Plesiran Ke Lasem, Little China Town di Utara Jawa


Monday, 30 Nov -0001


Kota kecil bersahaja di utara Jawa Tengah, Lasem, merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Rembang. Di sini Anda akan melihat kekayaan serta keragaman warisan budaya sebagai saksi bisu peradaban kejayaannya dulu.

 

Keunikan dari bangunan sampai dengan kain batik Lasem

Kondisi kota ini sepi dan hanya dilewati banyak kendaraan luar kota antar provinsi. Padahal jika menyambanginya sampai ke dalam, Anda akan disuguhkan nuansa kota pecinan, terlihat dari bentuk bangunan-bangunan yang masih terjaga maupun yang sudah kosong tak terawat. Tak sembarang bangunan, usianya ada yang sekira 200 tahun lebih, bahkan ada yang masih dihuni oleh ahli warisnya. 

Selain rumah penduduk, ada juga rumah ibadah 
Klenteng Cu An Kiong (1477 M), Klenteng Gie Yong Bio (1780 M), atau Vihara Ratanavana Arama di Desa Sendangcoyo yang memiliki patung Budha tidur sepanjang 14 meter, dan lainnya bangunan bersejarah di Lasem yang punya cerita masing-masing. 



Cu An Kiong Cu An Kiong
Patung Budha TidurPatung Budha Tidur

Pantaslah kota ini terkenal dengan sebutan Litte China Town. Di sinilah salah satu tempat jejak Cheng Ho berada, masih sulit dibuktikan namun tidak dengan kedatangan Bi Nang Un, nakhoda kapal yang mengikuti perjalanan keliling dunia bersama Cheng Ho.

Bi Nang Un akhirnya menetap di Lasem beserta istrinya putri Na Li Ni karena tertarik dengan kesuburan dan keindahan lainnya di Lasem. Ketertarikan mereka akan keindahan kota kecil ini dituangkannya dalam motif batik dipadukan motif dari negeri asalnya, kelak teknik motif batik dan pewarnaan ini pun diajarkan turun menurun di Lasem yang saat itu penduduknya masih bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani.
 

Maka dari itu, selain bangunan yang khas, Lasem juga memiliki batik yang kaya nilai filosofi dari motif serta warnanya yang berani. Ada beberapa jenis batik Lasem yang terkenal di antaranya dengan motif khas Tionghoa seperti motif kepeng uang dan burung hong, kemudian motif Jawa seperti sekar jagat, dan perpaduan keduanya Tionghoa dan Jawa. Jelas terlihat perpaduan kekayaan budaya dalam kain batik Lasem.
 

Hingga tahun 1970-an produksi batik Lasem masih termasuk enam besar di Indonesia. Kala itu pemasarannya tidak hanya di Jawa, tetapi sampai ke Sumatera, Bali, Sulawesi, Semenanjung Malaka, Asia Timur, bahkan hingga Suriname.
 


Batik Lasem
Pengrajin Batik



Motif batik Lasem menginspirasi motif-motif batik lain di sebagian besar wilayah Nusantara. Satu warna khasnya yakni abang getah pitik (merah darah ayam), konon warna ini hanya bisa didapatkan di Lasem, tidak ada daerah lain yang menghasilkan warna secantik abang getah pitik.  Selain merah, ada warna lain mendominasi seperti biru dan ungu.

Jika mendengar batik tiga negeri, di sinilah tempatnya. Disebut tiga negeri karena proses pembuatannya di tiga daerah, warna merah di Lasem, sogan (cokelat) di Solo, dan warna cerah lain di Pekalongan. Wajarlah harganya cukup mahal karena sebanding dengan proses dan hasilnya yang rupawan.

Industri batik Lasem sempat lesu karena banyak warga keturunannya yang merantau di kota lain. Hingga saat ini, pemerintah daerah sudah mengembangkan desa-desa wisata batik, guna membangkitkan dan memperkenalkan lagi batik lasem lebih meluas. Ada sekira 5 desa wisata, dengan pintu gerbang masuk di Desa Babagan. Cobalah mengunjungi desa-desa wisata batik yang saling menyambung ini, Anda akan berjalan di antara bangunan tua juga etalase batik yang sekaligus menjadi dapur pembuatan batik tulis.

Di Lasem hanya ada batik tulis, tidak ada cap apalagi print. Kemahiran perajin batik patut dilestarikan, beberapa di antaranya ada yang pandai menggoreskan malam tanpa pola di atas kain.
 

Harga batik tulis Lasem sangat variatif tergantung tingkat kerumitan pembuatan dan panjang kain. Biasanya dipatok sekira Rp300.000,- hingga satu juta rupiah. Jika Anda kolektor kain, di sini pun Anda bisa menanyakan tentang kain lawas sebagai penambah koleksi kain Nusantara.

 

Sejarah

Lasem memiliki akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang sangat serasi. Tidak hanya sejarah jejak kedatangan bangsa Cina ke Pulau Jawa, di sini Anda juga akan melihat jejak peradaban Jawa Hindu-Budha dan Islam.
 

Keberadaan Lasem sudah lama berabad-abad silam, jauh lebih tua dibandingkan jung yang dinakhodai Bi Nang Un merapat ke Pantai Regol, Kadipaten Lasem (1413 M).  Merupakan salah satu kerajaan di bawah pemerintahan Kerajaan Majapahit (1351 M), yang dipimpin oleh seorang perempuan bernama Dewi Indu (Bhre Lasem), yakni keponakan Raja Hayam Wuruk dalam versi Kitab Negarakertagama.
 

