Sincerity Keeps My Marriage Alive


Monday, 30 Nov -0001


Apa yang ada dipikiran kita ketika mendengar kata ‘tulus’ ? Mungkin untuk saat ini, kata tersebut sering kita dengar, bahkan menjadi lirik lagu, diajarkan, namun jarang kita benar benar tahu ,paham  dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. 

Kali ini saya akan menceritakan kisah nyata tentang apa yang dialami teman saya, yang berprofesi sebagai seorang dokter, sekaligus istri dan seorang ibu, bagaimana ia melalui permasalahan dalam rumah tangganya dengan sifat ketulusannya.
 

Sebut saja dia dengan inisial ‘A’. Kisahnya dimulai dari saat permulaan dia berjumpa dengan suaminya. Mereka adalah teman SMA dahulu, namun tidak dekat. Sudah lama tidak berjumpa, kemudian ketika saat kuliah, bertemu lagi tanpa sengaja di acara pernikahan temannya. Singkat cerita, dengan pertemuan yang hanya 5 kali, pacaran jarak jauh atau alias ‘Long Distance Relationship’ dan tidak dalam waktu lama, mereka memutuskan untuk menikah, dengan persiapan 10 bulan. Karena hubungan jarak jauh dan jarang komunikasi serta bertemu, mereka saling tidak terlalu paham karakter masing-masing.

Perjalanan pernikahan mereka banyak dilalui dengan kekerasan yang dilakukan oleh suaminya yang berprofesi sebagai seorang polisi. Hingga saat kehamilan pertama, A mengalami keguguran. Emosi luapan berlebihan yang dilakukan oleh suaminya, sehingga mengakibatkan tidak hanya orangtuanya saja yang tidak menerima kekerasan dan kehadiran suaminya lagi, tetapi para tetangga dan penjaga keamanan juga seringkali mengkhawatirkan kondisi si A bila terus berdampingan dengan sang suami.

Kondisi semakin parah, terutama karena  suami menjadi polisi penjaga club, di mana disana banyak sekali yang mengkonsumsi narkoba, dia pun juga menjadi pengguna narkoba. Hingga akhirnya ia berselingkuh dengan wanita lain, dan menghamilinya. Belum lagi ternyata, sang suami juga terkena pengaruh guna-guna (black magic) dari orang-orang kantor yang iri terhadapnya. Kehidupan si A tidak pernah nyaman, selalu dihantui rasa ketakutan, karena sering dihampiri oleh’makhluk-makhluk’ aneh ketika dia hendak tidur. Kehamilan kedua pun, berujung keguguran.

A sangat stress,hingga akhirnya sering mengurung diri atau tidak terlalu berkomunikasi dengan teman-temannya, namun ia masih berusaha profesional sebagai seorang dokter gigi. Seringkali ia menginginkan perceraian, tetapi ketika hamil anak ketiga dan berhasil melahirkan dengan selamat, keinginan untuk bercerai kerap diurungkan, karena berpikir bagaimana psikologis anaknya nanti. 

Selama 2 tahun ini, akhirnya merekapun pisah rumah, tetapi ada waktu tertentu, ia mengizinkan ayahnya untuk bertemu dengan anaknya. Ia berusaha sabar dan ikhlas menjalani ini semua. A walaupun mengalami kekerasan, perselingkuhan sekian tahun, dia tetap berusaha untuk tulus menerima kondisi suami, dan melayaninya suaminya bila datang ke rumahnya. Ia kerap kali berkata “Saya menyayangi dan mencintai pasangan dan anak saya dengan sangat tulus dalam berbagai hal. Walaupun pasangan saya pernah menyakiti dan menghancurkan hidup saya, serta impian saya. Pernah ada saat, di mana saya merasakan terkadang susah untuk benar tulus karena ternyata pasangan berbohong demi membela dirinya yang sebenarnya melakukan kesalahan”.
 

Seiring berjalannya waktu, dan akhirnya kesabaran, ketulusan dan keikhlasannya akhir-akhir ini berbuah hasil yang indah. Dia bercerita mengenai suaminya,” Dia mulai memperbaiki diri dari waktu ke waktu, agar bisa menjadi pasangan hidup sekaligus seorang ayah yang baik. Yah walaupun tidak langsung totally baik, tapi setidaknya, sudah ada kemajuan yang sangat pesat dibanding sebelumnya. Itu membuat saya cukup bersyukur kepada Tuhan atas apa yang sudah saya lakukan dan jalani selama ini”.

“Dengan adanya rasa tulus, saya bisa menerima kenyataan pahit disaat hidup saya ga seperti yang diharapkan dan dibayangkan. Kemudian seiring berjalannya waktu, ketulusan yang benar benar tulus saya lakukan dari hati, pasangan saya mulai berubah”, A berkata.
 

Ketulusan ini tidak hanya dia lakukan kepada keluarga, tetapi juga pekerjaannya. Karena seperti yang Ayahnya telah ajarkan kepada  A, bahwa ketika  bekerja, apalagi seorang dokter, yang harus diingat adalah amal bukan uangnya.Karena ketika pasien senang ia telah terobati, dan tarif tidak mahal, maka kita telah membahagiakan orang 2kali, dan rasa itu tidak terbayarkan hanya dengan materi.

 

 

 

 



Anonim

No Comments Yet.