Selama 21 Tahun Disiksa, Artha Tetap Setia


Monday, 30 Nov -0001


Menjadi pasangan suami istri yang bahagia tentu merupakan dambaan semua orang. Ketika ditanya apa kriteria yang diinginkan dari seorang suami, maka umumnya jawaban yang akan didengar adalah setia, sayang sama istri, bertanggung jawab, dewasa, sehat, sukes dalam pekerjaan/bisnisnya & ganteng. Tapi, sering juga terdengar kisah tentang suami yang selingkuh, melakukan kekerasan, berjudi dan tidak menghargai istrinya. Kira-kira, apa yang akan dilakukan Urbanesse saat mengalami hal ini? 2 jawaban yang paling sering terdengar adalah berpisah atau bertahan dan berharap suami berubah sambil tetap menunjukkan sikap yang baik dan benar.

Pisah. Mungkin ini jawaban yang paling pertama muncul saat diberikan gambaran seperti itu. Dengan berbagai pertimbangan, “Kalau bukan saya yang menyelamatkan diri saya, siapa lagi?”, “Hanya berpisah sementara koq sampai keadaan membaik. ”, “Ini demi kebaikkan anak-anak juga.”, dan masih banyak pertimbangan lain yang tidak akan habis jika disebutkan di sini satu per satu. Memang tidak mudah berada dalam pernikahan seperti ini. Di satu sisi ingin mempertahankan pernikahan, tapi juga tidak tahan dengan keadaan. Kalau berpisah, bagaimana dengan anak-anak, mereka akan memiliki keluarga yang tidak utuh dan saya (mungkin) gagal sebagai seorang istri. Kalau tidak berpisah, ini juga tidak sehat untuk anak-anak dan saya. Tentu pertimbangan yang muncul akan lebih kompleks lagi dari yang saya jabarkan di sini. Ini hanya sebagian kecil. Seperti makan buah simalakama ya?

Bertahan, berharap suami berubah sambil tetap menunjukkan sikap yang baik dan benar sebagai istri. Mungkinkah? Apa iya suami akan berubah? Bagaimana caranya? Apa untungnya saya tetap bersikap baik dan benar, sementara si suami sudah sangat jahat terhadap saya (dan anak-anak)? Segudang pertanyaan lainnya akan muncul, jika memilih pilihan ke-2. Pilihan ini yang dipilih oleh Artha dalam menghadapi suaminya, John. Berapa lama? 1 bulan? 6 bulan? 1 tahun? 3 tahun? Bagaimana kalau 21 tahun? Artha bertahan dalam pernikahannya yang seperti ini sekitar 21 tahun. Hah?! Iya, 21 tahun, bukan 12 tahun, bukan 2 tahun, bukan juga 1 tahun. Saat itu, John adalah seorang pria yang ganteng, royal kepada semua wanita, mata keranjang & suka main perempuan, pemabuk, penjudi, main tangan dan semua keburukkan yang ada dalam seorang suami. Terakhir, semua uang yang dimiliki keluarga ini habis, ludes oleh John, karena kebiasaan-kebiasaan buruknya. Wajar saja jika Artha memilih pilihan pertama, pisah. Tapi, jika Artha memilih pilihan pertama, pengalaman ini tentu tidak akan pernah ada, dan tidak akan pernah bisa dibagikan kepada Urbanesse :).

Kejadian ini sudah dialami Artha sejak mereka baru saja menikah. Biasanya, di masa awal pernikahan, masih terasa manis dan indahnya, tidak demikian bagi Artha. Sedih, kecewa, ingin menyerah, takut, marah, kesal, semuanya dirasakan oleh Artha sejak awal, tapi tidak pernah ditunjukkan kepada John. Artha memutuskan untuk bertahan dalam pernikahan ini dan tetap melakukan yang terbaik yang ia bisa sebagai seorang istri.

