Pelajarilah Lawan Jenismu !


Monday, 30 Nov -0001


 

 

Pfuiih!

 

Banyak orang pingin jatuh cinta dan pingin kesengsem. Termasuk diriku. Sudah lama aku tidak mempunyai pacar serius. Banyaknya hanya date, date, dan date. Yah biasa. Banyak pria aku rasa lebih baik jadi temen makan drpd mnejadiseseorang yang patut mendapatkan lebih dr diriku. Heheheh namanya juga wanita karir, apa apa maunya praktis dan tidak ribet.

 

Nah karena terbiasa sendiri, aku juga terbiasa travelling dengan grup- grup yang berbeda untuk sekedar refreshing atau mencoba hal hal baru yang unik. Suatu saat saya pergi keluar kota untuk bersama teman-teman sehobi. Tanpa disangka sangka dalam acara ini aku bertemu seseorang.

 

Awalnya Fun

Awalnya fun dan tidak berpikir panjang. Namun dengan berjalannya waktu aku sadar “wah yang ini bahaya juga”. Aku juga bingung kenapa tiba2 berpikir seperti itu, padahal biasanya aku adalah wanita yang cukup cuek dan percaya diri. Singkat kata dengan adanya perasaan was was ini aku jadi semakin berhati-hati menjalani hubungan yang awalnya fun ini. Aku perhatikan sepertinya sekarang dia itu tidak lagi memprioritaskan diriku karena pernah telat sampai 2 jam padahal pertemuan kita itu cukup penting buat aku.

 

Lalu kalau salah sepertinya enggan untuk di kritik, setelah minta maaf ingin buru-buru pindah topik.  Yang dulunya selalu mau ketemu mulai sedikit-sedikit ada kegiatan lain.

 

Tuhkan bener, semua laki2 sama saja. Kalau sudah diperhatikan dan diprioritaskan pasti penyakit-penyakit kurang ajar mulai keluar. Aku pikir “well ngga papa” aku juga punya jurus anti kurang ajar. Dalam waktu tidak sampai 1 minggu dari rasa kecewaku itu aku sudah mengambil keputusan untuk putus. Yes, buat apa lama lama lagi kalau pasangan kita sudah terlihat aslinya dan aslinya benar-benar jauh dari yang kita harapkan. Cuek, suka ngeles, tidak sensitif.

 

Done ?!

Ohh ternyata tidak, ternyata pacarku atau ex-pacarku itu merasa “kita” masih bisa diusahakan. Lalu dia meminjamkan buku tentang  pengertian pria dan wanita. Mmmm untung aku suka baca buku, kalau engga, ngapain juga sudah putus minjemin buku…


Walau sudah “putus” ya kita masih komunikasi karena menurutku komunikasi ya ngga papa yang penting sudah tidak terikat dengan si dia. Sembari komunikasi buku2 yang berjudul For Women Only ini aku baca-baca. Lembar demi lembar membuat aku sedikit berkeringat, terlebih ketika aku memikirkan kejadian-kejadian kemarin yang berakhir dengan kata “putus” itu tadi.

 

“jangan-jangan maksud dia ini….”, “jangan-jangan posisi dia seperti ini…” Dan jangan-jangan yang lainnya. Karena memang aneh, kalau sudah menyia-nyiakan orang kok masih berkata “kita’ masih bisa diusahakan.

 

Cara Berpikir Berbeda

Dengan bergulirnya waktu rasa emosi sudah reda. Relationship juga sudah berakhir. Iseng-iseng aku menanyakan semua jangan-jangan yang ada di kepalaku tadi. Satu demi satu jangan-jangan itu dijawab dengan jawaban yang makin membuat aku stress. Ternyata pikiran dia tak sama dengan pikiranku, dari sisi dia bukan terpicu pikiran yang aku pikirkan. Tapi seperti di otak aku ada suatu cerita, di otak dia juga ada cerita lain dengan adegan yang sama.

 

Haduh bagaimana ini? Jangan-jangan aku salah mengambil keputusan yang tadinya sudah yakin banget? Untung si dia sabar, mau berusaha, dan juga, mau mengerti setelah memaafkan. Mungkin dia sebenernya peduli. Haduh!

 

Well setelah perbincangan yang panjang akhirnya kita berdua mendapatkan jawaban yang mirip berkat bantuan buku For Women only:

 

 

  • Pria itu terkadang semakin dekat dengan seseorang semakin takut utk merasa dan terlihat ringkih

 

  • Pria itu butuh dianggap kuat walau seringnya dia tidak merasa sekuat yang dia tampilkan

 

  • Pria itu tidak sesensitif wanita tapi bukan berarti dia tidak peduli. Cara menunjukkan pedulinya terkadang berbeda dengan definisi wanita ttg peduli.

 

  • Arti kata telat pun bisa berarti berbeda bila ditafsirkan lawan jenis.


  • Kalau wanita tidak mengerti apa yang ada dalam benak pria dan mentafsirkan hanya dengan logika biasa, kecenderungannya wanita tidak mendapatkan gambaran yang objektif dan bisa jadi mengambil keputusan yang salah.

 

Aku merasa beruntung aku masih sempat membaca buku tersebut, ex pacarku (yang soon akan menjadi pacar lagi) masih mau berjuang bahkan dengan sabar menunggu waktu untuk berdiskusi, dan pengertian baru aku tentang pria membuat aku makin bersimpati terhadap mereka, makin mau mengerem tuduhan-tuduhan yang aku utarakan karena pikiran dan rasa emosiku, dan juga mudah-mudahan membuat aku bisa memperlakukan pria dengan lebih tepat. Menjadi partner, bukan menjadi perong-rong, atau penuduh.

 

Thank you Shaunty Feldham =)



Priscilla

No Comments Yet.