Suami, Istri, dan Ketulusan


Monday, 30 Nov -0001


Ketulusan ....sebuah kata yang sering kali diucapkan kepada orang-orang yang kita sayangi. Arti Ketulusan yang aku tahu adalah sikap perhatian dan mau memberikan atau melakukan apapun kepada orang lain dengan ikhlas. Kata ini sangat mudah diucapkan, tapi sangat sulit untuk dilakukan.
 

Seperti yang belakangan aku alami, ketika menjalani kehidupan pernikahan semua terlihat tidak ada yang berbeda aku merasakan masih sama seperti masih pacaran malah lebih kompak dan romantis.

Tahun kedua , ketiga , keempat kelima semua berjalan seperti biasa tidak ada kecemburuan berlebihan, kami masih bisa bebas hangout dengan teman-teman kami, kami masih seperti pasangan yang baru menikah.

Ketika aku  mengikuti sebuah seminar, si nara sumber menceritakan bagaimana hubungannya dengan suamisi nara sumber itu menceritakan kalau suaminya selingkuh bisa dengan 10 wanita sehari. Di dalam pikiranku  melayang-layang ke masa lalu. Sekilas info waktu kami single, kami terkenal player suka gonta-ganti pacar atau suka gebet tapi tidak dijadikan pacar dan buat kami itu cuma sebuah keisengan atau sebuah tantangan. Sampai teman-teman kami bilang sebuah kutipan “pasanganmu adalah cerminan mu” itu pas sekali untuk kami. Aku takut hal itu terulang dalam kehidupan pernikahanku.

Pulang dari seminar itu aku berdiskusi dengan suami. Apakah suatu saat kita akan kembali seperti dulu yang tidak bisa setia? Apakah kami akan selingkuh. Seperti biasa suamiku menenangkanku  kalau semua akan baik-baik saja, kalaupun ada wanita yang menarik, untuknya cuma sekedar menarik tidak akan menjadikan dia harus memakai hati atau cinta.
 

Suatu saat suamiku ditugaskan ke luar kota, tidak ada yang berbeda. Tapi malam setelah suamiku pulang dari tugas, tidak seperti biasanya aku ingin sekali cek-cek Hp nya. Semua chatnya ku lihat, semua sms ku lihat satu per satu. Mataku  terhenti dan serasa tersedak cabai, aku melihat ada chat dengan wanita lain dan tidak seperti chat biasa…ini tidak biasa ini sudah di luar pertemanan. Tidak ada perasaan ingin menangis malah aku hanya tertawa, segera aku bertanya apa arti chat itu. Suamiku kaget dan hanya bisa bilang itu bukan apa-apa. Sekuat hati aku tahan untuk tidak meledak. Suamiku  menjelaskan kalau semua hanya iseng tidak ada niat lebih, walaupun aku sangat mengerti dan pernah ada di posisi itu tapi sepertinya  tidak ada penjelasan yang bisa masuk ke otakku

Akhirnya aku minta dia pergi dari rumah agar aku tidak melakukan atau mengatakan yang tidak-tidak.

Usahaku untuk mengusirnya tidak berhasil, suami ku memohon untuk mengerti kalau apa yang dia lakukan benar benar bukan hal yang serius hanya iseng, hanya untuk goda-goda. Sepanjang malam kami membicarakan masalah ini dan akhirnya masa laluku ter ungkap lagi, masa yang di mana aku juga pernah iseng menanggapi mantanku dan dia dengan berbesar hati memaafkan ku apalagi kejadian itu terjadi di tahun pertama pernikahan kita dan menjelang Honeymoon ke-2 kita.

Di dalam hati aku juga mengerti  apa yang dilakukannya itu dan aku coba untuk menjadi di posisi dia saat itu. Tapi tetap tidak bisa…mungkin aku sangat egois tetapi tidak bisa kuterima semua itu.

Tanpa sepengetahuannya akhirnya aku memilih untuk pergi tidak pulang ke rumah. Niatku hanya untuk menenangkan diri memantapkan keputusanku. Tidak ada niat sedikit pun untuk meninggalkan atau menyerah pada pernikahan kami. Yang ada di otakku adalah apakah kejadian ini akan terus berulang bergantian…aku tidak mau hal itu terulang secara bergantian aku atau suamiku.

Ketika aku melakukan keisengan-keisengan itu aku ingat suamiku tapi tetap kulakukan dan hal itu juga yang dikatakan suami ku, saat chat dengan wanita itu dia ingat aku istrinya tetapi lebih besar rasa iseng dan penasarannya makanya tetap dia lakukan.

Ya Tuhan….apa semua ini akan selalu kami lakukan. Aku hanya bisa menangis sendiri di keheningan malam itu. Pernikahan macam apa ini? Akankah kami berhasil untuk tetap mempertahankan kesetian dan pernikahan kami nantinya.
 

Tak kusangka suami ku jam 2 pagi bisa menemukanku di tempat pelarianku. Dia memohon untuk tetap berjuang dengan pernikahan kami walaupun dengan semua kekurangan yang ada, kami berusaha saling Tulus memaafkan kesalahan, dan tulus mencintai dengan apa ada nya kami dan masa lalu kami.

Sampai saat ini aku tetap berusaha selalu menjadi istri yang terbaik untuknya karena hanya itu yang bisa ku perbaiki untuk diriku sendiri. Semoga dengan kekurangan ini, kami bisa jadi keluarga yang lebih kuat, tegar, dan langgeng sampai akhir hayat memisahkan kami.

 

Seperti suamiku dulu dengan tulus memaafkanku, kini aku akan berusaha tetap tulus memaafkannya.



Angel

No Comments Yet.