Sejarah Lasem juga tidak lepas kehadirannya oleh salah satu sunan yaitu Sunan Bonang. Sebagaisalah satu tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa, beliau memang masih satu keturunan dengan keluarga Kerajaan Lasem. Plesiran di sini, Anda pun akan melihat Masjid Agung dan banyaknya peziarah yang datang. Di samping situs sejarah perkembangan Hindu-Budha, tentu ada situs perkembangan Islam di sini.
 

Selain itu, Lasem pernah menjadi titik pusat perlawanan peristiwa Geger Cina (1740) terhadap Belanda. Perlawanan itu dipimpin Raden Ngabehi Widyaningrat (Oey Ing Kyat), Raden Panji Margono, dan Tan Kee Wie, yang menyebar ke Pati, Kudus, hingga Semarang.
 

Masih dalam suasana perjuangan, Lasem dulu dikenal sebagai titik penyelundupan senjata api dari Singapura, berdasarkan catatan Pramoedya Ananta Toer. Senjata tersebut dipasok kepada pelarian wanita bangsawan Keraton Rembang, yang selanjutnya dikirim kepada pasukan Diponegoro saat Perang Jawa I (1825-1830).
 

Soal penyelundupan, di Lasem pun dikenal dengan jalur penyelundupan candu. Dibuktikan melalui gudang-gudang rumah di tepi sungai yang masih menyisakan jalur terowongan air menuju bangunan.

 

Akomodasi dan Kuliner

Tidak ada habis waktu mengupas sejarah Lasem yang kaya seperti perpaduan di dalamnya. Mungkin tak cukup sehari dua hari, maka menginaplah lebih lama di sini. Di Lasem ada beberapa penginapan dengan harga yang sangat terjangkau, namun tidak ada salahnya bermalam di homestay yang dikelola penduduk lokal di desa-desa wisata.

Harga per malamnya sekira Rp75.000-Rp150.000 per kamar. Di sini selalu disediakan teh manis hangat untuk teman santai pagi atau sore.

Jika ingin makan, Anda bisa memesannya lewat warga yang mengelola homestay. Tidak ada tempat makan besar seperti restoran berbintang. Di sini ada beberapa warung makan prasmanan yang bisa Anda pilih sesuka hati. Per porsinya pun cukup murah sekira Rp10.000-Rp15.000,- dan menjamin perut kenyang untuk beraktivitas.
 

Kuliner Lasem seperti kawasan pesisir pantai utara Jawa, seperti goreng tahu dengan sambal kacang yang berbeda nama di setiap tempat, atau seafood. Soal makanan laut, Anda bisa mencicipi latoh (rumput laut) di sini. Disajikan dalam bentuk urap (makanan sayuran), rasanya yang unik pun diabadikan rupanya dalam motif batik.

 

Transportasi

Masukan Lasem sebagai destinasi wisata Anda, di sini perlu keramaian wisatawan yang haus akan ilmu dan seni budaya Nusantara yang kaya. Waktu yang tepat mengunjungi Lasem adalah di luar masa liburan, karena transportasi ke sini lebih mudah dan naik kendaraan umum pun tidak sesak penumpang.

Menuju Lasem bisa dimulai dari Semarang, setelah itu lanjutkan perjalanan dengan bis dari Terminal Terboyo. Cari bis umum dengan rute ke Surabaya, lebih baik tidak ada yang lain selain rute ke Surabaya, dipastikan kendaraan ini akan melewati Lasem. Anda bisa minta diturunkan di seberang gerbang masuk Desa Babagan. Dari sini biasanya pihak homestay akan menjemput kedatangan Anda. Tentunya, harus dengan perjanjian dahulu.

Jika naik bus rute Jakarta-Rembang lebih memudahkan perjalanan Anda, dari Rembang Anda bisa memilih transportasi apa saja yang akan mengantarkan ke Lasem. Menyewa mobil antar jemput Semarang – Lasem pun bisa diandalkan.

Sementara untuk keliling Lasem, transportasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan perjalanan Anda. Jika ingin berjalan-jalan di dalam desa, maka berjalan kaki dan bersepeda adalah pilihan menarik. Jika tempat itu cukup jauh, bisa menyewa kendaraan mobil atau motor.

 

Sumber :

1.     Jalan-jalan bersama grup Indonesia Djaman Kapungkur ke Lasem. Maret 2015

2.     http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/09/nas11.htm

3.     http://www.lasembatikart.com/menu.php?idx=106#.VsYKzfl97IV

4.     http://koranyogya.com/vihara-ratanavana-arama-sejarah-hidup-sang-budha-sidharta-gautama/

5.     http://www.wisatarembang.com/2015/09/patung-buddha-tidur-vihararatanavanaarama-lasem.html 

6.     http://nasional.kompas.com/read/2008/09/13/08281355/lasem.simpul.sejarah.yang.pudar



Anna Maria

Sarjana komputer, penggemar sejarah dan budaya Indonesia. Menikmati hidup dengan freelance menulis tentang wisata dan blog pribadi. Belajar meniti usaha perjalanan wisata untuk kesekian kali, sampai siap dan berhasil.

No Comments Yet.