Pentingkah ?Kepo? ?


Monday, 30 Nov -0001


Perilaku Knowing Every Particular Object (Kepo)  istilah lain dari perilaku mencari tahu secara detail tentang seseorang atau sesuatu, sekarang rasanya sudah menjadi fenomena baru dikalangan orang-orang khususnya kaum perempuan. Dengan beragam media sosial yang  ditawarkan dan kecanggihan teknologi yang berkembang pesat saat ini seakan memberi jalan mulus untuk perilaku Kepo yang dilakukan orang-orang. Bicara tentang Kepo yang berujung kecewa, saya jadi ingat cerita seorang kawan ke saya, sebut saja namanya Fika dan suaminya bernama Adi (bukan nama sebenarnya).
 

Fika dan Adi menurut saya pasangan serasi dari dunia yang berbeda Fika teman saya itu memang secara fisik tidak terlalu cantik tapi dia perempuan yang sangat independent, smart, cuek, keras kepala dan strong sedangkan Adi yang saya amati termasuk laki-laki yang  pendiam, pemalu , sabar, lumayan tampan buat laki-laki sekelasnya dan wajahnya benar-benar kalau dilihat termasuk pria baik dan setia pada pasangan. Mereka telah menikah selama 11 tahun tapi sampai saat ini belum dikaruniai buah hati, meski begitu saya perhatikan mereka berdua pasangan yang harmonis dan romantis seusianya. Fika dan suaminya sama-sama memiliki kesibukan dengan pekerjaanya di dunia yang berbeda. Fika seorang Accounting dan Suaminya yang merupakan seorang Program Manager salah satu televisi. Hingga suatu hari Fika menceritakan bagaimana perjalanan pahitnya hingga dia bisa bertahan sampai detik ini dalam rumah tangganya.
 

Fika menceritakan pada saya, semua kejelasan yang di dalamnya tersimpan kekecewaan, kesedihan dan hal yang membuat pikiran kita menjadi negatif terhadap pasangan adalah rasa ingin tahu yang berlebihan. Pada saat itu tahun 2012 Fika memiliki Feeling kuat bahwa suaminya berselingkuh dengan perempuan lain di belakangnya. Perasaan tersebut bukan tanpa alasan karena selama 11 tahun membina rumah tangga kata Fika baru kali itu suaminya kedapatan sedang asyik membalas email dari seorang perempuan ketika mereka sedang di rumah, Fika sempat menanyakan pada suaminya tentang email dari perempuan tersebut dan suaminya mengatakan bahwa itu email dari Sonia (bukan nama sebenarnya) yang merupakan rekan kerjanya di divisi yang berbeda.
 

“Namanya feeling perempuan, sekuat-kuatnya kita mempercayai tapi pasti ada dong perasaan curiga. Karena aku ngerasa aneh selama 11 tahun menikah dan dia bekerja di kantor itu aku baru tahu dia punya rekan kerja yang namanya Sonia ini. Feeling istri pasti bakal tahu ada apa-apa dengan suaminya” terang Fika. Menurutnya Adi tidak pernah secepat itu balas-balasan email bahkan dengan atasannya sekalipun. Tapi kalau ada email dari Sonia dia buru-buru menjawab dari hp smartnya.
 

Rasa penasaran dan ingin tahu pun muncul dalam diri Fika, ketika di kantor Fika yang memang memiliki semua password email maupun media sosial suaminya pun beraksi menjalankan ke-kepo-an nya.  Dia mencari dan mentracking dengan detail semua percakapan email suaminya dengan Sonia dan ternyata apa yang ada di pikiran Fika pun terjadi, hatinya seakan hancur pada hari itu. Suami yang nampak baik  di rumah dan terlihat seperti sangat mencintai dia ternyata berselingkuh dengan rekan kerjanya di belakang Fika. Fika menemukan percakapan yang isinya sangat intim “Masa iya rekan kerja manggil suami aku dengan sebutan Sayang, masa iya kalau hanya ngomongin email kerjaan, sonia malah ngajak nonton ke bioskop dan parahnya lagi malah ngajak suamiku checkin di hotel” Kata Fika. Fika yang pada saat itu terlihat kuat akhirnya dikalahkan dengan emosinya. Dia nampak tidak stabil dan tidak bisa mengontrol emosinya dia menangis meraung-raung, tidak menyangka suaminya tega padanya. Karena masih mengikuti emosinya Fika pun tidak pulang ke rumah pada saat itu dia menginap di rumah saya untuk menenenangkan pikiran. Suaminya terus menelpon namun Fika sengaja tidak mengangkat teleponnya. Semalaman di rumah saya, Fika terus menangis. Sayapun sebagai temannya tidak menyangka Adi suami Fika yang kalau ketemu saya nampak setia, baik dan sangat romantis memperlakukan Fika ternyata main hati dengan perempuan lain.  Keesokan harinya suaminya menjemput Fika di rumah saya, karena saya berpikir ini harus dibicarakan, masalah ini tidak bisa dibiarkan mengendap saya menghubungi Adi untuk memintanya datang ke rumah saya guna menjemput Fika.
 

