Perempuan Materialistis atau Realistis?


Monday, 30 Nov -0001


Siapa diantara Urbanesse yang pernah di cap ‘Perempuan Matrealistis ? Semoga ga ada ya.. Hihihi..

Kalo memang ada, seneng ga sih kalian dianggap matre? Atau lebih suka dibilang realistis?
Dalam tulisan ini saya mau coba tuangkan pendapat saya tentang pandangan orang terhadap kedua kata tersebut, yaitu materialistis dan realistis.


Materialistis emang sering banget dikaitkan dengan perempuan terutama dalam hal pilih pasangan. Perempuan biasanya mencari pasangan yang mapan, dan ga bohong saya pun mau punya pasangan mapan. Tapi ukuran kemapanan tiap-tiap orang beda. Mungkin ada yang bilang laki-laki itu mapan kalo gajinya sudah 10 juta, tapi ada juga yang bilang laki-laki mapan itu harus punya rumah dimana-mana. Yes, beda-beda, semua tergantung opini. Then gimana kita tau kalo opini kita materialistis atau realistis?

Pertama, kita harus tahu dulu perbedaan antara materialistis dan realistis. Dilihat dari artinya, materialistis adalah sebuah sikap yang berorientasi pada harta dan kekayaan semata. Sedangkan realistis adalah cara berpikir yang penuh perhitungan dan sesuai dengan kemampuan, sehingga gagasan yang akan diajukan bukan hanya angan-angan atau mimpi belaka tetapi adalah sebuah kenyataan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia realistis artinya bersifat nyata (real); bersifat wajar. Jadi kedua hal ini jelas beda.

Kemudian kita cari tau arti kemapanan itu sendiri. Mapan itu artinya mantap, tidak goyah, dalam keadaan stabil.  Laki-laki yang mapan, otomatis sudah bisa menopang hidupnya sendiri secara stabil. Kalo menurut kalian laki-laki mapan adalah orang kaya raya, maybe you are materialistis. Kemapanan seorang laki-laki ga cuma bisa kita nilai dari materinya aja kok.


Nah sekarang saya mau kasih gambaran mana yang disebut perempuan materialistis, bukan realistis.


Perempuan yang materialistis biasanya hanya menilai kualitas cinta pasangan berdasarkan seberapa banyak materi yang dihabiskan untuk membuat dirinya senang. Semakin banyak pasangan mengeluarkan materi untuk dirinya, ia merasa semakin berharga. Perempuan materialistis tidak akan bersedia bayar patungan atau bahkan gantian bayarin pasangan ketika kencan, karena merasa sudah sepantasnya dibayarin: Itu artinya keberadaan mereka dihargai. Menyedihkan memang. Masih banyak wanita yang belum sadar bahwa dirinya jauh lebih berharga dari jumlah materi yang dikeluarkan pasangan untuknya.


Mereka juga sering menggunakan kata realistis sebagai pembenaran, “Bayarin makan aja nggak mau, gimana nanti mau bayarin kebutuhan anak istri?” Padahal sesungguhnya, bukankah kita tidak berhak meminta lelaki membuktikan kemampuannya menjadi suami ketika masih dalam tahap pendekatan atau pacaran? Karena kita sama sekali tidak berencana untuk membuktikan kemampuan kita sebagai seorang istri atau malah seorang ibu yang baik pada masa itu kan? Dengan cara apa mau membuktikan kalo kita istri yang baik? Tinggal seatap berdua sebelum nikah? No, hal ini sangat tidak disarankan.


Sekarang gambaran mana yang disebut perempuan realistis, bukan materialistis. Tentu, realistis itu perlu. Saya percaya kita semua setuju bahwa dalam membina hubungan jangka panjang, “cinta” saja tidak cukup. Karena beli susu dan biaya sekolah tidak bisa dibayar hanya dengan cinta. Tapi kita bisa menjadi realistis tanpa perlu menjadi matre. Kita tidak perlu minta dinafkahi dulu untuk bisa tau apakah laki-laki akan mampu menafkahi kita nanti. Salah satu caranya yang paling mudah adalah dengan observasi, lihat bagaimana pola hidupnya. Apakah laki-laki kita senang menghamburkan uang dan tidak punya tabungan? Atau dia lebih cenderung hemat karena punya rencana untuk masa depan?


Hanya dengan observasi yang objektif saja, saya yakin kita sudah bisa tau apakah si dia termasuk bertanggung jawab dan mampu mengatur keuangan dengan bijaksana. Kalau memang dia memiliki kualitas itu, yang perlu kamu lakukan adalah mendukung dia dalam usahanya ke arah kemapanan, bukannya malah memerah hartanya dari sejak masa pacaran!


Satu hal yang seharusnya kita semua ingat: bila kamu mengajari dirinya bahwa wanita bisa dibeli dengan materi, suatu hari nanti dia akan membeli wanita lain lagi saat materinya lebih banyak. Tentu gamau kan hal itu terjadi pada kalian? Kita yang tentukan keberhargaan diri kita sendiri, bisa dibeli dengan materi, atau harus dibeli dengan cinta dan kualitas pria terbaik.


Berkaitan dengan tema bulan ini, “seberapa pentingkah laki – laki di mata perempuan?” Yes, they are important for us. Karena memang hakikatnya hawa diciptakan untuk mendampingi adam dan kemudian mempunyai keturunan hingga saat ini. Tanggung jawab terbesar dalam sebuah keluarga jatuh pada laki-laki. Namun, bukan berarti kita harus bergantung dengan laki-laki, melainkan kita harus menyeimbangkan diri dengan pasangan sebagai pelengkap keluarga. Maka dari itu kita sebagai perempuan harus smart dalam menentukan pilihan.

 

Semua itu tinggal kita yang pilih. Mau jadi cewek materialistis dengan berdalih realistis atau benar-benar jadi realitis tanpa harus melulu menuntut materi dari laki-laki. Hargai lah dirimu sendiri, jangan mau di cap cewek matre karena kamu hanya mengukur segalanya dengan materi. Tapi cinta juga harus realistis, meskipun ada yang bilang “Love is Blind”, tapi kamu tau kan hidup itu perlu uang, jangan sampai cinta yang selama ini terjalin berubah menjadi benci karena desakan ekonomi yang tidak pernah terpenuhi dan membuat pasangan bertengkar terus menerus. Intinya be smart ya girls, for your best future



Rahajeng Larasasih

No Comments Yet.