Sejarah Gender dalam Peradaban Dunia


Monday, 30 Nov -0001


 

Review Buku Gender in World History karya Peter N. Streans

 

Judul                     : Gender in World History (Second Edition)

Penerbit              : Routledge, New York

Tahun Terbit      : 2006

Jumlah Halaman: 176

 

Persilangan antara Ilmu Sejarah dan Feminisme membuka banyak cara pandang baru dalam menulis Sejarah. Di Indonesia, sempitnya pemahaman tentang Sejarah beradu dengan luasnya kita mencoba memahami  feminisme. Seiring perkembangan feminist theory kini berbanding lurus dengan menularnya cara pandang feminis dalam menulis Sejarah. Ketika feminisme tidak lagi berbicara tentang perempuan (sebagian) melainkan berbicara tentang gender, maka kajian menulis sejarah gender menjadi mungkin.

Menulis sejarah gender adalah menulis Sejarah tentang peranan gender, baik perempuan, laki-laki, maupun gender ketiga. Dan dengan mengkaji sejarah gender kita bisa lebih leluasa melihat sejarah relasi hubungan antara perempuan dan laki-laki. Tidak saja menulis perempuan secara perorangan atau perkelompok saja. karena makna perempuan yang bermakna peranan gender bisa lebih merangkul luas dan semua orang berkesempatan untuk melacak dan memiliki sejarahnya masing-masing.

Banyak perdebatan tentang definisi beradaban itu sendiri dan tidak saya tidak menemukan padanan kata yang tepat dari civilitation ke bahasa Indonesia. Tetapi saya menggunakan kata peradaban karena mungkin artinya lebih dekat ke civilization Peradaban dalam bahasa Indonesia berasal dari kata adab. Adab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kehalusan dan kebaikan budi pekerti. Peradaban umat manusia telah dimulai 400 tahun sebelum masehi. Peradaban dimulai dengan munculnya perkumpulan manusia yang membentuk suatu masyarakat yang kemudian menghasilkan kebudayaan. Masing-masing wilayah memiliki peradabannya dan tidak ada peradaban yang murni tanpa adanya kontak dengan kebudayaan lainnya . Peradaban sendiri jika kita sertakan kata sifat, membuat suatu hirarki baru bahwa ada ukuran dari peradaban dan kebudayaan sebagai alat ukurnya.

Penulisan Sejarah dan Feminisme

Untuk Penulisan Sejarah yang objektif , mari kita buang jauh-jauh asumsi bahwa ada tolak ukur dalam peradaban melalui kebudayaan. Tulisan ini berusaha melihat bahwa Sejarah mampu melihat ketidakadilan dalam relasi perempuan dan laki-laki dan menlacak akar dari patriarki yang berkembang dan membentuk sepanjang peradaban terbentuk. Adalah Sejarah Dunia, salah satu aliran dalam penulisan sejarah, Sejarah Dunia mencoba melihat sejak kapan dimulainya peradaban di beberapa wilayah dunia. Dengan menelusuri awal dan asal mula peradaban di dunia membuat kita menemukan petunjuk awal dari kemunculan sistem patriarki di dunia. Sejak kapan sistem patriarki bermula? Asal muasal sistem patriarki, sistem yang menjunjung laki-laki, baik ayah maupun suami, coba ditelusuri oleh para sejarawan.

Salah satu Sejarawan yang menulis tentang Sejarah Gender menggunakan penulisan Sejarah Dunia adalah Peter N. Streans. Dengan menggunakan komparatif studi, ia berusaha menjelaskan bahwa opresi perempuan selalu ada dalam setiap kebudayaan di seluruh dunia dan sitem patriarki memiliki akar yang seumur dengan perkembangan peradaban manusia itu sendiri.

