Suamiku dan Ayah Anakku


Monday, 30 Nov -0001


 

Ulah dan berbagai kasus yang dibuat oleh anak sulung kami sungguh menguras tenaga kami sebagai orangtua. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, kami akrab menghadap guru karena perbuatan-perbuatannya. Dari berbohong, bertengkar, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, tidak naik kelas, kemudian ia dikeluarkan dari sekolah; semuanya membuat aku benar-benar

“Masukkan saja dia ke asrama, Pa!” Kataku setengah berteriak kepada suamiku. Kala itu anak sulungku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, ia memukul temannya dan orangtua temannya itu memperkarakan perihal pemukulan tersebut serta meminta sekolah mengeluarkan anakku. Aku sungguh kehabisan akal untuk menghadapi Ruslan, anakku itu. Segala macam hukuman sudah aku dan suamiku berikan padanya secara kompak. Suamiku selalu mendukung caraku untuk membesarkan kedua anak kami. Ia tidak pernah mengkritik cara-caraku mendidik anak-anak.

“Tidak! Ruslan harus tetap di rumah ini, Ma.” Jawab suamiku. Jawaban suamiku sungguh membuatku naik pitam. Itulah pertama kalinya suamiku tidak sependapat denganku.

“Kalau begitu, kau saja yang urus anak itu! Atur dia yang benar! Aku menyerah!!!” Ucapku sambil berteriak-teriak.

“Ma… Sekolah-sekolah boleh menyerah mendidik Ruslan. Mereka boleh mengeluarkannya. Tapi, kita orangtuanya, tidak boleh menyerah. Kita harus tetap memperjuangkan Ruslan, Ma. Itulah tugas kita sebagai orangtua.” Sanggah suamiku.

“Kau enak saja bicara! Kurang berjuang bagaimana lagi kita buat dia? Dia anak brengsek!” Kataku.

Keesokan harinya suami dan anakku pergi ke sekolah. Seharian suamiku mengurus kasus itu. Ternyata ia meminta maaf kepada orangtua teman anakku dan memohon-mohon agar sekolah tidak mengeluarkan anakku. Pembicaraan mereka sungguh panjang, suamiku pun sempat mendapat makian orangtua teman anakku dan mendapat nasehat panjang dari pihak sekolah, ia harus menerima pernyataan bahwa ia adalah orangtua yang buruk dalam mendidik anak. Singkat cerita, anakku tidak jadi dikeluarkan karena permintaan maaf suamiku.

Setelah kejadian itu, masih ada lagi kasus Ruslan yang sempat terjerat narkoba, dan suamikulah yang mengantarkannya ke tempat rehabilitasi dan mengawasi kehidupan Ruslan setelah kembali dari rehabilitasi itu.

“Jika kita menyerah… Lalu Ruslan akan jadi apa, Ma?” Kata suamiku suatu hari.

“Yang penting, kita sudah kasih semua yang terbaik. Kalau dia memilih mau jadi gembel, terserahlah!” Jawabku sengit.

“Ma… Ketika kau melahirkan Ruslan, kau hampir kehilangan nyawamu karena pendarahan. Jika saat itu kau mati demi melahirkan Ruslan, bagaimana menurutmu?” Tanya suamiku kurang jelas kemana arahnya.

“Itu adalah resiko para ibu yang melahirkan. Ibu mana pun rela berjuang agar anaknya hidup.” Kataku.

“Saat kau pendarahan, kau mau berjuang untuk Ruslan agar ia tetap hidup… Sekarang, Ruslan hidup dengan karakter yang belum bisa kita pahami. Tidakkah kau mau memperjuangkannya agar ia punya kehidupan yang baik?” Tanya suamiku.

“Tapi aku lelah, Pa. Aku lelah, aku bingung, aku marah, aku sedih... Aku merasa gagal sebagai orangtua. Aku capek sekali.” Kataku sambil berlinang airmata. Segera suamiku memelukku.

“Aku tahu, Ma. Aku tahu.” Katanya menenangkanku.

Kemudian, suamiku masih terus berjuang untuk membiayai kuliah Ruslan dan Ranti, anak-anak kami. Untuk Ranti, hal itu tidak pernah menjadi masalah bagiku. Sedangkan untuk Ruslan, sejujurnya, jauh di lubuk hatiku, aku tidak percaya dia akan dapat menyelesaikan kuliahnya. Aku merasa, usaha dan kerja keras untuk Ruslan akan hanya menyakitkan hati kami saja pada akhirnya. Namun, berbeda sekali dengan keyakinan suamiku, ia tetap bekerja dengan gigih untuk memastikan anak-anak kami menyelesaikan pendidikan mereka. Kami berhemat dan sesekali harus meminjam uang dari saudara-saudara kami agar anak-anak kami bisa menyelesaikan kuliahnya.

“Pa, Ma… Aku lulus! Aku kini Sarjana Tehnik.” Kata Ruslan di suatu sore. Suamiku segera memeluk anak kami itu. “Papa bangga, Ruslan. Papa bangga sekali.” Katanya. Sementara aku terdiam kaku, tak tahu persis harus bereaksi bagaimana. “Ma, apa mama tidak senang?” Tanya Ruslan. Dan hari itu, pertanyaan Ruslan hanya sanggup kujawab dengan tangisan, tangisan bahagia, tangisan rasa lega.

Itulah kejadian 10 tahun yang lalu. Saat ini kedua anak kami telah berumah tangga dan menjadi orang-orang yang berhasil. Aku dan suamiku hanya tinggal berdua saja sekarang. Kupandangi suamiku di teras rumah sedang membaca koran… Ia suamiku, ayah anak-anakku, yang telah menjalankan bagiannya dengan sangat bertanggung jawab, memperjuangkan keluarga ini tanpa menyerah. Terimakasih Tuhan, Kau anugerahi aku pasangan hidup yang teramat baik.

Urbanesse, dari pengalaman di atas, ternyata seorang anak  memang memerlukan  kasih yang tulus dari kedua orangtuanya. Sementara orang tua perlu lebih sabar dan bisa menguasai diri dalam menghadapi situasi demikian supaya tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati sang anak atau menimbulkan masalah baru di dalam keluarga. Ruslan yang sempat menimbulkan keraguan apakah lulus atau tidak, berkat kesetiaan ayah dan ibunya yang selalu mendukung satu sama lain dan kegigihan seorang suami yang selalu memotivasi istrinya untuk terus bersama-sama berusaha tidak menyerah pada keaddan akhirnya membuahkan hasil, Ruslan lulus dan menjadi seorang Sarjana Teknik dan berhasil.



Unknown

No Comments Yet.