  laki-laki lah yang menjadi penentu hidup (baik pemenuh kebutuhan ekonomi dan peningkatan standar hidup) seorang wanita nantinya ketika sudah legal menjadi pasangannya” dan kebiasaan dari masyarakat kita pula yang  berpandangan perempuanlah yang nantinya mengekor kepada lelakinya (laki-laki itu memilih dan perempuan itu dipilih), makanya selagi masih pacaran/ pendekatan sebisa mungkin mati-matian berusaha memberi dan menunjukkan performa terbaiknya sebagai kekasih pada si prianya.

Lalu, bagaimana jika sudah memberi segalanya, mati-matian berusaha menyenangkan hati pasangannya lalu kemudian hari diselingkuhi, dikhianati, disakiti secara fisik dan psikis secara berulang dan yang lebih parah sudah berharap banyak dan memberi lebih ternyata si laki-laki tidak memilihnya untuk dinikahi melainkan menikah dengan orang lain ? Untuk beberapa rekan yang saya temui memang bisa move on dengan cepat, Beruntung. Namun masih banyak dari rekan saya yang hingga saat ini sulit sekali move on mereka lebih memilih menggantungkan hidupnya pada laki-laki yang mereka sebut “kekasihnya” itu. Sebut saja namanya Dona (bukan nama sebenarnya), Dona adalah teman kampus saya dulu, dia termasuk teman saya yang cukup cerdas dan cantik, tak heran memang mantan pacarnya cukup banyak, lulus kuliah dia langsung diterima bekerja di salah satu perusahaan maskapai penerbangan sebagai Humas.

Namun, kisah percintaan Dona tidak secemerlang karirnya. Dona cerita kalau sejak dulu zaman kuliah tiap kali dia berpacaran, selalu berhubungan badan layaknya suami istri dengan pacar-pacarnya. Karena memang 7 mantan pacarnya tersebut (menurut pengakuannya) termasuk laki-laki yang mumpuni dalam memenuhi kebutuhan ekonominya. Dimana pada saat kuliah dulu Dona ngekos seorang diri di Jakarta untuk kuliah, orangtua Dona berada di luar kota. Dona memang bukan dari keluarga yang berkecukupan, jadi tidak heran semasa kuliah dia bergantung hidup pada pasangan yang saat itu sedang dipacarinya otomatis ada bayaran yang cukup mahal pula yang harus dibayar oleh Dona yaitu bisa memenuhi kebutuhan seks dari pacar-pacarnya tersebut.

Dulu Dona mengatakan ke saya kalau mereka saling cinta jadi dia berusaha untuk menyenangkan sang kekasih makanya rela melakukan semua itu. Tidak hanya itu Dona bahkan rela mencucikan pakaian mereka, ikut kemanapun mereka mengajaknya pergi meski harus nitip absensi kuliah pada saya saat itu, diselingkuhi berulang kali bahkan Parahnya lagi salah satu pacarnya pernah ada yang melakukan kekerasan fisik pada dirinya seperti memukulnya, menamparnya didepan umum karena merasa cemburu melihat Dona dekat dengan pria lain meski hanya sekedar teman, maklum Dona adalah wanita ramah pada siapa saja. Dan yang buat saya tak habis pikir, ketika disakiti dia hanya bisa diam dan pasrah “karena yaaa...harus berbuat apalagi toooh kebutuhan hidup dipenuhi oleh pria tersebut”, kata Dona.

“Pokoknya saat kuliah adalah saat dimana saya labil dan cukup bodoh. Saya memberikan segalanya harga diri saya, keperawanan saya, waktu, tenaga, pikiran dan cita-cita saya. Semua selalu berakhir dengan kata putus dan pergi atau menghilang tanpa jejak. Seolah habis manis sepah dibuang” kata Dona.  Dia sadar semua itu karena kekeliruannya dalam memandang suatu hubungan. Pada saat itu Dona selalu berpikir bahwa hubungannya dengan laki-laki selalu serius dan akan berakhir di pelaminan. Dia terkenang ucapan beberapa mantan pacarnya, Dari dulu pacar saya selalu bilang “saya akan menikah dengan kamu, kita akan punya rumah, nantinya akan punya banyak anak dan kita akan membentuk keluarga bahagia bersama dari nol dan bla bla blaaa lain sebagainya janji manis mereka” Terang Dona.  Betapa lemah dan bodohnya saya saat itu selalu percaya ucapan mereka dan tidak pernah bisa belajar dari pengalaman sebelumnya. 

“Setelah lulus kuliah saya down, takut dan minder/tidak percaya diri. Karena otak saya terbentuk mindset bahwa tidak akan ada lagi laki-laki di dunia ini mau dengan saya yang sudah pernah berkali-kali dijamah oleh laki-laki, yang sudah tidak lagi perawan meski usia masih terbilang muda. Karena pikir saya laki-laki pasti akan menikahi perempuan yang masih perawan, karena menurut mereka wanita perawan itu berarti mampu menjaga dirinya dan masih suci” ungkap Dona sambil menyesali pikirannya pada saat itu. 5 tahun saya menyendiri dan menyesali semua perbuatan saya dimasa lalu.

