Peace is Me


Monday, 30 Nov -0001


 

Perdamaian sangat diperlukan dunia ini. Coba Urbanesse bayangkan bagaimana jika hari ini kita hidup dalam situasi perang.  “Hari gini memangnya masih ada perang? Perasaan perang dunia sudah berakhir lama, Indonesia juga sudah merdeka sejak tahun 1945”

Ya mungkin perang yang kita hadapi saat ini mungkin bukan perang seperti di film-film dengan gencatan senjata, bom dan sebagainya. Tapi perang dengan cara lain, yang sama berbahayanya jika semua orang melakukannya. Perang dengan menciptakan suasana yang menegangkan dalam hubungan kita dengan sesama dan memberi dampak secara langsung atau tidak langsung kepada orang di sekitar kita. Contohnya permusuhan, menjadi provokator, menyebarkan berita tidak baik tentang orang lain yang belum tentu benar.

Masih ingat tulisan yang lalu tentang Inner Peace? Di tulisan tersebut saya berbagi bahwa sebaiknya, sebelum menemukan hal lain, hal pertama yang perlu ditemukan adalah kedamaian dari dalam diri sendiri. Setelah itu, dengan otomatis kedamaian ini akan memberi pengaruh terhadap diri sendiri dan sekitar ktia.

Beberapa faktor yang menyebabkan perang bisa terjadi adalah karena ke dua belah pihak yang saling bertentangan dan  keegoisan manusia yang mau menguasai satu sama lain atau menang sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering memperhatikan beberapa hal berikut supaya tindakan saya tidak menimbulkan keributan:

  1. Sudahkah saya mengesampingkan kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan bersama? Apakah saya sudah bertindak sesuai norma dan ideologi negara, Pancasila. Kedua hal ini dapat dijadikan sebagai dasar tujuan dalam melakukan sesuatu.
  2. Tidak merasa pemikiran diri paling benar.
  3. Belajar mengalah. Tidak selalu pendapat kita harus digunakan, harus dilakukan oleh orang lain.
  4. Berbesar hati menerima masukan, kritik atau saran dari orang lain, terutama yang negatif untuk kita dan tidak menganggap hal itu sebagai serangan, tapi pembelajaran.
  5. Tidak mudah percaya dengan berita yang didengar, mencari tahu faktanya.
  6. Berpikir sebelum bertindak. Berpikir sebelum mengucapkan sesuatu. Apalagi sebagai wanita, sebagian besar mempunyai kelemahan di mulut. Belajar untuk mengendalikan mulut kita. Tidak semua informasi yang kita ketahui harus diberitahukan.

Tapi, apakah nanti jika melakukan hal-hal tersebut malah dianggap lemah atau rendah oleh orang lain? Menjadi korban?

Jika melihat jauh ke depan, jawabannya tidak. Mengapa? Karena setiap hal yang dilakukan, pasti akan memberikan dampak, baik secara langsung atau pun tidak. Dengan melakukan hal-hal di atas, awalnya memang tidak mudah, tapi setelah melakukannya berulang kali dan menjadi kebiasaan, hal-hal tersebut menjadi kebiasaan yang menjadi panduan saya untuk bertindak. Hasilnya? Beberapa memang tidak terasa langsung, tapi ada beberapa yang sudah saya rasakan, dan saya merasakan manfaatnya, baik bagi saya sendiri maupun orang lain. Kuncinya adalah melakukannya dengan tulus.

Mengalah, bukan berarti kalah. Dengan mengalah kita memberi kesempatan kepada diri (hati) kita untuk semakin ‘kaya’. Jadikanlah kedamaian sebagai bagian dari diri kita, sehingga dimana pun Urbanesse berada pasti menciptakan kedamaian bukan sebaliknya.



Unknown

No Comments Yet.