Mungkin Fokusnya Bukan Di Pernikahan


Monday, 30 Nov -0001


Kira-kira 20 tahun yang lalu ketika saya baru mulai pacaran, saya berpacaran seperti kebanyakan perempuan Indonesia pada jaman itu : setia, percaya, memberikan yang terbaik, dan berpikir yang terbaik mengenai pacar saya. Saya berharap saya akan bisa membina keluarga yang ideal bersamanya, di mana saya akan menjadi lebih bahagia lagi dibanding saya single dan dia merupakan pacar awal dan terakhir saya. Karena saya beranggapan saya adalah wanita dari keluarga baik-baik dan begitu juga dia.

 

Di tengah masa pacaran saya menemukan hal-hal yang membuat saya merasa kurang nyaman tapi saya selalu berusaha berpikir positif. Ketika dia meminta seluruh tabungan saya untuk membeli jam tangan mewah sebagai bukti ketulusan cinta saya, saya pun menguras tabungan saya walau dengan sedikit berat hati, maklum nabungnya sudah bertahun-tahun. Tapi saya kembali berpikir yah namanya calon suami, uang kita kan pada akhirnya uang bersama, toh pada saat kita menikah dia akan menafkahi saya. Mungkin memang benar cinta saya belum terlihat “seutuhnya” seperti kata dia…..

 

Berlanjut beberapa bulan saya mulai bingung kenapa saya itu sering berdarah ya kalau dicium oleh dia. Mmm…tidak wajar, tapi…saya juga berpikir yah cara orang mengungkapan cintakan berbeda beda ya, mungkin itu cara dia walau extreme… ya sudahlah tidak terlalu sakit juga….

 

Lalu ketika saya pergi sekolah keluar negeri dia juga wanti-wanti supaya saya kembali menabung uang saya dan kalau bisa kerja karena saya butuh uang itu untuk memperbaiki penampilan saya yang menurut dia “pas pasan”. Saya sedih tapi saya juga merasa ya kalau saya lahir pas pasan pastinya saya harus berbuat sesuatu karenakan pacar saya tidak mungkin memberikan masukan yang tidak berguna untuk saya….

 

Uang saya habis, rasa percaya diri saya hampir nol, dan secara fisik saya iya-iya saja diperlakukan bagaimanapun juga karena saya percaya dia cinta dan ini buat kebaikan saya. Saya menganggap cinta dan pernikahan adalah tujuan utama saya dan akan saya perjuangkan sebaik mungkin. Sangat mulia dan juga sangat emosional yang penting saya dicintai dan dinikahi pada akhirnya.

 

Itu awalnya dan merupakan awal yang sangat buruk bila saya telaah kembali.  Lalu dengan berjalannya waktu kekecewaan demi kekecewaan mendatangi hidup saya. Ada pacar yang berselingkuh, ada pacar yang kalau ada wanita lebih cantik saya tidak dihiraukan, dan ada juga yang cuma sekadar mendapat benefit diurus – bajunya saya cucikan, makanan saya bawakan dan sebagainya.
 

Semua saya lakukan dengan asas yang sama. Saya wanita baik-baik, setiap berpacaran saya harus berusaha terbaik, supaya saya bisa secepatnya menikah. Saya sering sekali menipu diri saya bahwa semua hal-hal buruk itu dilakukan landasannya cinta. Ya saya sangat butuh merasa dicintai pada saat-saat itu.

 

Tapi semua kekecewaan juga ada batasnya. Sampai suatu saat kira-kira 2-3 tahun yang lalu saya menjadi pribadi yang sangat getir karena selain saya tidak kunjung menemukan calon suami yang baik. Saya juga merasa saya sering diperlakukan semena-mena dalam hubungan-hubungan saya. Dipergunakan, diperlakukan secara keras, dibohongi, dan lain-lain.  Saya capek menangis, saya capek sakit hati, dan saya mulai berpikir apakah menikah benar-benar tujuan akhir saya? Apakah menikah itu penting sekali seperti apa yang dikatakan orang-orang dan apakah iya semua pengorbanan itu akan terbayar setelah saya menikah?

 

Karena keadaan yang sudah sangat kecewa dan pahit, terutama karena saya mendapat pria yang akan saya nikahi itu melakukan sex chat dengan wanita lain (yang diakuinya sudah dilakukan dari awal hubungan kita) saya langsung banting setir. Saya merasa prioritas utama saya sekarang bukan lagi menikah tapi mengembangkan diri saya karena dalam mengembangkan diri saya tidak akan ada lagi rasa sakit hati memperjuangkan cinta.

 

Saya mulai lebih fokus terhadap kerja dan saya menganggap ya kalau saya tidak menikah pun paling tidak saya ada cukup uang untuk menghidupi kehidupan saya. Saya lakukan hal-hal yang selama ini ingin saya lakukan (dulu saya menahan diri dalam melakukan beberapa hal karena takut tercermin sebagai calon istri yang kurang baik), sama banyak berorganisasi supaya saya tidak kesepian dan saya juga banyak berpikir bagaimana memperbaiki diri saya sendiri. Terakhir saya bertekad saya sudah tidak mau tersakiti lagi oleh hal-hal yang bodoh karena saya memperjuangkan cinta.