Buku ini dibuka dengan bab perkenalan yang melukiskanbagaimana dua kebudayaan yang saling berkontak. Kebudayaan tradisional Vietnam dengan kebudayaan Prancis sebagai penjajah, saling memiliki standar dan peran gender yang berbeda. Dua kebudayaan tersebut melakukan kontak dan banyak hal yang terjadi akibat kontak dua budaya tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan bahwa feminism dan gender studi telah membawa banyak impact terhadap penulisan sejarah yang selalu dan terlalu male-centric.  Ada banyak usaha untuk membongkar Narasi Besar dalam penulisan sejarah  tentang politik dan kekuasaan melalui berbagai alternatif dalam menulis sejarah dan feminisme berperan dalam mengembangkan penulisan sejarah relasi perempuan dan laki-laki. Peran feminisme tidak hanya sampai disitu, jika pada pengantar buku ini dipaparkan kontak antara Ilmu Sejarah dengan Feminisme, dalam buku ini memaparkan bagaimana ketika dua kebudayaan saling melakukan kontak dalam waktu yang memanjang, sebagai ciri khas tulisan Sejarah. Berbagai hal muncul, Ada prasangka, ada perbedaan standar tentang gender, ada diskriminasi dan pandangan eksotik, ada pula yang berpandangan bahwa paradigma marxisme dan feminisme yang ‘ala’ barat membebaskan ataupun justru melakukan opresi gender. Semua terjadi ketika dua kebudayaan bertemu dan saling mempengaruhi.

Buku ini dibagi menjadi tiga bab untuk melihat perkembangan kebudayaan dan kultur-kultur yang saling mempengaruhi yakni; (1). From Classical Civilizations trough Postclassical Period, (2).Result of European Expansion, 1500-1900, (3).The Contemporary World.

Peradaban dan Kebudayaan Klasik

Secara linier ukuran peradaban dimulai dengan kumpulan manusia yang berkelompok dalam jumlah kecil yang mencari makan dengan berburu dan meramu. Pola hidup seperti ini bertahan hingga setidaknya 12000 tahun sebelum masehi hingga sekitar 10000 tahun sebelum masehi, sebelah utara Timur Tengah, pertanian ditemukan dan merubah cara hidup manusia secara radikal. 350 tahun sebelum masehi selanjutnya, peradaban pertama terbentuk 3500 sebelum masehi di Sumeria, di lembah sungai Eufrat dan Tigris yang kemudian diikuti oleh peradaban di sekitar sungai Nil di Afrika, lembah sungai Indus di India, dan lembah sungai Kuning di Tiongkok.

Sebelumnya perempuan dan laki-laki dalam hidup berburu dan meramu memerankan peran vital yang sama untuk berburu dan mengumpulkan makanan. Dimulainya praktik menetap dan bercocok tanah merubah cara hidup manusia secara radikal dan juga merubah hubungan laki-laki dan perempuan. Dengan dimulainya bertani, manusia bisa menyimpan bahan makanannya dan dan apabila ada surplus dari panen, bisa dilakukan pertukaran dengan kelompok lainnya. Pertanian juga memisahkan peran dan hubungan perempuan dan laki-laki. Tinggal menetap membuat angka kelahiran dan harapan hidup meningkat dan laki-laki mendapatkan posisi lebih tinggi karena bertani dan punya hak milik. Pada masa ini, kemunculan agama polisteistik juga menghadirkan imaji tentang dewi-dewi kesuburan yang berperan amat penting bagi pertanian mereka. Dengan pembagian peran dan meningkatnya angka kelahiran dan harapan hidup, kita bisa melihat kebutuhan untuk mempekerjakan anak untuk membantu di lading. Peran perempuan bergeser menjadi melahirkan dan membesarkan anak sedangkan laki-laki bekerja di lahan pertanian, bertukar barang dan jasa, dan kepemilikan. Dari sinilah gender hirarki bermula dan sistem patriarki terbentuk.

Buku ini melihat bagaimana peran dan relasi gender terbentuk dan berubah seiring dengan kontak antar kebudayaan. Dengan menelusuri peradaban manusia di dunia dan menelusuri asal muasal pembagian peran antara perempuan dan laki-laki, kita melihat bagaimana perkembangan peradaban membuat sistem patriarki juga menjadi rigit dan tertanam kaku seiring dengan kebudayaan. Dalam kebudayaan tercantum peran dan hubungan masing-masing gender. Dan selalu ditemukan opresi terhadap perempuan walau dengan kadar dan bentuk yang berbeda-beda di setiap wilayah. Buku ini mengambil contoh empat wilayah para masa postclassical civilization yakni: Yunani dan Helenisme, Budhisme dan Perempuan Tiongkok, Islam-India dan sub-Sharan Africa, dan Konfusianisme dan Pengaruh Tiongkok.

