Temanku Menafkahi Hidup Kekasihnya


Monday, 30 Nov -0001


Sebut saja namanya Mila (bukan nama sebenarnya), dia teman saya satu kantor tempat dulu saya pernah bekerja. Mila seorang Human Resource Developmen (HRD),single parent dengan 3 orang anak. Dia memiliki dua anak laki-laki yang kini sudah beranjak remaja dari mantan suaminya terdahulu dan satu anak perempuan yang usianya baru 2 tahun berasal dari hubungan bersama yang dijalaninya selama 8 tahun dengan kekasihnya sebut saja namanya Dodi (bukan nama sebenarnya).
 

Mila termasuk perempuan yang menurut saya jarang dapat ditemukan di zaman sekarang ini. Mila adalah sosok Ibu yang sangat kuat, tegar dan penyabar. Saya bisa berkata demikian karena cerita hidupnya yang begitu keras dan rumit. Dari hasil bekerjanya sebagai HRD Mila berhasil  mendapatkan sebuah rumah meski masih kredit. Cicilan kreditnya juga cukup besar tiap bulannya, Mila juga harus memenuhi kebutuhan rumah tangganya seperti bayar listrik, belanja keperluan dapur, melengkapi keperluan anak-anaknya, menggaji asisten rumah tangga dan baby sitter.  Mila pun harus membiayai kebutuhan sekolah 2 anak laki-lakinya, karena mantan suami Mila terdahulu sudah menikah lagi. Otomatis tanggung jawab membiayai kebutuhan kedua anak laki-lakinya dibebankan ke Mila.  Dia  juga harus memmenuhi Kebutuhan pembelian susu formula untuk batita perempuannya dari hasil hidup bersamanya dengan Dodi. Mila berjuang seorang diri untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut. Lantas apa yang dikerjakan Dodi?
 

Itu yang menjadi pertanyaan besar saya sebagai teman Mila.  Di tengah perjuangan Mila untuk membiayai ekonomi keluarganya Mila juga harus dihadapkan dengan rongrongan dari Dodi kekasihnya. Menurut cerita Mila Dodi sehari-harinya tidak memiliki perkerjaan tetap bahkan lebih banyak diam di rumah Mila, kadang biasanya pergi jam sepuluh pagi kemudian baru kembali ke rumah  tengah malam. Bahkan parahnya kata Mila Dodi kerap pergi tanpa kabar berbulan-bulan kemudian datang lagi hanya untuk meminta uang pada Mila, dengan dalih untuk modal investasi logam mulia yang nantinya untuk membiayai kehidupan Mila dan anaknya, lagi-lagi itu hanya angan-angan kosong yang dijanjikan pada dirinya, kata Mila.
 

Pikir saya pada saat itu, mengapa Dodi bisa sampai hati memperlakukan Mila yang sudah sangat baik padanya seperti itu. Tidak bekerja padahal sudah memberikan Mila seorang anak, tanggung jawab sebagai seorang ayah pun dilupakan. Mila cerita pada saya dia selalu berdoa tiap malam pada Tuhan, semoga suatu hari nanti Dodi bisa berubah menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Tidak perlu menikahinya jika memang Dodi tidak mau, cukup bertanggung jawab dengan bekerja, guna mencukupi kebutuhan anak perempuannya yang masih membutuhkan banyak biaya.
 

Saat ini Mila masih sangat mampu mencukupi kebutuhan anak-anaknya seorang diri walau Mila kerap mencurahkan isi hati nya pada saya, kalau Dodi selama ini dinafkahi juga olehnya segala kebutuhan Dodi dipenuhinya. Namun dodi sama sekali tidak mempedulikan perasaan Mila yang ingin diakui statusnya melalui ikatan pernikahan. Mila seperti normalnya perempuan lainnya juga ingin memulai lagi membina rumah tangga dalam ikatan yang sah. Rasa malu terhadap pandangan orang lain terhadapnya sudah tidak lagi dipedulikan, karena hanya akan menambah luka hati dan beban pikiran semata katanya.
 

Delapan tahun pada Desember 2014 kemarin hubungan Mila dengan Dodi di jalaninya. Sebagai teman saya selalu memberinya support dengan memberikan Mila pandangan-bukan tentang benar dan salah apa yang dilakukan Mila dan apa yang dilakukan Dodi, tapi pandangan saya agar dia bisa lebih kuat lagi dengan atau tanpa Dodi. Karena dia perempuan baik yang terlalu naif untuk tersakiti. Cerita ini adalah cerita Mila setahun yang lalu saat terakhir dia curhat pada saya setahun yang lalu. Pada saat itu rasanya sangat tidak mungkin seorang Mila bisa rela melepaskan Dodi apalagi menjauhi Dodi.
 

