Perempuan ini, harganya berapa sih?


Monday, 30 Nov -0001


Kita sering mendengar perkataan bahwa seseorang perempuan “jual mahal”, dan pernahkah anda berpikir kalau mungkin perkataan itu muncul dari adanya transaksi sosial yang mungkin seringkali tidak kita sadari. Apa yang kita lihat dalam diri sendiri, dengan otomatis kelihatan sama orang lain, yang bisa juga disebut sebagai “sang pembeli”. Nah, kalau transaksi sosial itu memang ada, kita harus mulai bertanya, diri kita tuh bisa dibeli dengan apa sih oleh sang pria? Misalnya kalau aku, carinya sang pembeli yang bisa memberi komitmen untuk pertumbuhan dan kebaikan hubungan kita dan diriku sendiri. Itu paling penting untukku.


Banyak yang karena gak tau value dirinya sendiri jadi jual murah, dibikin seneng sedikit langsung dijual harga dirinya. Atau dibeliin barang mahal. Kalo dibeli dengan emosi atau materi itu sebenarnya terlalu murah. Misalnya habis di pukulin lalu kita dipeluk erat dan ditabur dengan kata-kata manis, lalu kita meleleh lagi. Itu kita terlalu menjual murah harga diri sendiri, kita seharusnya diperlakukan dengan baik dari awal dan setiap saat. Kita seharusnya dihormati dan dihargai sebagai seorang wanita. Kita seharusnya dibeli dengan karakter baik sang pria, karena karakter yang baik itu mahaaaaaaal sekali.


Kita kadang juga jualnya memang terlalu mahal. Kita maunya sang pria seperti daging wagyu, tapi kita sendiri gak bisa cara masak wagyu, keluar-keluar eh jadi rendang. Yah bukannya gak mungkin masak rendang pake wagyu sih, tapikan sayang. Wagyu nya gak di apresiasi. Potensinya jadi gak di maksimalkan. Jadi kita sendiri sebenarnya harus melatih karakter juga. Karena karakter yang baik itu mahal, maka semakin baik karakter kita, harga apresiasi kita makin naik juga.Lebih banyak peminat, karena orang tau kita mempunyai sesuatu yang jauh lebih berharga dan tidak bisa dibeli dengan mata uang, dan walaupun belum tentu mereka bisa beli, pasti banyak yang mulai nawar harga. Nah kita harus pintar-pintar seleksi, jangan sampai kita jatuh ke tangan orang yang salah.
 

Saat kita mau menjalin hubungan dengan seorang pria dengan tujuan untuk menikah, itu berarti kita mencari seorang pria yang akan kita titipkan masa depan kita. Amat sangat pentingnya kalau sang pria tahu kita punya worth, dia harus tahu betapa berharganya diri kita dan dia tidak main-main dengan harta yang di depan mata ini. Kita juga harus tahu bahwa sang pria ini memang layak menjadi pelindung harta (yaitu diri kita sendiri).
 

Fondasi dari semua ini adalah pengetahuan dan keyakinan bahwa kita mempunyai harga yang mahal tanpa perlu melakukan apapun juga. Value diri kita tidak sembarangan. Kita pakai contoh diri kita sebagai seorang Princess. Karena kita adalah seorang Princess, kita gak perlu mencoba melakukan pekerjaan seorang malaikat dengan harapan agar kita mempunyai tempat di dunia ini atau supaya kita dapat menerima kasih sayang. Hanya karena kita adalah seorang Princess, kehidupan ini sudah mempunyai arti dan misi yang sangat penting yang harus kita jalani, entah apa itu, dan kita tidak boleh macam-macam dan sembarang melalui kehidupan ini. Oleh karena kita tahu kita adalah seorang Princess, maka kita harus pastikan kalau kita hidup sebagai orang penting. Jangan melakukan hal-hal yang seorang Princess tidak akan lakukan, seperti mengemis kepada seorang laki-laki beristri yang mulutnya penuh kebohongan yang manis. Kita hidup justru harus lebih menampakkan kemahalan itu, misalnya dengan memperbaiki karakter dan memperkuat mental, melakukan hal yang benar, memikirkan kepentingan orang lain, dll. Justru karena mental kita ada seperti seorang Princess, perilaku kita harus berubah seperti seorang malaikat dengan sendirinya, bukan karena paksaan orang disekitar. Ini perubahan dari dalam yang akan mempunyai dampak di luar.
 

A woman’s worth must not be dictated by society.
Jangan sampai harga diri kita diatur oleh orang di sekitar kita. Banyak sekali ajaran-ajaran disamping kita yang tidak benar, karena mereka sendiri telah disakiti dan belum pulih. Banyak sekali orang-orang di samping ku dulu yang tidak mengerti kenapa aku mau sekolah S3, mereka merasa aku akan lebih susah menikah kalau sekolah terlalu tinggi. Hal-hal seperti ini akan sering membuat penglihatan kita kabur karena kita mulai cemasakan masa depan. Saat itu, aku harus terus memberitahu diri bahwa my future is in my hands, dan menjadi semakin yakin bahwa seorang laki-laki yang bisa menghargai kehausanku atas pengetahuanlah yang akan dapat berdiri di sampingku.
 

Di sisi lain, mungkin hati kita juga baru hancur dan kita merasa tidak berharga, diri kita seperti terbuang. Jangan sampai kita membuat keputusan-keputusan penting saat kondisi hati dan mental kita belum pulih dan tidak sehat, karena akan gampang untuk melihat diri kita sebagai barang obralan. Kita harus mengatur ulang pikiran sehat kita supaya kita bisa melihat lagi betapa berharganya diri kita ini, dan tidak boleh lagi sampai jatuh ketangan yang salah.
 

 

Mari kita belajar mengubah pengertian kita tentang betapa berharganya diri kita ini, dan menunjukkannya dalam perilaku dan keputusan yang kita pilih dalam hidup ini. Mari kita belajar hidup seperti seorang Princess: karena kita tahu kita adalah seorang yang berharga dan penting, maka kita hidup penuh dengan tujuan dan keyakinan.



Cianna

No Comments Yet.