Apa yang terjadi selama 21 tahun itu? Setiap hari, John tiba di rumah pasti subuh. Setiap hari itu juga, Artha menunggu John hingga tertidur di sofa ruang tamu. Ketika John tiba di rumah, sambil tersenyum, dengan lembut dan penuh kasih, Artha menyambut kepulangan John, seolah-olah John adalah seorang suami sempurna dan sama sekali tidak pernah melakukan hal buruk. Sama sekali tidak dengan kemarahan, tidak ada kata-kata sinis, tidak ada pertanyaan atau pernyataan yang memojokkan, tidak ada kalimat yang menunjukkan bahwa Artha kecewa, marah, curiga dan cemburu. Artha menyiapkan air hangat untuk John mandi dan susu hangat untuk diminum sebelum John tidur. Paginya, Artha menyiapkan sarapan untuk John dan anak-anak mereka, sama, seperti tidak ada hal buruk apa pun yang dilakukan oleh John, padahal Artha dengan sangat jelas mengetahui semua keburukkan John. Artha mengasihi dan melayani John sebagai suaminya yang sempurna. Artha tidak pernah complain dan mengeluh tentang suaminya, walaupun tidak jarang John memukul Artha. Setiap kali John melakukan sesuatu yang menyakiti, baik fisik maupun perasaan, Artha tidak pernah membalas. Artha menangis sendiri di kamar, dan tetap berpegang pada harapannya bahwa John akan berubah 180o menjadi seorang suami idamannya.

Hitungan hari, minggu, bulan bahkan tahunan, John tidak menunjukkan perubahan sama sekali. Artha tidak menyerah, tetap berharap dan yakin John akan berubah. Harapan dan keyakinannya ini ditunjukkan dalam tindakan sehari-hari dalam pernikahannya. Lembut. Penuh kasih. Menghargai dan menghormati John sebagai suami dan kepala keluarga dalam kata-kata dan tindakan. Sebisa mungkin tidak ribut di depan anak-anak mereka, karena ingin menjaga supaya anak-anaknya tetap bisa menghormati John sebagai ayah mereka. Itu pun, masih menimbulkan kekecewaan yang sangat mendalam bagi anak-anak mereka. Anak ketiganya, nekad menusuk ayahnya, karena memendam kemarahan yang luar biasa terhadap ayahnya. Anak keduanya, menjadi seorang bandar narkoba dan musuh besar polisi. Beruntung anak pertama mereka dapat dikatakan berhasil di bidang pekerjaannya. Mengetahui anak-anaknya seperti ini, hati Artha hancur. Bukan lagi kepingan, tapi seperti debu, bahkan lebih halus dari debu. Sangat hancur dan sakit. Perasaan gagal dan putus asa sering sekali dirasakan Artha.

Suatu hari, setelah 21 tahun bertahan dan berharap, John menghampiri Artha, berlutut dan sambil menangis tersedu-sedu, minta maaf dan minta ampun atas semua yang sudah dilakukannya selama itu. Kaget, bahagia, terharu, terenyuh, girang! Itu yang dirasakan Artha saat itu. Usahanya selama itu tidak sia-sia. Sudah pasti Artha menerima kembali suaminya dengan tulus dan memaafkannya. John juga berlutut, minta maaf dan minta ampun kepada ketiga anaknya, di hari yang sama. Berbagai reaksi timbul: marah, kaget, kecewa dan tidak mau memaafkan. Untuk mendapat penerimaan dari anak-anaknya memang perlu waktu, namun tidak membuat John menyerah. John dengan gigih menunjukkan kepada anak-anaknya bahwa ia ingin berubah menjadi seorang ayah dan suami yang baik bagi keluarganya. Kini, keluarga John & Artha adalah contoh keluarga harmonis bagi orang-orang disekitarnya dan bagi anak-anak mereka sendiri. Anak kedua dan ketiga mereka kini menjadi orang-orang yang sehat jasmani dan rohani dan menjadi contoh bagi masyrakat disekitarnya. Anak keduanya, kini sudah berkeluarga dan menjadi seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab.

Urbanesse, hadiah yang diterima dari kemurahan seorang istri terhadap suaminya selama 21 tahun, tidak tanggung-tanggung. John berubah 180o menjadi seorang suami dan ayah yang baik dan benar. Mungkin Urbanesse sempat berpikir bahwa John tidak layak mendapatkan Artha, Artha terlalu baik untuk John. Ya, ini kemurahan luar biasa yang diterima oleh John dari istrinya. Memang hanya kemurahan dan kasih yang mampu membuat seorang istri yang sudah sangat disakiti masih tetap mau melayani , menghargai dan menghormati suaminya.



Unknown

No Comments Yet.