Si Cantik yang Sombong


Monday, 30 Nov -0001


Kisah ini based on true story sahabatku. Aku memiliki sahabat yang bernama Ditha (bukan nama sebenarnya) kami bersahabat sejak kelas 1 SMA hingga sekarang kami telah sama-sama bekerja.  Diantara kelima sahabatku, memang kuakui Ditha lah yang paling menonjol karena kecantikkan fisiknya dan dialah  sahabatku yang paling banyak fansnya. Karena kecantikan fisiknya tersebut hingga dia lupa akan arti sebuah kerendahan hati dan penghargaan terhadap diri sendiri.
 

Ditha tahu dirinya cantik dan dengan kerupawanannya itu dia mampu dengan mudah menggaet laki-laki. Dia pernah mengatakan padaku “Aku sih nggak mau yaa, pacarin laki-laki yang nggak punya apa-apa, nggak bisa di manfaatin dan wajahnya pas-pasan. Setidaknya perempuan seperti aku musti selalu dapat laki-laki yang nggak hanya ganteng tetapi juga musti tajir. Apa kata dunia kalau sampai ada yang ngomong ..Kok lakinya jelek perempuannya cantik sih. Makanya Budi sampai saat ini aku gantung gak jelas kaya jemuran haaahaaa...”ungkapnya padaku. Aku berucap dalam hati “Ya..Ampun Ditha sombongnya kamu, kecantikan itu rezeki dari Tuhan tidak seharusnya kamu salah artikan untuk memancing laki-laki dan memanfaatkan mereka” aku sebagai sahabat Ditha hanya bisa memberitahunya pelan-pelan tapi sepertinya dia tidak menggubris perkaataan aku dan sahabatku yang lain. Dia tetap pada prinsipnya untuk mendapatkan laki-laki tampan yang bisa dia manfaatkan uangnya. Maklum Ditha memang bukan berasal dari keluarga berada, dia tulang punggung keluarga dengan 2 orang adiknya yang masih kecil-kecil.
 

Namanya Budi (bukan nama sebenarnya) dia salah satu orang yang sangat mencintai Ditha dari sejak SMA. Budi memiliki perasaan sayang dan ingin memiliki yang begitu menggebu sejak kelas 1 SMA hingga saat ini terhadap Ditha. Budi begitu gigih dalam perjuangannya untuk mendapatkan Ditha sang pujaan hati bahkan apapun yang Ditha inginkan dipenuhi oleh Budi. Dari mulai handphone hingga kebutuhan sehari-hari Ditha dipenuhinya, Tiap bulan Budi selalu mengajaknya belanja di mall untuk membeli sepatu, baju, kosmetik yang diinginkan Ditha. Memang Budi datang dari keluarga berkecukupan jadi tidak heran dia mengabulkan apa yang diminta Ditha. Setiap hari sepulang kantor dia selalu di antar jemput oleh Budi. Namun, parahnya yang tidak Budi tahu adalah Ditha sebenarnya memiliki pacar lain alias berselingkuh di belakang Budi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Budi kalau dia mengetahui kalau dirinya diselingkuhi.
 

Aku pernah menanyakan pada Budi bagaimana hubungan dia dengan Ditha, Budi hanya menjawab aku masih sebatas teman dekat, aku sudah mengungkapkan perasaanku pada dia tapi sampai saat ini dia mengatakan kalau dia belum siap berkomitment dengan laki-laki karena dia sedang fokus bekerja untuk keluarga dan adik-adiknya. Budi yang menurutku begitu baik mau saja disuruh menunggu oleh Ditha, entah sampai kapan karena aku tahu Ditha tidak serius padanya, dia hanya memanfaatkan Budi sebagai ATM dan tukang ojek berjalannya saja. Budi memang tidak memiliki rupa yang tampan, tetapi dia cukup matang dan dewasa. Meski setiap hari cacian, makian dan kelabilan Ditha yang kalau didengar membuat  sakit hati, namun Budi tetap dengan ketenangannya menemani Ditha. Budi sangat mencintai Ditha maka apapun dia lakukan biarpun Ditha “Jutek” padanya, meski Ditha tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya.

 

Ditha memiliki pacar lain di luar sana tanpa sepengetahuan Budi, beberapa kali memang dia cerita padaku kalau dia sedang berpacaran dengan 2 orang laki-laki tampan, tapi laki-laki tersebut sepertinya hanya memanfaatkannya. Ditha cerita kalau tabungannya dikuras habis dan sudah beberapa kali dia selalu diajak check in di hotel. Hingga pada suatu hari ditengah malam Ditha datang kerumahku untuk curhat, sambil menangis dia menceritakan tentang kondisinya yang saat ini menurutnya dia sudah hancur-hancuran.
 

Tabungannya dikuras habis oleh pacarnya yang lain, keperawanannya pun sudah hilang oleh laki-laki lain tersebut yang mengaku orang kaya dan berjanji akan menikahinya tetapi malah pergi meninggalkannya untuk menikah dengan perempuan lain. Dia menangis terisak menyesali yang telah terjadi. “Aku melakukan kesalahan menolak Budi dengan menggantung perasaanya padaku. Aku terlalu sombong terhadapnya denga kelebihan fisik yang aku miliki, Padahal dialah yang benar-benar mencintaiku tetapi aku memang belum bisa benar-benar mencintai dia” terangnya padaku.
 

Aku pun menjawab “Dit, sebelum terlambat ada baiknya kamu pikir ulang untuk mempermainkan perasaan Budi. Meski kamu sering berkata kasar padanya, memarah-marahinya, menjelek-jelekkan fisiknya. Karena dia sangat mencintai kamu. Buktinya sudah bisa kamu lihat dan rasakan bukan? Jadi lebih baik sekarang kamu datangi dia, ceritakan semuanya yang terjadi. Dia laki-laki baik pasti dia akan bijak memahaminya dan kurangi sifat sombong akan kecantikan yang kamu miliki. Karena kecantikan fisik hanya sementara saja, beberapa tahun kedepan kecantikan itu akan hilang Dit karena menuanya usia” Ungkapku.
 

Ditha pun mendatangi Budi dan menceritakan semuanya. Seperti yang aku katakan pada Ditha, Budi pun menerima pengakuan Ditha tentang diri dan perasaanya, dia pun  memaafkan Ditha yang sudah menggantung perasaannya selama ini, sekarang mereka berpacaran perlahan tapi pasti Ditha dengan sendirinya bisa menerima Budi dan 2 bulan lagi mereka baru akan melangsungkan pernikahan. Aku sebagai sahabatnya hanya berharap semoga pernikahannya lancar dan bahagia untuk mereka berdua.
 

Sejak kejadian itu Ditha pun kini berubah menjadi pribadi yang lebih sederhana, dia tidak lagi menilai dirinya dari kecantikan fisik yang dimilikinya, tidak lagi membanggakan dirinya sendiri dan merendahkan fisik orang lain terutama laki-laki yang menyukainya. Dia menyadari bahwa kecantikan fisik itu anugerah sama seperti halnya harta dan kedudukan sifatnya hanya titipan sementara saja dari Tuhan. Perlahan semua itu akan musnah dan hilang karena memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Sejatinya kita sebagai Makhluk Tuhan memang harus menjauhi sifat sombong dan membanggakan diri sendiri, karena hasilnya mutlak tidak pernah ada kebaikan di dalam sifat sombong tersebut.

 

 

 



Sakti Herahmani

No Comments Yet.