Fika menceritakan lagi pada saya setelah kejadian tersebut suaminya pun mengakui memang benar apa yang dibaca Fika di dalam email suaminya itu. Sonia ternyata adalah mantan pacar Adi ketika zaman kuliah dulu. Sonia memang masih menyukai Adi dan dia masih mengejar-ngejar Adi sampai sekarang. Sonia belum lama bekerja di kantor yang sama dengan Adi mereka bertemu kebetulan. Sonia memang mengajak Adi nonton hingga checkin tapi Adi memang tetap Adi yang saya juga mengenalnya. Meski Sonia berprilaku menggoda Adi, namun suami Fika tersebut tidak menggubris ulah mantan pacarnya itu yang coba mendekatinya lagi.
 

“Silakan kamu baca lagi percakapan saya di email-email ini dengan Sonia, lihat tidak ada satu jawaban dari ajakan Sonia yang saya Iyakan dan saya ladeni, saya tetap membicarakan seputar pekerjaan dengannya” terang Fika menirukan gaya bicara suaminya. Mulai saat itu Fika pun meminta Adi untuk menjauhi Sonia dan memberitahu dia untuk tidak mendekati suaminya lagi. Adi pun melakukan apa yang Fika minta. Dengan Gentle nya adi pun mengirim email ke Sonia di depan Fika. Tidak lama Sonia pun menjawab email tersebut dan meminta maaf pada Adi dan khususnya Fika karena perilakunya yang tidak senonoh itu pada suami orang lain.
 

Adi sangat mencintai Fika begitupun Fika, jangan ditanya betapa cinta nya dia pada suaminya tersebut, saya sebagai teman Fika tahu itu. Memang rasanya sulit sekali mempercayai Adi berselingkuh tapi yaaa untuk saat ini memang kenyataanya Fika hanya salah menilai suaminya. Dari kejadian tersebut Fika pun sekarang lebih detail dalam melakukan ke-kepo-an nya di email maupun media sosial lain milik suaminya. Namun, ke-kepo-an tersebut tidak berlangsung lama karena seiring perjalanan waktu, kedewasaan berpikir dan ketika Fika ternyata terpilih mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2 nya di Australia dan mulai saat itulah sampai sekarang Fika sudah tidak lagi menjadi manusia kepo yang ingin tahu isi media sosial suaminya, dia pun juga jarang mengecek isi  sms,bbm maupun whatsapp di ponsel suaminya tersebut.
 

Dia mengatakan pada saya “Ketika kita merasa down, merasa dikecewakan, tidak percaya pada pasangan, saat itulah sebenarnya kita sedang tidak memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri, tidak ada kelebihan yang bisa kita tunjukan ke pasangan kita bahwa kita lebih baik dari yang lain. hingga kita sebegitu overprotectivenya dengan pasangan dan lupa bahwa pasangan kita itu juga manusia yang tidak mau dikekang dan mempunyai hak untuk diberi kepercayaan pada kita. Jika memang pasangan benar-benar mencintai kita, mereka tidak akan melirik perempuan lain karena menurut mereka kita memiliki nilai plus dimatanya dibanding perempuan lain di luaran sana yang boleh saja lebih cantik dari kita tapi mungkin mereka tidak punya apa yang kita punya (tidak ada kelebihan yang bisa mereka tonjolkan selain kecantikan fisiknya)” Ucap Fika pada saya.

Sedangkan menurut Fika kalau kita memiliki 1. kecantikan hati (mempercayai,tulus dan jujur dengan pasangan) 2. kecakapan dalam bertutur kata dan 3. smart serta dewasa dalam berpikir walau kita tidak memiliki wajah yang cukup cantik secara fisik, dijamin laki-laki manapun akan memilih yang  memiliki tiga poin tadi dibanding hanyak memiliki kecantikan fisik semata.  “Makanya aku selalu warning  ke kamu “jangan pernah takut kehilangan pasanganmu, Jangan terlalu menggenggam mereka karena ibarat pasir jika terlalu digenggam mereka akan berjatuhan dan lepas. Percaya diri dan Tunjukan kecerdasan kita pada mereka bahwa kita kuat, tidak bergantung pada pasangan dan memiliki segudang aktivitas atau pekerjaan yang positif untuk diri kita sendiri sebagai perempuan. Bukan karena kita cuek jadi tidak mencintai mereka tapi inilah menurut aku cara mencintai yang paling logis dan bijaksana pada pasangan kita” Terang Fika.  Yess...dari cerita Fika saya pun berpikir mungkin ini yang kata orang  “Kalau cinta pasti pakai otak, bukan hanya pakai hati” jadi untuk apa Kepo.

 

 



Libra

No Comments Yet.