Sombong Tidak Seh Kita ?!


Monday, 30 Nov -0001


 

Mungkin banyak artikel-artikel di edisi ini berbicara seputar orang lain yang sombong, apakah itu teman kerja kita, teman di luar, atau bos-bos kita. Ya memang orang sombong di mana-mana banyak dan memang mudah untuk mencari si sombong itu. Tapi dengan artikel ini saya mau mengajak orang untuk melihat ke diri masing masing karena ini termasuk perjalanan saya sendiri dalam mengatasi kesombongan-kesombongan yang ada di dalam diri saya.

 

Mungkin banyak orang yang seperti saya, biasa memberikan alasan kenapa kita bersikap sombong. Kalau dari perjalanan hidup saya sendiri beberapa sifat sombong yang saya miliki berawal dari:

 

1.   Tidak mau diremehkan

Kalau kita tidak bersikap seperti itu, tapi kalau awalnya kita baik dan ceria orang cenderung merendahkan menganggap kita bodoh dan polos. Maka alasan saya bersikap sombong adalah “karena saya tidak mau diremehkan”.

 

2.   Saya punya kesempatan untuk sombong.

Saya berasal dari keluarga cukup berada. Buat apa saya baik-baik sama yang menurut saya tidak satu level? Toh tidak ada gunanya. Malah nanti akan bikin saya repot dengan berbagai keinginan mereka untuk dibantu.

 

3.   Bersikap sombong ada gunanya

Kalau kita bersifat sombong, apalagi penampilan kita memadai banyak benefitnya di Jakarta ini. Dianggap seseorang sehingga mendapat layanan lebih, dianggap lebih serius oleh orang-orang sombong lainnya dan bisa mendapat banyak hal-hal gratis yang kalau tidak sombong tidak akan dapat.

 

4.   Bersifat sombong memuaskan diri saya

Dengan bisa bersifat sombong dan dibiarkan oleh masyarakat umum, otomatis dong saya merasa lebih dari yang lain dan merasa lebih itu memberikan kepuasan loh. Sangat. Sepertinya ego kita terus menerus diisi: “I am special, I am exclusive, I am of a different class”.

 

 

Nah awal dari kesadaran saya adalah ketika saya melihat orang orang yang jauh lebih di atas saya namun bersifat sederhana dan ramah. Saya suka sekali mereka ramah dan baik sama saya dan mereka selalu ada di benak saya. Sebaliknya kalau ada orang yang lebih kaya, lebih cantik, lebih pintar bersikap sombong kepada saya, kadang saya terima tapi perasaan saya tidak enak. Lalu saya berpikir, kalau rasanya tidak enak kenapa saya membiarkan diri saya bersikap demikian? Terlebih saya menjadi kurang hormat dengan orang-orang sombong tadi.

 

Wah kalau begitu sebenarnya walau saya merasa senang dan nyaman dengan kesombongan saya, di luar orang memandang dan berpikiran yang berbeda. Sebenarnya orang sombong sering dihina di belakang mereka, tidak dihormati, dan juga dihindari bahkan dianggap bodoh. Kenapa saya tahu? Karena saya sendiri berpikiran seperti itu terhadap mereka yang sombong hahahaha terutama yang sombongnya sudah tidak pada tempatnya.

 

Rasanya seperti katak dalam tempurung, kita sendiri yang menganggap diri kita spesial dan mengidolakan diri kita, padahal di luar tempurung itu sebagian besar tidak memandang kita seperti itu. Kalau kita ada kelebihan orang akan memuji secara objektif tapi dengan sikap sombong itu orang pun akan memberikan pendapat yang objektif. Jadi kira kira seperti ini: “iya sih dia anak orang kaya dan cukup pintar,tapi oh my God gayanya itu loh memangnya dia Lady Diana? Ke laut aja deh hahahaha” Sesak ya kalau saya bisa mendengarkan itu dari mulut orang lain kepada saya. Bukan bangga tapi miris.

 

Dari situ saya analisa lagi alasan utama yang membuat saya sombong dan saya mencoba memenuhinya dengan cara lain:

 

1.   Tidak mau diremehkan

Solusi tidak mau diremehkan sebenarnya sederhana. Coba kita telaah, siapa orang yang meremehkan itu? Apakah mereka terpelajar? Biasanya orang yang suka meremehkan orang saya lihat mereka bukan dari kalangan yang mempunyai tata nilai yang baik, jadi buat apa saya gubris perlakuan buruk mereka dan bergaya seperti mereka. No. Biarkan mereka meremehkan karena mereka juga bukan orang yang saya kagumi/hormati bahkan bukan orang yang saya teladani.

 

2.   Punya kesempatan sombong

Walaupun kita punya kesempatan sombong, kesempatan menghina orang, kesempatan-kesempatan lainnya dalam konotasi negatif karena hal itu negatif selayaknya kalau kita salah tidak kita lakukan. Karena kalau dilakukan ya kita pribadi yang negatif. Jadi apa yang bisa dan biasa kita lakukan itu belum tentu hal yang baik untuk kita dan orang lain.

 

3.   Benefit bersifat sombong

Iya benar dengan bersifat sombong kita bisa mendapat banyak benefit tapi begitu juga dengan berisfat terpelajar. Jika harus memilih di antara keduanya terpelajar terdengar lebih baik ya? Jadi untuk bisa tetap mendapat benefit-benefitdari sifat sombong saya bisa beralih ke sifat yang lebih positif untuk benefit yang sama.

 

4.   Kepuasan ego dr bersifat sombong.

Nah yang terakhir kepuasan ego. Sebenarnya ego masing masing dari kita bisa diisi oleh hal lain seperti prestasi, afirmasi orang-orang yang dekat dengan kita, memenuhi makna hidup kita masing-masing. Ya pemenuhan ego dengan cara sombong saya alihkan ke tiga hal ini. Hasilnya? Lumayan juga! Tetap percaya diri dan mantap.

 

Jadi, saya belajar bahwa saya tidak mau sombong karena sebenarnya sifat sombong itu mempermalukan diri sendiri. Kedua walau saya kehilangan benefit dari sikap sombong tapi benefit itu bisa saya dapat dengan jalan yang positif.

 

Nah kembali kepada para pembaca apakah sifat sombong itu memang sifat yang baik dan mau dipupuk? Terlebih setelah kita tahu kepuasan dari sifat-sifat  ini bisa dipenuhi dengan cara lain? Maybe yes maybe not, keputusan saya balikkan ke tangan Urbanesse.

 

 

 

 

 

 

 



Priscilla

No Comments Yet.