Pengalaman Pahit yang Berbuah "Manis"


Monday, 30 Nov -0001


Kisah ini saya tuangkan dalam sebuah tulisan, berdasarkan sharing  dari seseorang yang dekat  dengan orang yang akan saya ceritakan ini. Saya mengenal orangnya, namun tidak terlalu mengenal dekat dan tahu mengenai  ‘sejarah’ hidupnya, hingga menjadikan dia orang yang cukup sukses hingga saat ini.
 

Dia  adalah seorang wanita, single parent dengan  satu anak, berusia sekitar  antara 35-45thn, sebut saja namanya  Maria ( bukan nama asli). Pertama kali saya kenal Maria di suatu acara,lebih tepatnya seminar. Selama beliau berbicara, memberikan arahan, dan mengajarkan ilmu yang beliau tahu, saya melihat sosok wanita ini cerdas, tangguh, sederhana namun tetap berkelas.  Saya cukup kagum dengan beliau, sering terbersit di pikiran, “hebat sekaliii “. Apalagi ketika dia dengan mudahnya nge-blend  dengan orang- orang baru, entah itu pejabat, pengusaha atau pegawai pada umumnya, beliau bisa nyambung dan menguasai hampir semua topik dan dibicarakan, mereka pun nyaman dengan beliau.  Namun, ketika  Maria berusaha mendekat dan berbicara dengan saya, semakin dekat, walaupun saya tahu beliau baik, tetapi ada sorot matanya yang cukup tajam, yang membuat saya agak seperti takut. Entah itu apa...hingga  suatu saat teman dekatnya cerita ke saya kisahnya.
 

Sebut saja pria yang dekat dengan Maria dengan nama Zola. Zola adalah orang kepercayaannya Maria  terutama yang berhubungan dengan pekerjaannya ini. Dia bercerita kepada saya, sebelum  wanita ini sukses dan memberi pengaruh yang baik kepada orang disekitarnya seperti saat ini, dia mengalami masa yang sangaaat pahit. Maria dulu pernah memiliki usaha dan tinggal di apartemen bersama suaminya. Singkat cerita, suaminya tersebut berselingkuh, memproses perceraian dan kemudian,di waktu yang tidak lama, beliau ini diperkosa oleh sopir taksi secara brutal  , semua uang baik cash dan yang di rekeningnya dikuras. Kejadian ini sempat dimuat dikoran yang cukup dikenal luas oleh masyarakat. Fase ini adalah benar-benar titik terbawah sekali dalam hidupnya, emosinya benar-benar labil. Hingga ketika tiba di apartemennya, dia memukul, menonjok satpam yang bertugas tanpa suatu alasan. Setiap dia bekerja dan bertemu  pria, Maria tidak bisa mengontrol emosinya, selalu rasanya ingin marah, napas tidak teratur, cukup menghambat pekerjaannya, kebenciannya terhadap lelaki semakin memuncak. Bahkan di saat terpuruknya Maria sempat divonis oleh Dokter terkena penyakit kanker stadium lanjut dan sangat kecil kemungkinan untuk disembuhkan. Betapa hancurnya hati dan pikiran Maria kala itu dunianya seakan gelap dan menghitam.
 

Beruntungnya Maria termasuk orang yang tidak mudah putus asa dan harapan, dalam posisi ketidaksanggupannya Maria memutuskan pergi ke Amerika untuk menjalankan semacam “Healing Therapy” untuk kondisinya. Obat dari Dokter dan terapi yang dilakukannnya perlahan-lahan membantu tubuhnya kembali pulih. Dia sadar bahwa emosi marah, sedih dan negatif lainnya ternyata itulah salah satu penyebab munculnya penyakit berbahaya yang ada dalam dirinya. Pada saat di Amerika dia bertemu dengan seseorang yang juga membantunya menjalani terapi tersebut. Usaha membuahkan hasil namun, rasa trauma itu masih menghantui  lama dalam kehidupannya dan kemudian berhasil dia atasi.  Akhirnya dia pun serius mempelajari ilmu terapi ini dan dia bertekad kembali ke negara tempat ia dibesarkan, untuk membantu orang-orang untuk mengatasi emosi dan masalah dalam hidupnya, serta mencapai  goals/impian mereka. Hingga saat ini, sudah cukup banyak sekali yang dibantu oleh beliau, baik dalam proses utk healing, bisnis, dan lainnya.

 

Seingat saya saat itu,kurang lebih kata-kata beliau yang ‘nancep’ banget dipikiran adalah, “ Setiap kejadian dalam hidup itu ada Sebab dan Akibat. Dalam setiap pilihan, itu ada konsekuensi, tinggal kamu mau memilih yang mana. Kalo kamu menderita, selalu merasa sedih, INGAT, rasa itu kita sendiri yang memilih dan menentukan, bukan di orang lain. Kamu yang  bertanggungjawab atas apa yang kamu pilih, apa yang terjadi pada hidupmu. Kita hari ini, itu adalah hasil dari keputusan-keputusan kita di waktu lalu”. Mungkin singkatnya kalo ada motivator bilang, “ U Deserve to Be Happy”, ya itu benar. Beliau memilih membuang rasa trauma dan pengalaman hidup yang tidak baik itu, untuk sebagai pelajaran, dan kedepannya, beliau memilih menjadi orang yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Karena, masing-masing dari kita dihidupkan oleh Tuhan,  memang ada TUJUAN dan MAKSUDnya kan ?

Urbanesse dari cerita Maria ada pelajaran berharga yang bisa saya petik yaitu “Masa lalu itu dijadikan cambuk untuk menatap masa depan, meski nampak tidak mungkin di mata manusia, tapi tidak di mata Tuhan. Jika Tuhan berkehendak maka Terjadi-LAH. Jangan mudah berputus asa serahkan semua pada Tuhan, maka Tuhan akan memainkan perannya”.



Diana Agustina

No Comments Yet.