THE GIFT


Monday, 30 Nov -0001


"How well do you know anybody in your life?

How well do you know yourself?"

 

Pasangan suami istri yang bahagia, Simon (Jason Bateman), eksekutif perusahaan keamanan komputer ternama dan Robyn (Rebecca Hall) seorang desain interior, pindah dari Chicago ke Los Angeles, menemukan rumah impian mereka di Holywood Hills. Saat mereka berbelanja untuk kebutuhan rumah baru mereka, seorang pria bernama Gordo (Joel Edgerton) menyapa Simon mengaku mengenalnya karena mereka dulu satu sekolah. Tapi Simon mengaku ke istrinya tidak mengingatnya.

 

Keesokan harinya, ada hadiah  sebotol anggur diletakkan di depan rumah baru mereka dan diikuti dengan serangkaian hadiah-hadiah berikutnya yang merupakan pemberian dari Gordo. Gordopun sering mengunjungi rumah baru mereka saat Robyn sendiri. Pemberian hadiah dan kunjungan Gordo terkesan ganjal di mata Simon, sampai akhirnya Simon memutuskan untuk berbicara dengan Gordo untuk menghentikan pemberian hadiah-hadiah itu, saat mereka diundang makan malam di rumah Gordo.

 

Hari selanjutnya, semua ikan koi (salah satu hadiah Gordo) di kolam rumah mereka mati diteruskan dengan hilangnya anjing kesayangan mereka. Simon yang menuduh Gordo melakukan itu semua, segera pergi ke rumahnya dan ternyata rumah itu bukanlah rumah Gordo. Robyn sang istri, terus bermimpi buruk dan menjadi paranoid dengan Gordo ini.

 

Siapakah Gordo? atau... Siapakah Simon?

Robyn, sang istri mulai mencari tahu sendiri, apa yang terjadi di antara mereka di masa lalu.

 

Film Psychology thriller ini diarahkan dan ditulis oleh sang aktor Joel Edgerton itu sendiri yang memerankan Gordo (pria canggung yang ingin menawarkan pertemanan). Film ini merupakan debut pertama Edgerton sebagai director dan berhasil memukau penontonnya. Edgerton, dapat menunjukkan kepada penonton apa yang terjadi saat karakter tokoh suami istri menerima seorang ‘teman’ yang tadinya hanya sebatas kesopanan menjadi penelusuran masa lalu yang gelap, dengan menegangkan dan menyeramkan. Ditambah dengan sound editing & mixing yang luar biasa oleh Julian Slater, yang bisa membuat jantung saya copot 1-2 kali.

 

 "Once a bully, always a bully”

 

Salah satu konflik psikologi yang diangkat di film ini adalah masalah bullying dari karakter Simon. Stephen Holden penulis the New York Times, berkata The Gift” insists that leopards don’t change their spots: Once a bully, always a bully. Seorang yang masa kecilnya suka menindas anak lain bisa menjadi karakter dan terbawa sampai dewasa.

 

Inilah yang terjadi juga di kehidupan nyata seperti tempat kerja. Kultur perusahaan yang mengiyakan bahwa curang dan berbohong tidak apa-apa, asal tidak ketahuan,  saat manipulasi data dan lainnya. Penindasan dan kekejaman yang 'halus' adalah bagus untuk dunia bisnis. Akhirnya toh pada waktunya akan terkuak juga kebenaran dan saat sudah menyesal, kehidupan rumah tanggapun sudah hancur. 

 

Film ini tidak berakhir dengan menunjukkan siapa penjahatnya dan pemenangnya. Melainkan menunjukkan sebuah lingkaran gambaran hidup yang kejam bahwa yang menang adalah dia yang akan melakukan apapun agar lebih unggul dari lawannya, dan mendapat sensasi kesenangan dengan menyiksa dan menindas dia yang lemah.

 

Menurut saya film ini memiliki pesan moral yang sangat serius dengan kehidupan kita yang tinggal di kota metropolitan. Mencapai kesuksesan dengan cara curang dan bullying akan berakhir sia-sia. Mengampuni memang mahal harganya, tapi tidak pernah berakhir sia-sia, kita bisa menghentikan lingkaran hidup yang kejam seperti di atas dan  bisa hidup damai dengan orang lain terlebih lagi damai dengan diri sendiri. 

 

 

 



Annie Claire

No Comments Yet.