Pilih Menjadi Rendah Hati atau Sombong ?


Monday, 30 Nov -0001


Saya pikir selama ini saya cukup toleran dan rendah hati. Tapi tanpa saya sadari, ternyata ada kesombongan terselubung dalam hati saya, yaitu cenderung memandang sebelah mata orang-orang yang tidak memiliki passion atau panggilan dalam hidupnya. Yang bekerja hanya karena untuk membayar tagihan. Pas ngobrol dengan mereka, atau beraktivitas bareng, pikiran saya, aduh bosen yah. Aduh mediocre banget. Itu otomatis muncul dalam otak saya, mengingat background saya yang bener-bener beda, karena saya tipe yang melakukan segala cara untuk mengejar dan mengexplore passion dan calling saya.

 

Sampai suatu saat, saya memutuskan untuk lanjut S2 di luar negeri dan tinggal dengan sebuah keluarga kecil. Saya mengenal sosok yang satu ini, ibu rumah tangga beranak dua. Sebut saja namanya Mary. Quality me time versi dia adalah melihat-lihat  Instagram, baca novel Harlequin, sambil makan chips. Pas saya tanya passionnya apa, katanya travelling. Jedeeerrr….hahahahaha saya ngakak nggak bisa berhenti. Saya bilang ke dia itu mah hobi bukan passion. Kemudian Mary mengatakan, dia nggak seperti saya yang punya panggilan jelas di bidang anak-anak. Jadi, buat dia, passion (hasrat) itu sesuatu yang dia mau lakuin dan bikin deg-degan. Dia juga bilang mimpinya gak muluk. Kalo anak gede dan sudah bisa ditinggal, dia ingin mapan dengan membuat bisnis (apapun bidangnya yang penting profitable), dan tetap bisa berinvestasi property. Dia sering nggak habis pikir kenapa saya mau cape-cape kejar impian saya. Sangat pragmatis. Tidak inspiring menurut standar saya selama ini.

 

Tapi, tau nggak apa yang membuat pikiran saya shifted jadi respek sama Mary? Kerendahan hati dan generositynya. Karena saya serumah sama dia, saya bener-bener bisa lihathidupnya secara candid. Pertama saya observe, sabar dan telaten banget ya ngurusin satu toddler dan satu baby tanpa bantuan ibu mertua, babysitter ataupun pembantu. Nggak pernah saya melihat tiba-tiba dia kepancing dan meledak emosi dalam menghadapi tantrum anak-anak dan house chores. Lalu, waktu suami lagi capek kerja pulang ke rumah, dia juga bisa hadapi dengan kepala dingin dan omongan yang bijak (saya diam-diam nguping dari kamar pas lagi ngetik essay). Mary menjalani hidupnya tanpa complain. Saya juga kagum bagaimana dia ngirit buat diri sendiri, tapi generous buat orang lain, termasuk saya.

 

Apalagi, dia bisa dengerin sudut pandang saya yang jelas-jelas beda sama dia, tapi dia gak menghakimi. Dia tahu seninya agree to disagree and respect the differences. Dia juga apa adanya dan bisa dengan santai share her weaknesses. Bahkan belakangan baru saya tau ternyata pada saat usia remaja pas kuliah, dia pernah menjalani operasi yang cukup besar pada saat menderita tumor gigi. Dengan keadaan seperti itu dia masih tetap menjalani kuliah dan dia sudah mandiri membiayai hidupnya sendiri sejak dari kuliah semester 1, dan dia baru berhenti kerja setelah melahirkan anak kedua, karena harus ngurusin dua anak.

 

Wuih, pantesan kok Mary bisa kuat banget sekarang. Dibandingin saya yang sampai sekarang masih dikirimin uang dari orangtua, lalu ngurus diri sendiri aja pontang-panting. Di satu sisi saya independent, tapi ternyata saya manja juga ya. Mungkin ini cara Tuhan untuk buka mata saya bahwa segala sesuatu tidak bisa diukur hanya dari kacamata saya. Itu namanya sombong.  Saya belajar untuk mengukur sesuatu dari beberapa perspektif, dan tidak memandang rendah orang yang berpikiran beda dengan saya, atau yang dari luar hidupnya keliatan biasa-biasa aja. Mary mengajarkan saya bagaimana dengan kerendahan hati dan tidak memandang sebelah mata orang pada orang lain mampu membawa kita mendapatkan kehidupan yang tenang, keluarga yang utuh dan pastinya dengan kerendahan hati Mary Struggle tiap orang beda-beda.

 

 

Akhir kata, mengejar passion itu keren, tapi menjadi ibu rumah tangga itu juga nggak kalah mengagumkan. Ketika kita benar-benar melakukan sesuatu bukan karena keren-kerenan, lalu pada saat yang sama bisa menerima sudut pandang orang lain, dan menghargai orang yang melakukan sesuatu yang berbeda dari pikiran kita, itulah yang namanya rendah hati.



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.