Pencarian Jiwa


Monday, 30 Nov -0001


Banyak dari kita selalu mencari ‘sesuatu’. Sesuatu tersebut dapat berupa jawaban dari pertanyaan – pertanyaan tentang hidup, masalah atau keinginan terdalam dari diri. Seringkali kita memiliki ekspetasi tentang bagaimana pertanyaan – pertanyaan tersebut terjawab, sehingga kita tidak berhenti untuk memikirkannya.

Sebagian dari kita, mungkin sedang merasakan perasaan ‘aneh’ akibat dari kehilangan; bisa kehilangan dalam bentuk materi, orang terdekat atau apapun yang biasanya kita pegang erat. Berbagai hal berharga yang hilang menyisakan satu kehampaan di dalam jiwa. Merasa tidak utuh, cemas, tidak nyaman dan kosong.

Lalu, beberapa dari kita pernah merasakan lelahnya menyimpan dendam dan kebencian. Dendam dan kebencian tidak selalu berarti bahwa ‘I am the bad person’, ada kalanya dendam dan kebencian hadir karena perlakuan dari lingkungan yang membuat kita tertekan dan merasa tersakiti sehingga mudah untuk membenci. Namun nyatanya memelihara dendam dan kebencian tidak menjadikan hidup menjadi lebih baik, justru sebaliknya.

Saya pun pernah mengalami semuanya itu. Untuk mengontrol diri dari berbagai pencarian, kehilangan maupun kebencian, saya mencoba untuk refleksi batin. Saya mengambil waktu untuk sendiri dan meredamkan pikiran.

  1. Berhenti mengajukan banyak pertanyaan kepada Tuhan, terutama beberapa pertanyaan klise berikut ini : “Why me, Lord?”, “Maunya Tuhan apa?”. Hal ini bertujuan untuk memberi kesempatan bagi diri untuk mendengarkan suara Tuhan.
  2. Mencintai diri sendiri. Mengapa? Ternyata dengan mencintai diri sendiri, memampukan kita untuk dapat mengasihi orang lain lebih mudah.
  3. Berterimakasih atas semua yang sudah kita alami. Artinya, bersyukur atas kejadian yang menimpa kita, masalah, maupun orang – orang yang datang dan pergi dalam perjalanan hidup. Jawaban dari pertanyaan – pertanyaan maupun pencarian kita, bisa datang dengan cara tak terduga. Mungkin dari satu peristiwa yang tidak mengenakkan, orang – orang yang kita temui atau malah diri kita sebagai jawabannya. Langkah ini dapat membantu untuk belajar rendah hati jika kita mampu untuk menerima semua sebagai pelajaran.
  4. Memulai dari awal. Setelah mendapat pemahaman baru, tentukan bagaimana kita ingin membangun kembali hidup. Lakukan seperti halnya seorang penulis yang memulai tulisannya dari kertas yang kosong. Hal yang sudah berlalu memang tidak bisa kita hapus atau ubah, tapi kita masih memiliki kesempatan untuk hari berikutnya. The key is to keep going.

Salah satu quote yang terkenal berjudul The Physics of The Quest dari buku Eat Pray Love mungkin bisa menjadi inspirasi kita untuk merenung.

Aturan Pencarian Jiwa seperti ini :

Jika kamu cukup berani untuk melupakan segala hal lazim yang nyaman; yang dapat berarti apapun dari rumahmu, menjadi kebencian lama yang pahit dan pergi dalam perjalanan mencari kebenaran; baik secara luar atau dalam

Jika kamu berkeinginan untuk menganggap segala hal yang menimpamu dalam perjalanan itu sebagai petunjuk

Jika kamu menerima semua orang yang kamu temui sebagai guru dan jika kamu sudah siap, hampir semuanya; untuk menghadapi dan memaafkan kenyataan yang sulit tentang dirimu

: maka kebenaran tak akan disembunyikan darimu

(Elisabeth Gilbert: Eat Pray Love)

Urbanesse, selamat mencari, selamat bertumbuh, jangan lupa memberikan dampak positif bagi orang lain.



Vincentia Archi Persita Wulan Ari

I am passionate traveler. Travel formed me as much as my formal education. (David Rockefeller)

No Comments Yet.