Pelangi Setelah Hujan


Monday, 30 Nov -0001


Sukacita hmmm seperti apa ya rasanya. Bahasa Inggrisnya kan joy. Dimana-mana kata ini sering muncul apalagi pada saat Natal. Semua kartu ada kata joy, hahaha so familiar. Dari dulu saya selalu berpikir sukacita itu perasaan bahagia yang sureal seperti di alam mimpi. Seneng sih tapi, ya itu, di alam mimpi enak buat bengong-bengong saja.

Nah, kebetulan saya bekerja di perusahaan keluarga yang terlihat harmonis tapi kurang bisa mengungkapkan kasih yang hangat. Semuanya tentang komitmen dan tanggung jawab. Harmonis sih, tapi rasanya steril. Dingin.

Semasa kecil sampai umur 30 an saya beranggapan bahkan menipu diri sendiri dengan berkata, “Keluarga saya warm dan sehat kok hanya anggotanya super cuek dan independent, liberal. Sounds cool ya. Siapa ada di mana biasanya tidak saling tahu dan juga tidak saling tanya. Mau ke US, Hongkong, Singapore, masing-masing jalan sendiri. Kumpul keluarga, opsional. Masing-masing mencari kebahagiaan sendiri. Paling kumpul kalau ada masalah yang mau didiskusikan atau kebetulan hari raya dan semua lagi tidak ngapa-ngapain.

Beranjak di atas 30, saya mulai berkumpul dengan beberapa anggota keluarga apakah acara gereja, makan-makan atau pun hangout. Hati saya sering tiba-tiba terasa perih, seperti tertusuk duri yg runcing. Tusukannya cepat, tapi terasa sangat panjang. Menyengat dan membekas. Yang setelah ditarik lagi, efek tusukannya seperti menyedot tenaga yang ada. Saya jadi sering tersenyum miris dan bingung kenapa merasa begitu, bahkan kadang disertai tetes airmata yang bergulir dan terasa hangat di pipi. Dengan cepat saya hapus karen sedang berada di acara yang seharusnya bahagia, penuh canda dan tawa.

Sakit hati ini tanpa sadar menguak kebenaran yagn selama ini saya hindari. Kenyataan yang gelap dan menyakitkan, yang selalu saya kubur dengan alasan-alasan yang logis. Setelah saya pikirkan kembali, saya sadar kalau saya ini kurang dan haus akan kasih, sementara keluarga saya tidak nyaman menunjukkan dan mengekspresikan semua itu. Anggota keluarga mengekspresikannya dalam bentuk materi atau kritikan beruntun. Yah saya dengar di keluarga keturuna Chinese ini umum terjadi.

Saya jadi merasa lonely, disconnected, dan unloved. Seringnya saya berkumpul dengan keluarga yang lain malah membuka realita yang menjelaskan tentang hati saya yang suka terasa seperti tertusuk-tusuk itu tadi.

Lalu saya berpikir lagi, mungkin selama ini saya yg tidak menjelaskan kebutuhan dan situasi saya kepada keluarga inti. Jadi saya minta waktu untuk meeting keluarga yang malah disambut dengan jawaban, “Belum tau bisa kapan.” Padahal untuk pekerjaan, bisa bertemu anggota keluarga paling tidak seminggu sekali. Betapa remuknya saya, kalau tentang pekerjaan semua bisa langsung cepat dibahas, tapi ketika saya mau meeting untuk kebutuhan pribadi saya, yang jarang saya utarakan, jawabannya belum tahu kapan. Akhirnya setelah saya memaksa dengan mengatakan akan keluar dari bisnis keluarga, baru meeting itu terjadi. Saya jadi makin lemas, apa memang ya saya itu tak ada harganya kecuali untuk kerja? Saya mulai ragu, apakah meeting ini perlu? Sepertinya saya juga tidak akan mendapatkan apa yang saya harapkan dari tanggapan mereka. Untung pada saat yang bersamaan saya sedang ikut konseling, dan saya diajarkan untuk tidak menaruh sumber kebahagiaan pada tanggapan orang lain.

Lalu saya pikir lagi, apa tujuan saya dalam meeting ini yang tidak tergantung pada tanggapan orang lain. Seharusnya saya senang kalau saya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Kali ini saya tidak menuntut mereka membalas kebutuhan saya, cukup saya menjelaskan posisi saya. Bahkan seharusnya saya bangga bisa menjalaninya dengan tegar.

Apapun tanggapan mereka, sudah saya ikhlaskan.

Kata ikhlas ini sepertinya kunci dari penjara yang ada. Penjara kekecewaan, ketakutan, dan kekawatiran. Dengan terbukanya penjara ini hanya 2 hal yang tetap ada: rasa damai dan sukacita. Wow rasanya beda.

Ahh sukacita hehehe wow keluar juga kata ini. Ternyata sukacita itu rasanya tenang, manis, dan bahagia. Tapi bahagianya itu tadi tenang. Bukan yang membuat jantung berdegup seperti ketika shopping, dapet kado, habis dugem. Hmmm rasa ini bertahan lama. Beda rasanya, tapi enak juga.

Kalau ditanya kenapa bisa ikhlas, selain itu nasihat konselor saya, saya juga diajarkan percaya bahwa semua yang kita lewati itu bermakna untuk pembentukan karakter kita. Well, bener juga, untuk bisa ikhlas terutama untuk hal-hal yang menyakitkan hati, rasanya seperti mendaki gunung terjal, dan ketika kita bisa menaklukkan gunung itu, damai dan sukacita datang seperti pelangi setelah hujan. Indah dan bahagia.

  PS: Mau tahu hasil meeting keluarga saya? Tunggu tulisan berikutnya ya hehehe *bulan depan*

 

Sumber Gambar: Stacey Curnow[/caption]



Unknown

No Comments Yet.