SELF RESPECT VS CULTURE


Monday, 30 Nov -0001


Self respect versus Culture. Mana lebih penting? Saya pribadi berpendapat akan sangat ideal kalau self respect bisa bersinergi secara baik dengan culture. Jadi, titik mula saya dalam menulis artikel ini, saya berusaha menelaah definisi self respect dan culture menurut hati, pikiran, dan pengalaman pribadi saya.
 

Menurut saya, self respect berawal dari niat dan usaha untuk jujur terhadap diri sendiri, apa sih yang saya mau? Apa sih yang penting buat saya? Apa yang buat saya content, marah, bangga, senang, sedih, kecewa? Dengan intentionally belajar kenal diri sendiri, saya jadi aware terhadap identitas dan preferensi saya. Belajar menelanjangi kelemahan saya secara nyata dan gamblang. Misal, ketika saya berbuat salah yang diakibatkan kelemahan saya, saya akan meminta maaf tanpa berdiplomasi dengan menggunakan kepintaran saya dalam bersilat lidah. Walau awalnya rasanya tidak enak, dengan latihan terus menerus, saya bisa menerima kelemahan diri sendiri dan kalau saya merasa penting untuk memperbaikinya, saya akan memperbaikinya dengan kesadaran penuh dari dalam, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak luar.
 

Saya juga bisa menghargai kelebihan saya dan mengembangkannya secara maksimal dan tulus, bukan dengan agenda untuk menggunakannya untuk menutupi kelemahan saya. Dengan kesuksesan-kesuksesan kecil dalam memanage kelemahan saya seperti sifat pelupa, kurang disiplin, menjadi lebih organized dan membiasakan diri untuk membuat jadwal harian dan mencatat pengeluaran harian, saya menjadi lebih bisa menghargai diri sendiri karena saya sadar saya berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari, atas kemauan saya sendiri. Saya belajar membentuk value/nilai saya sendiri. Dari sini tumbuh namanya self respect.
 

Dalam proses mengenal diri sendiri ini, tak jarang saya dihadapkan pada dilema yang berhubungan dengan konflik antara nilai dan preferensi pribadi dengan culture masyarakat. Apa itu culture? Menurut saya, culture terbentuk dari nilai pribadi suatu individu dalam suatu komunitas, dikumpulkan menjadi satu. Yang paling populer, umum dan kuantitas banyak, menjadi budaya mayoritas yang mengakar di masyarakat. Walaupun tidak memiliki kekuatan secara hukum, sadar atau tidak sadar culture memiliki peran yang sangat kuat dan dominan dalam masyarakat untuk mengatur apa yang dianggap pantas, apa yang dianggap sukses, apa yang dianggap baik dan berguna.
 

Sedemikian powerfulnya, tak jarang culture merubah jalan hidup orang. Orang berkompromi pada nilai diri sendiri dan merelakan apa yang benar-benar penting buat dirinya secara pribadi dan end up membuat keputusan yang secara culture dianggap sukses dan baik. Sometimes, culture is so deceiving; it shapes us to serve it voluntarily, sampai pada suatu titik kita bangun dan berpikir, pilih self respect atau culture?
 

Saya terlahir di Indonesia, walaupun berpindah-pindah tempat, saya tetap tinggal di dalam konteks Asia Tenggara, di mana budaya yang dianut cenderung berbau ketimuran. Sebagai wanita, apalagi terlahir dari keluarga Chinese konvensional, keluarga memiliki ekspektasi wanita ideal adalah sosok yang penurut, kalem, cenderung pasif, kitchen oriented, bahkan agama kalau bisa ikut calon suami. Saya ingat waktu kecil, papa pernah berkata kalau marah jangan terlalu ditunjukkan, nanti bisa dimanipulasi atau dikerjain orang. Waktu saya mulai kerja kantoran sebagai desainer grafis, mama sering mengasihani saya, karena dia berpikir saya bakal bisa lebih enak kalau bikin bisnis sendiri atau menikah dengan orang yang bisa menghidupi saya dan saya tinggal urus dia dan anak-anak, itulah konsep budaya ideal menurut merekadan menurut masyarakat tempat di mana saya tinggal pada umumnya, sangat logis dan make sense, walaupun pada prakteknya hati nurani saya tidak sepenuhnya mengiyakan.

