Pengendalian Diri & Utang


Monday, 30 Nov -0001


Saya bekerja sebagai Senior Consultant di salah satu perusahaan Finance Consulting di Jakarta.

Dalam banyak kasus keuangan yang tidak sehat yang paling sering menyebabkan keuangan tidak sehat adalah utang. Utang terjadi saat pengeluaran lebih besar dari pemasukan, sama saja kita sebenarnya melewati batas kemampuan kita, sehingga kita menggunakan uang orang lain (orang tua, saudara, teman) atau pihak lain (bank, perusahaan, pegadaian).

Salah satu klien yang pernah menemui saya, wanita single, karyawan salah satu bank, memiliki utang kartu kredit karena ia memiliki hobby travelling yang bisa dilakukan mendadak tanpa rencana jika teman-temannya mengajak. Sehingga walau ia tidak memiliki uang tunai ia menggunakan kartu kreditnya untuk mengcover biaya jalan-jalannya, mulai dari membayar tiket pesawat, hotel, dan shopping. Ia merasa hal itu sah-sah saja walau bisa menghabiskan puluhan juta, karena pada akhir tahun ia akan menerima bonus akhir tahun yang jumlahnya memang mencapai puluhan juta. Sebenarnya memang tidak ada yang salah dengan hobby travellingnya, namun yang kurang tepat adalah cara mengatur dan membiayai hobbynya tersebut. Kadang kita tidak bisa mengendalikan diri kita pada saat kita menginginkan sesuatu, kita merasa ingin mendapatkannya secepat mungkin dengan cara apapun yang bisa dilakukan, termasuk berutang. Kita bisa melatih diri kita dengan membuat rencana, berapa kali setahun kita ingin pergi liburan dan berapa budgetnya, contoh travelling 2 kali setahun budget @Rp 10 juta, maka kita bisa menyisihkan bonus kita 20 juta untuk kebutuhan itu. Kelebihannya adalah pertama kita tau budget atau batas penggunaan uang untuk liburan kita dan kedua kita tidak perlu berutang dan terkena bunga yang tinggi (kartu kredit 2.95% perbulan).

Lain halnya dengan kasus utang lainnya, wanita yang sudah berkeluarga, ia cukup berat awalnya menceritakan masalah utangnya karena ternyata suaminya tidak mengetahui masalah utang yang dihadapinya, untungnya ia bekerja sehingga sebagian besar gajinya untuk membayar utang tersebut. Ternyata utang itu adalah utang keluarga besarnya, utang orang tuanya yang akhirnya harus dipikul bersama oleh anak-anaknya karena orang tuanya sudah tidak lagi bekerja. Cukup miris sebenarnya mendengar cerita ini, walau ia tidak bercerita alasan kenapa orang tuanya dulu berutang, tapi yang jadi pelajaran berharga adalah bahwa pada saat kita tidak bisa mengendalikan atau mengelola uang yang ada sehingga harus berutang, apapun alasannya, pada akhirnya akan membawa masalah jika kita tidak mampu membayar dan dampaknya bukan hanya pada diri kita tapi juga pada orang-orang disekitar kita terutama keluarga. Berapa banyak anak-anak yang harus menanggung utang orang tuanya dan sebaliknya, orang tua menanggung utang anak-anaknya?

Kalau saat ini kita belum mengalami masalah utang (utang konsumtif : utang yang digunakan untuk membeli sesuatu yang nilainya turun, tidak menambah aset/penghasilan dan berbunga tinggi) maka sebaiknya kita lebih aware untuk mengenali kelemahan atau kekurangan kita apa sehingga pada saat ada tawaran yang menggiurkan untuk berutang kita lebih bisa mengendalikan diri dan berani berkata tidak. Jika harus berutang, pastikan itu adalah utang yang produktif: utang untuk menambah aset yang nilainya naik seperti rumah, utang untuk usaha yang bisa menambah penghasilan, walau tetap harus diperhatikan lagi kemampuan kita untuk bertanggung jawab membayar utang-utang tersebut. Dalam proses financial check up salah satu yang dicek adalah batas cicilan utang produktif (debt service ratio) maksimum 30% dari penghasilan. Kenapa harus dibatasi? Karena jika tidak maka bisa jadi cicilan utang tersebut memberatkan cashflow sehingga malah mengakibatkan utang konsumtif.

Pengendalian diri memang tidak mudah, butuh waktu dan proses untuk membuat kita lebih mengenali diri kita sendiri terlebih dahulu, kelebihan dan kekurangan kita, serta berusaha mengendalikan diri dengan usaha dan doa. Jika kita bisa dipercayakan hal yang kecil maka kita akan dipercayakan hal yang lebih besar.



Unknown

No Comments Yet.