Not Impossible!


Monday, 30 Nov -0001


Apakah ini anggapan yang sudah 'jadul' jaman dulu atau masih tetap sampai sekarang, bahwa jika kita berbicara tentang gender mana yang paling terlihat egoisnya adalah pria. Apakah benar?

Mari  kita lihat dulu  pendapat pria yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta yang bergerak di bidang asuransi ini.

 

-------

Apakah pria secara alami pasti memiliki ego yang tinggi?

Di Indonesia yang mayoritas sukunya menganut sistem patriarki sepertinya dapat berdampak otomatis munculnya rasa ego yang tinggi. Dikatakan otomatis, karena dalam menjalankan perannya misalkan sebagai kepala keluarga, "otoritas/kuasa/power" melekat di dalamnya dan kuasa yang digunakan untuk memutuskan, berpotensi memunculkan rasa egois. Tetapi kalau dikatakan secara alamiah setiap pria pasti memiliki ego yang tinggi, belum tentu, karena sifat tersebut bertumbuh dan berkembang dipicu juga dari lingkungan sekitar dan keluarga.

 


Sulit untuk tidak menjadi egois

Tapi cukup sulit jika meminta seorang pria untuk tidak menjadi egois, karena paradigma patriarki sudah lama tertanam di hampir semua pria. Akan diejek oleh pria yang lain jika pria ini tidak egois, akan dicap penakut dan penurut nantinya. Buat saya sendiri, gampang-gampang susah sebenarnya, susah waktu masih sendiri, kita hanya memperhatikan diri sendiri tidak ada tanggungan, tapi jika kita sudah berkeluarga dan menikah, menguasai egois menjadi tidak terlalu sulit karena kita hidup sudah bukan individu lagi, sudah memiliki keluarga (istri/anak), walaupun kadang masih suka muncul tetapi frekuensinya sudah jauh berkurang. 

 

Hal sederhana salah satu tidakan egois yang pernah saya lakukan, adanya kebiasaan khusus/hobi menonton film. Saya suka menonton film jenis action, jika diajak ke cinema oleh istri, saya tanya dulu film apa yang mau ditonton, jika bukan action, saya tidak mau ikutan..akibatnya rugi sendiri, karena akhirnya tidak jadi nonton dan berkurangnya kesempatan untuk menonton film bersama-sama.

 

Seharusnya menurut saya menghidupi jati diri sebagai pria dengan menyadari kita menjadi rekan sekerja yang setara dan saling melengkapi antara pria dan wanita. Pria dan wanita sejak diciptakan sudah memiliki perbedaan, perbedaan itulah yang digunakan untuk saling melengkapi bukan diperdebatkan dalam menjalani kehidupan.

 

Sejak berkeluarga dan memiliki anak, hobi saya nonton DVD sudah hampir tidak dilakukan lagi, karena jika di rumah saya lebih memilih banyak menyediakan waktu untuk anak. Pernah setiap pulang kerja, jika kerja membawa mobil, saat sudah sampai di rumah, anak saya selalu minta berputar-putar di komplek perumahan dulu sebelum mobil dimasukkan, jadi walaupun kadang sudah letih di kantor dan di perjalanan, saya tetap senang melakukan kegiatan tersebut bersama anak.

 

------

 

Not Impossible

Jadi urbanesse, pria memang memiliki rasa ego yang tinggi yang bisa  memunculkan rasa egois, memang sulit untuk tidak bertindak egois, tapi bukan hal yang tidak mungkin. Jika sadar akan jati dirinya dan memaknai pentingnya hidup bersama dengan manusia lain, ketimbang hidup sendirian. Hidup kita akan lebih bermakna bila berarti bagi orang lain, apa indikatornya? Jika orang yang bersama kita bahagia dan hati kitapun merasa sukacita.



Unknown

No Comments Yet.