Penulisan ini memiliki pandangan bahwa kebudayaan utama akan mempengaruhi kebudayan disekitarnya, tapi tentu saja, tidak semua hal dari kebudayaan besar diadopsi. Beberapa membuat peran perempuan dan laki-laki menjadi lebih setara namun ada pula yang justru memberikan penindasan kepada perempuan. Misalnya pada kebudayaan Timur Tengah awal dan kedatangan Islam. Islam meberikan hak kepemilikan barang dan hak menggugat cerai bagi perempuan yang sebelumnya tidak ada, penggunaan penutup kepala (kerudung) yang pada awalnya diperuntukan untuk membedakan strata social para istri dan sahabat nabi dijadikan peraturan tertulis dan menjadi identitas muslimah. Sedangkan di wilayah India, pengaruh islam tidak berfokus pada kepemilikan barang bagi perempuan justru wilayah ini mempraktekan tradisi Hindu pada kehidupan setelah pernikahan seperti tradisi Purdah atau meminggirkan ruang perempuan berbeda dengan kehidupan laki-laki.

Kolonialisme Eropa dan Dampaknya

Ketika bab sebelumnya memparkan bagaimana kebudayaan pramodern dan pola gender tiap-tiap wilayah dan kontaknya dengan agama dan kepercayaan yang membawa implikasi berubahnya lagi peran dan posisi perempuan dalam kebudayaan. Bab ini memaparkan bagaimana imperialism dan kolonialisme Eropa yang menyebar hampir ke Afrika dan Asia melalui kolonialisasi membuka kontak dan menyebarkan pengaruh kebudayaan Eropa ke wilayah jajahannya. Kultur kontak menghasilkan banyak inovasi yang berujung pada modernisasi. Banyak pandangan yang mengatakan modernisasi menghancurkan sistem harmonis pramodern. Tapi bagaimanapun, modernisasi menyumbang teknologi, berekmbangnya ilmu pengetahuan, dan sistem nilai yang berlaku universal.

Eropa memainkan peran penting setelah tahun 1500 dalam penyebaran kebudayaannya di seluruh dunia. Ditambah penyebaran Kristen yang merumuskan hubungan antara perempuan dan laki-laki yang rigit dan terpisah. Kebudayaan Eropa, menentukan mana yang baik dan mana yang buruk dalam pola relasi gender. Eropa juga terang-terangan men’judge’ menjudge budaya lain yang dianggapnya tidak sesuai. Ide-ide Kristen tentang pengendalian seksualitas dan dominasi laki-laki dengan mengenalkan pernikahan menyebar cepat ke hampir seluruh penjuru dunia. Laki-laki diposisikan sebagai pekerja dan berperan di area publik, sedangkan perempuan bertanggung jawab terhadap tugas domestik. Standar ini dibuat menjadi semacam kepercayaan dan standar ‘baik’. Kebudayaan Eropa  selalu mengklaim bahwa mereka memperbaiki relasi gender Negara jajahannya terutama memperbaiki kondisi perempuan. Tetapi kesalahpahaman terhadap persetujuan relasi gender menyebar. Sesungguhnya mereka terjebak dalam pemahaman gender yang amat terbatas. Eropa dan kekristenan kaget ketika melihat praktek homoseksual di Tiongkok ataupun di Negara jajahan lainnya seperti Penduduk Asli Amerika seperti Spanyol dan lainnya. Buku ini memaparkan kultur kontak dengan kebudayaan Eropa dan Kekristenan juga memberikan implikasi menyebarnya standar feminim dan maskulin yang dapat dilihat membebaskan atau justru menurunkan status perempuan dan merumuskan relasi antar gender yang tidak setara. Bab ini memaparkan relasi gender Penduduk Asli Amerika, Kolonialisme Inggris di India, Pengaruh barat terhadap wilayah Polinesia dan Afrika, dan ditutup dengan Westernization and Gender: Beyond the Colonial Models yang mengambil contoh Jepang.