Tapi atas kebesaran Tuhan dan kebesaran hati Mila yang ikhlas dan sabar menjalani hari demi harinya. Akhirnya pada Januari saya bertemu lagi dengan Mila di daerah Malang, Jawa Timur kebetulan saya sedang melakukan dinas ke Malang saat itu. Memang jodohnya harus bertemu, Kita berdua memang tidak sengaja jumpa, karena kami sudah tidak lagi satu kantor. Betapa terkejutnya saya, Mila yang saya temui adalah Mila yang so new look. Wajahnya lebih fresh, badannya nampak lebih berisi dan penampilannya sangat berbeda.
 

Saya sangat excited dan surprise “Wow Mila kamu tidak seperti Mila yang saya kenal 1 tahun yang lalu, kamu cantik banget sekarang” ungkap saya dengan nada ceria. “ Ah...lebay deh  kamu. Biasa aja kok haa..haaahaa...haaa..” dia menimpali sambil tertawa. Mila pun menceritakan segala yang telah terjadi dan apa saja yang sudah mengubah hidupnya menjadi lebih baik.
 

Jadi, pada Januari 2015 Mila memang memutuskan resign dari kantor kami sebelumnya dengan alasan dia mendapatkan pekerjaan yang gajinya lebih besar dan dia berencana pindah ke luar kota, dan saya tahu itu. Tapi yang tidak diceritakan Mila, ternyata keputusan dia untuk resign selain karena mendapat tawaran pekerjaan yang lebih baik, Mila juga over kredit rumahnya yang di Bekasi ke orang lain kemudian dia membawa ketiga anaknya pindah keluar pulau jawa, sungguh keputusan yang sangat tegas dari seorang Mila.
 

 “Pantas saja Mil, nomormu dua-duanya tidak ada yang bisa dihubungi, semua media sosialmu juga tidak ada satupun yang aktif” terang saya padanya.

“Yess..aku memang merencanakan itu semua aku putuskan memutus kontak semuanya termasuk untuk tidak memberitahu teman maupun orangtua dimana posisiku, agar Dodi tidak ada celah untuk bisa menghubungiku lagi. Karena aku sudah Jenuh dan lelah dengan segala perlakuan dia padaku” Tegas Mila bercerita pada saya dengan wajah merah ranum nampak sangat lega dan tabah. Keputusan dia berani menjauhi Dodi selain karena mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik juga disebabkan rasa lelah karena sifat tidak bertanggung jawab Dodi untuk menafkahi Mila dan anaknya yang tidak pernah berubah dan yang lebih mencengangkan ternyata Mila pernah mendapati isi pesan dan foto-foto di hp kekasihnya itu bermesraan dengan wanita lain. Ternyata itu sudah berlangsung lama dan berulang hingga Mila pun sampai pada titik jenuh dan dengan mantap memutuskan untuk resign dari pekerjaan sebelumnya serta pindah tempat tinggal menjauh dari Dodi.

Kini Mila sudah move on dari Dodi dan dia telah memilih bahagia dengan kehidupan tetap menjadi single parent yang menghidupi tiga orang anak. Mila mengatakan pada saya perjalanan suram 8 tahun yang dialaminya merupakan pelajaran yang amat sangat berharga. Mungkin sebagian orang menganggap berumah tangga berarti suami harus bekerja dan istri di rumah mengurus anak. Anggapan itu tidak berlaku untuk Mila teman saya, dia mengatakan jika suatu hari nanti dia memutuskan menikah, bahkan jika calon suaminya kelak sudah berkecukupan dia akan tetap untuk bekerja, mengatur ekonomi rumah tangga. Karena bagi Mila tidak selamanya perempuan harus terus-menerus berpangku tangan pada laki-laki, karena “dipandang sebelah mata” oleh laki-laki itu sangat tidak mengenakan.

“Meskipun kita perempuan bekerja, dengan niat membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tangga namun kita harus tetap menjalani peran utama kita sebagai Istri yang menghormati suaminya maupun sebagai Ibu yang mengurus dan mendidik anak-anaknya karena itu peran mendasar dari keutuhan sebuah rumah tangga” celoteh Mila pada saya. Banyak makna hidup yang bisa dipetik dari cerita Mila. Ceritanya  mengingatkan kalimat yang sering ibu saya utarakan yaitu sebuah pohon mangga meski musim kering sekalipun dia akan berbuah lagi nantinya. Tinggal pemilik pohon mangga tersebut mampu sabar atau tidak menunggunya. Begitupun hidup meski rongrongan berat dijalani namun butuh keikhlasan dan kesabaran dalam menjalaninya.

 

Hasilnya pun akan berbuah keajaiban dari sang pencipta.  Tuhan tidak pernah tidur, DIA akan terus menghitung tiap butir airmata hambanya dan mengabulkan segala doa yang terpanjat. Itupun jika hambanya masih tetap berusaha untuk mau berubah dan bangkit dari keterpurukan, kekeliruan dan kekecewaan. Mila mengatakan pada saya “Jika kita cukup terpuruk jatuh dari satu kondisi yang buruk, maka kita harus cukup kuat untuk bangkit dengan cepat dari keterpurukan tersebut” .



Angel

No Comments Yet.