Sampai pada akhirnya dia bertemu dengan seseorang bernama Arman (bukan nama sebenarnya). Menurut Dona,  Arman adalah sosok laki-laki ideal yang diturunkan Tuhan padanya untuk melengkapi kekurangan yang ada pada dirinya. “Cukup panjang jika diceritakan bagaimana akhirnya Arman meminang saya. Pada awal kedekatan kami saya mencoba terbuka semuanya pada Arman, semuanya tanpa terkecuali” ucap Dona mengenang.  Kata Dona pada saat itu Arman memang sempat kaget mendengar semua cerita masa lalunya. “Saya pikir saya akan kehilangan Arman, saya pikir dia akan pergi seperti laki-laki lain yang coba mendekati saya beberapa waktu lalu setelah saya ceritakan bagaimana kehidupan masa lalu saya.

Tapi ternyata saya salah, Arman memang laki-laki baik dia mau menerima saya apa adanya bahkan dia langsung meminta bertemu dengan orang tua saya untuk menikahi saya” Terang Dona. Betapa bahagianya hati teman saya itu dia mengatakan pada saya “Jangan pernah takut membuka hati lagi untuk laki-laki yang baru, dengan kejujuran dan ikhlas menerima jalan Tuhan. Teruslah memperbaiki diri agar dapat dipertemukan dengan jodoh yang dipilihkan Tuhan sesuai dengan kadar yang kita butuhkan untuk melengkapi segala kekurangan kita, bukan jodoh yang hanya sesuai dengan keinginan kita” terang Dona pada saya.

Singkat cerita Dona pun menikah dengan Arman dan mereka dikaruniai 1 orang anak, Setahu saya melihat pernikahan mereka cukup baik. Arman tetap mengizinkan teman saya Dona untuk terus bekerja meniti karirnya hingga kini Dona dipercaya menjadi seorang Manager dikantornya. Arman pun pada saat itu juga tetap bekerja sebagai Teller disalah satu Bank swasta. Anak mereka pada siang hari dititipkan oleh baby sitter yang dulu pernah mengurus Arman ketika dia masih kecil, jadi sudah tidak ada masalah dengan itu. Saya lihat Arman juga sosok pria yang setia.  Jika Dona lembur, Arman lah yang menjaga anak-anaknya dirumah sampai Dona pulang begitupun sebaliknya, rasanya saya pun yang melihat rumah tangga mereka cukup senang dengan kebahagiaan keluarga kecil yang mereka perlihatkan ke saya disaat banyaknya teman saya yang gagal dengan pernikahannya.

Baru genap 6 tahun pernikahan mereka, Februari 2015 Arman jatuh sakit di diagnosa dokter sakit demam berdarah yang sudah telat dirujuk kerumah sakit, Dona cerita pada saya bahwa 2 hari dia merasakan pusing dan badannya panas “saya buatkan wedang jahe kemudian saya memijit punggung, kaki dan kepalanya lalu saya ajak dia berobat ke dokter karena dia merasa matanya berkunang-kunang” Cerita Dona sambil menangis. Dokter mengatakan Arman harus segera dibawa ke rumah sakit karena sudah masuk masa kritis. Perjalanan ke rumah sakit padahal tidak terlalu jauh, tapi Tuhan berkendak lain, Arman Suami Dona harus menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan menuju rumah sakit. Hati teman saya itu sekali lagi hancur bukan karena dia disakiti oleh laki-laki yang memanfaatkannya atau mengkianatinya. Melainkan karena harus kehilangan yang menurut Dona adalah cinta sejatinya. Kini Dona sudah move on untuk terus melanjutkan hidup dengan atau tanpa Arman lelakinya dan karirnya terus menanjak hingga saat ini. meski menjadii single parent Dona tidak pernah putus harapan, karena baginya meski sendiri “Tuhan selalu bersama saya. Dari Arman lah saya bisa bangkit lagi dari keterpurukan, rasa tidak percaya diri dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, meski kehilangan namun dia tetap menjadi penyemangat dalam hidup saya dan anak-anak”.

Menurut Dona pengalaman beberapa tahun lalu disakiti dan dikecewakan oleh beberapa pria memberikan dia pengalaman hidup, ,meski tersakiti namun menjadikannya kuat, bisa menjadi perempuan yang lebih berpikiran maju meski tanpa laki-laki disisinya. Karena keterpurukkan di masalalu tidak menjadikannya hancur itu  malah membuatnya bertumbuh kearah yang lebih baik dari sebelumnya.

Dona juga mengatakan akhirnya dirinya juga membutuhkan seorang laki-laki bagaimanapun settlenya ia, laki-lakilah yang bisa memberi semangat dikala putus harapan, membantunya untuk terus bertumbuh, meski kini Arman sudah tidak lagi bersamanya. Namun dari Arman lah Dona memahami makna hidup yang sebenarnya. Tanpa laki-laki kita bisa bertahan dan maju dalam hidup dan dengan laki-laki yang mau menerima kita apa adanya dan sama-sama bertumbuh menjadi lebih baiklah kehidupan akan lebih memiliki makna dari sebelumnya.



Admin Urban Women

No Comments Yet.