 

Karena saya bekerja bukan sekedar alasan practical seperti mencari uang atau kemapanan, walaupun itu salah satunya, tapi lebih dari itu, karena saya mencintai apa yang saya kerjakan. Dan saya sadar sepenuhnya saya bukan tipe penurut, karena kalau dikasih brief atau advise, tendensi saya selalu bertanya dasarnya apa. Kalau bagi saya dasarnya baik, tulus dan cukup kuat, saya bisa sangat-sangat menurut dan mengerjakannya dengan sepenuh hati. Seringkali itu bertentangan dengan budaya ketimuran, di mana kita apalagi perempuan, bagusnya submit tanpa banyak tanya. Jadi saya belajar untuk menyelaraskan nilai saya dengan budaya setempat, sesuai dengan konteks dan situasi yang terjadi.

 

Hingga suatu ketika, saya bersekolah di kota yang menganut budaya barat. Saya merasa bebas dan bisa menjadi diri sendiri, karena less prejudice dari masyarakat sekitar yang cenderung individualis dan bebas berekspresi. Wanita disini jauh lebih asertif dan kritis. Tidak ada larangan mau pakai baju apa aja ke kampus. Jalan di tepi jalan dan naik kendaraan umum dengan rok mini, super short pants, spaghetti straps top, crop top, biasa saja. Di kelas kalau guru sedang menerangkan, murid bebas untuk interupsi dan angkat tangan, bertanya dan memberi komentar. Tindakan itu bahkan sangat dianjurkan, dianggap berpartisipasi, berkolaborasi dan berkomunikasipadahal di tempat sebelumnya saya tinggal, perbuatan seperti itu dianggap kurang ajar.
 

Kelas life drawing pake nude model, biasa saja. Model bergerak bebas dan berpose profesional tanpa selembar kain pun yang menutupidan orang-orang mengamati secara detail lalu menumpahkan kreativitas mereka di atas kertas dan kanvas. Seks dengan pacar, dibahas secara terbuka dan biasa ajadan malah dianggapaneh kalau tidak melakukan hubungan seks, karena masyarakat menganggap itu salah satu hal yang paling esensial dalam hubungan cinta. Dalam hal penggunaan uang, budget sering dialokasikan untuk minum-minum dan happy for today sedangkan budaya asia lebih ke investasi dan happy for future.

 

Di sini, saya belajar satu hal: What do I stand for? Dan kalau I stand for one thing yang ternyata tidak sesuai dengan budaya sekitar, do I have rights to throw hatred, judge people in return of being judged, and manipulate people to follow my values, or just be completely ignorant and do life my own way? Saya pikir it’s a matter of choice dan itu berhubungan erat dengan self respect. Dengan self respect, saya tahu limit saya, saya mampu untuk take care of my well-being and keep my own words even to myself. Saya dengan sadar bisa mengendalikan emosi dan tindakan saya tanpa manipulasi dari pihak luar.

 

I know my worth and I realized fully that people’s opinions, regardless they are praises or attacks, would not increase my love to myself or make me less worthy

 

Dengan self respect, Saya lebih mampu untuk menerima dan mencintai sesama dengan tidak menuntut mereka berpikir dan bertindak sama seperti saya. Saya lebih secure dalam menghidupi nilai-nilai yang saya anut, mengkomunikasikannya dengan sesama tanpa takut dihakimi, dan belajar budaya lain dengan less defense. Dan yang terpentingdengan self respect, saya lebih bisa meraih apa yang saya impikan dengan pikiran yang lebih clear dan hati yang lebih damai.

 

Papa pernah bilang jangan lupakan akarmu. Jangan kebawa arus. Dalam konteks ini, saya mengartikannya sebagai berpeganglah kepada nilai-nilai yang selama ini saya percaya. Saya pikir cita-cita itu ibarat pulau destinasi, culture itu seperti angin dan arus samudra, dan self respect itu seumpama layar. Saya nakhodanya. Kalau angin dan arus (culture) lagi mengarah ke pulau tujuan (cita-cita), alangkah indahnya.

 

Tapi kalau sebaliknya angin dan arus sedang berlawanan, apakah pelayaranku harus menunggu mereka berbalik arah atau hajar lurus saja? Ternyata, ketika angin dan arus sedang tidak berteman, pelaut tetap bisa sailing through the wind, tetapi musti zig zag. Otomatis lebih banyak efforts dan musti lebih bijak. Niscaya tetap bisa sampai ke pulau tujuan. Saya pikir sama halnya dengan bagaimana saya harus menyikapi samudra kehidupan. Know what I want in life and respect myself. Learn about people’s culture, respect them and know what they expect towards me. Strive for a state of inner peace within myself and deal with surrounding in a mature way. I can’t control the wind and stream but I always can adjust my sail to my expected destination.

 

So Urbanesse, self respect vs culture, mana lebih penting? You decide..Be kind, be smart and have fun along the journey!

 

 



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.