Putus Tidak Harus Dendam


Monday, 30 Nov -0001


Setahun yang lalu aku putus dengan seseorang yang selama ini menemani keseharianku. Keputusan yang diambil olehnya membuat aku galau tingkat dewa kenapa tidak dia memutuskanku karena orang lain. Aku akui dia memang lebih cantik dariku. Ingin rasanya aku menjambak rambut itu cewe dan melemparkannya ke lautan agar dimakan ikan hiu. Bagaimana tidak???

Waktu itu aku seharian menunggu pacarku itu (udah mantan sih) di rumahnya. Kebetulan aku dan keluarganya sudah akrab dan serasa seperti keluarga sendiri. Awalnya tidak ada yang tau kalau kami sedang ada masalah.Tepat jam sebelas malam dia pulang bersama cewe yang katanya adik kakak iparnya itu. Geram rasanya ingin langsung menendang mereka berdua. Tapi aku mencoba untuk tetap tenang dan seolah olah aku rapopo. Karena aku percaya kalau memang dia adik kakak iparnya. Aku mencoba menyapa mereka tapi justru aku kena semprot sama mantanku itu.  Dia mengusirku pulang dari rumahnya. Dan  mengatakan kalau muak bertemu denganku. Hampir nangis rasanya dia berkata seperti itu apalagi di depan cewe yang  katanya adik kakak iparnya. Akan tetapi air mataku tak sanggup keluar. Hanya sesak yang aku rasa. Seseorang yang  selama ini aku kenal begitu baik dan penuh perhatian berubah seperti singa kelaparan.

Okt_L&R_PutusTidakHarusDendam-Suyi_text

Malam itu juga aku berniat untuk pulang. Akan tetapi ibu dan kakaknya melarangku pulang. Akhirnya aku menginap di rumahnya malam itu. Aku tidur bersama kakak iparnya yang  kedua. Sementara dia malah asyik tertawa dan bercanda sama cewe itu di depan  (teras rumah) tanpa menghiraukan perasaanku. Bertambah sakit lagi perasaanku ketika kakak iparnya yang kedua menceritakan kalau mereka sudah dekat sejak lama  dan simantanku itu memang suka sama adik kakak iparnya yang pertama sejak smp.  Namun karena masih belum waktunya pacaran dia dilarang oleh orang tuanya. Belum lagi katanya semenjak dia resign dari tempat kerja kami (awalnya kami satu tempat kerja) mereka sering jalan berdua. Huuuffft mendengar itu semua aku ingin mecekek mereka berdua saat itu. Akan tetapi aku berusaha tetap bersabar dan menganggap tak ada apa-apa malam itu. Walau sebenarnya hatiku panas. Pagi-pagi sekali aku beranjak pergi dari rumahnya dengan senyuman. Malam harinya dia meneleponku dan marah-marah mengeluarkan kata-kata yang  tak sepantasnya. Aku tak menggubris semua ucapannnya dan hanya berkata lanjutkan saja hubunganmu dengannya. Itu akan lebih baik daripada hanya marah-marah di telpon. Dia masih saja dengan pembelaannya kalau tidak ada apa-apa dengan cewe itu dan dia hanyalah adik ipar baginya.  Dia bilang keputusannya untuk berpisah itu karena aku selalu ingin menang sendiri. Dia juga memintaku untuk tidak menghubunginya,  karena bagaimana pun dia lebih baik mati daripada kembali menjalin hubungan denganku. Sejak saat itu aku tak lagi menghubunginya.

Setelah hampir setahun kami  berpisah dia kembali menghubungiku dan meminta maaf karena selama ini telah melakukan banyak kesalahan padaku. Setiap ada masalah dia selalu bercerita denganku. Terkadang aku meledeknya kenapa dia tidak curhat saja sama cewe yang   selama ini menemaninya dan mengerti dia. Dia malah pura-pura lupa dan balik bertanya cewe yang mana?? Kalau aku bilang adikmu, dia justru diam dan menjawab,‘’kata siapa?’’dengan nada jengkel jika aku mengingatkan akan hal itu. Dia yang  dulu begitu kuat dengan keputusannya tak akan pernah menemuiku dan menghubungiku justru dialah yang mencari keberadaanku.

Walaupun keadaanya tidak seperti dulu lagi, akan tetapi bersahabat itu menyenangkan. Daripada saling memusuhi satu sama lain hanya karena putus sebagai kekasih.  Memaafkan akan mengubah suasana jadi lebih nyaman, perasaan kembali tenang. Kenapa aku bisa memaafkannya ?? karena ikhlas menerima semua yang sudah terjadi. Yah ga ada gunanya terus membenci orang yang sudah menyakiti hati dan tidak ada gunanya dendam sama orang itu, toh orang itu pernah kita sayang...

 



Unknown

No Comments Yet.