 

Kalau ada pria yang bisa bersama dengan saya dan bisa menjaga saya dengan baik. OK bisa saya pertimbangkan untuk jadi pacar. Jika tidak ya tidak apa-apa. Kedua saya tidak lagi mau beramsumsi semua date/ pacar adalah calon suami. Dilihat dulu. Kalau tidak punya kualitas untuk menjadi suami ya untuk apa dinikahi karena cita-cita saya untuk menikah cepat juga sudah tidak ada.

 

Saya menjadi pribadi yang berbeda. Menjadi lebih bahagia karena saya bisa menjadi diri saya sendiri dan juga penuh rasa positif karena saya tidak perlu lagi menangis dan berpikir kenapa saya diperlakukan dengan buruk atau kapan saya dinikahi. Kehidupan romance saya malah sepertinya berubah. Perlahan-lahan pria-pria yang menurut saya menarik tapi membuat jengkel seperti hilang dari peredaran orbit di sekitar saya. Awalnya sepi juga. Tapi yah saya sudah capek disakiti jadi buat saya sendiri lebih baik daripada sakit hati lagi.

 

Berjalannya waktu saya memiliki banyak teman yang masuk kategori “pria baik-baik banget”. Sebagian besar memang bukan tipe saya tapi menyenangkan juga berada di antara mereka yak karena itu tadi, mereka baik, tidak menyakiti, dan tidak bikin jengkel. Melewati hari hari tanpa pacar dan calon suami ternyata fine-fine saja ya.  Malah teman saya jadi banyak sekali dan kegiatan saya juga variatif.

 

What a fun life!

Enak juga. Terkadang memang sih ada rasa-rasa sepi tapi itu hanya sesekali. Kalau dibanding kegetiran yang pernah saya lalui, kesepian yang sesekali itu rasanya kecil sekali. Tidak berarti dan enaknya hidup saya tenang deh, tidak pusing. Semua berjalan begitu saja.

 

Baru 3 bulan belakangan ini saya kembali punya pacar dan awalnya ya dia itu salah satu teman “pria baik-baik banget” itu. Kita sudah kenal beberapa bulan sebenarnya tapi karena ya pikiran saya sudah fokus ke diri saya sendiri jadi semuanya ya terasa biasa-biasa saja. Mau olahraga, mau makan, dll. Bahkan saya kadang cuek saja berantakan habis olahraga, ketawa-ketawa terlalu keras, dll. Hal-hal yang mungkin dulu tidak akan saya lakukan kalau saya berhadapan dengan potensial-potensial pacar. Lebih herannya lagi dengan gaya saya yang apa adanya masih ada yang naksir hahahaha…..

 

Ya yang menjadi pacar saya sekarang memang berawal dari teman dan memang dari dulu saya tahu dia orangnya baik. Cuma karena saya tidak mencari secara serius saya juga tidak berpikir jauh. Setelah dijalani, ternyata dia masih baik. Mungkin karena sekarang saya sudah terbiasa punya rutin sendiri, punya tujuan-tujuan pribadi dan saya punya komunitas sendiri, jadi waktu saya juga tdak lagi sepenuhnya untuk pacar saya.

 

Saya juga sekarang tetap mencintai tapi saya selalu lihat apakah apabila rasa cinta saya memerlukan pengobanan yang besar atau sepertinya menurunkan rasa hormat saya terhadap diri saya, rasanya sudah tidak perlu deh dilakukan. Toh ya saya sekarang pacaran ya saya jalani secara objektif saja. Kalau memang dia tetap baik, dan kita tetap serasi, walau tanpa banyak usaha dan pengobanan dari saya ya bisa dipikirkan ke depannya tapi kalau tidak ya tidak perlu dijalani.

 

Praktis, bahagia, ngga neko-neko, dan yah walau baru 3 jalan 4 bulan  saya merasa bahagia, ringan, dan rutinitas saya juga tidak terganggu. Bagusnya lagi saya lebih ceria dibanding masa-masa pacaran saya dahulu karena saya tidak punya ekspektasi berlebih mengenai hubungan ini. Saya sudah terbiasa setiap hari melakukan hal-hal yang membuat saya bahagia tanpa pacar.
Jadi ya punya pacar seperti "icing on the cake not the cake itself anymore."

 

Dari semua pengalaman ini saya mengambil kesimpulan bahwa saya sebagai wanita terkadang berharap terlalu jauh, sehingga rela berkorban terlalu jauh, dan seringnya tidak realistis sehingga saya membuka diri saya terhadap hal-halyang mudah menyakiti saya dan saya belajar bahagia itu tidak datang dari orang lain, tapi bahagia itu datang dari diri kita sendiri. Melakukan hal-hal yang membuat kita senang dan mengatur ekspektasi kita terhadap orang lain dan hubungan yang ada. Berbahaya sekali kalau saya menaruh kebahagiaan dan masa depan saya kepada orang lain, karena orang hanyalah manusia yang juga penuh kekurangan.

 

 

So…. Mudah2an pola pikir saya yang baru ini langgeng dan bahagianya juga…langgeng...



Priscilla

No Comments Yet.