Relasi Gender dan Kebudayaan Masa Sekarang

Abad 20 merupakan babak baru bagi perjalanan Sejarah Dunia. Mulai dari adopsi kebudayaan barat oleh beberapa Negara di didunia seperti Rusia dan Jepang. Kemajuan teknologi dan transportasi yang mmebuat akses informasi dan perpindahan tempat menjadi lebih cepat. Kebangkitan perusahaan multinasional dan internet. Segala hal yang cepat berubah ini juga memberikan implikasi pada rpola relasi gender di seluruh dunia seperti penyebaran ideologi dan organisasi internasional. Organisasi perempuan internasional bermunculan dengan tuntutan yang sama: kesamaan didepan hokum, kepemilikan property, akses pendidikan dan hak pilih. Tuntutan ini menyebar secara general, bahkan, Siao-Mei Djang, feminis dari negeri Tiongkok pada masa itu berkata bahwa “the problems which are universal to womanhood”. Gerakan-gerakan perempuan ini diinspirasi dari Feminisme dan juga Marxisme. Gerakan perempuan juga menjadi salah satu gerakan dalam memperjuangkan nasionalisme dan lepas dari penjajahan seperti yang terjadi di Afrika (di Indonesia juga) dengan harapan ketika rezim yang baru naik, rezim yang baru akan memperjuangkan reformasi gender. namun sayangnya, ketika rezim yang baru naik, rezim tersebut kembali menjadi male-dominant.

Kemunculan televisi dan media barumembuat orang-orang mampu mempelajari peran dan pola relasi gender dari jarak yang sangat jauh melalui televisi dan sinema. Mempelajari peran gender tidak lagi melalui agen misionaris ataupun orang-orang koloni luar. Tumbuhnya perusahaan raksasa Disney dan  Hollywood memasarkan imaji maskulin melalui prilaku agresif, blue jeans, dan rokok dan terbentuk standar kecantikan dan mengkonstuksikan perempuan sebagai objek seksual. Akibatnya, meningkat kasus bulimia hingga 500% terjadi pada perempuan di usia awal 20an mereka terobsesi untuk menjadi langsing seperti yang ditampilakan di televisi dan sinema.

Abad ini juga membuka bertumbuhnya konsumerisme besar-besaran dan menyasar gender tertentu sebagai pembelinya. Bentuk baru dari jenis hiburan, merepresentasikan kekuatan budaya baru yang berdampak pada relasi gender. Perubahan yang cepat ini menuntut cara hidup mana yang terbaik yang harus dipilih? Dan di buku ini menjelaskan banyak studi kasusnya seperti Afrika, Jepang, Iran, Turki, bahkan Mesir. Pesatnya ekonomi global dan perubahan perangender kea rah kesetaraan yang lebih universal lebih banyak berdampak pada perempuan di  kelas urban dan kelas ekonomi menengah atas dibandingkan kelas ekonomi bawah maupun pedesaan. Dalam era konsumerisme ini juga membuat pekerja perempuan menjadi lebih murah, tersedia, dan berpendidikan lebih baik yang mengakibatkan lebih banyaknya anak muda laki-laki menganggur dibandingkan perempuan dan ini akan berdampak pada lagi-lagi. Reformasi gender.

Kesimpulan

Buku ini sangatmenarik dan baik untuk dibaca karena memaparkan relasigender di seluruh dunia melalui studi perbandingan. Namun tetap saja, Penulisan Sejarah selalu dipengaruhi ideology dan sangan dipengaruhi oleh intepretasi Sejarawan sebagai penulisnya. Penulisan Sejarah Gender dengan ulasan Sejarah Dunia ini terasa masih menggunakan sudut pandang Amerika Serikat sebagai prespektif utamanya hal initerlihat dari beberapa contoh fakta yang dikemukakan banyak merujuk pada Amerika Serikat. Tapi buku ini cukup komperhensif untuk menjelaskan asal muasal patriarki dengan bahasa yang ringan danmudah dipahami bahkan untuk orang awam sekalipun. Diharapkan dengan menambahkan analisa Sejarah dalam feminisme Indonesia mampu memperkaya studi Gender dan Feminisme di Indonesia atau bahkan keduanya.

 

 

 

Nadya Karima Melati

 

Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Indonesia



Nadyazura

I'm extra-ordinary girl who doing extra-ordinary thing.

No Comments Yet.