Mmm...Menjadi Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga yaa?


Monday, 30 Nov -0001


Mengelola emosi sebenarnya cukup luas cakupannya untuk diceritakan, namun saya memiliki pendapat sendiri yang lebih saya kerucutkan mengenai pengelolaan emosi. Emosi sebenarnya itu hanya ego yang kemudian dibesar-besarkan dan jadilah apa yang disebut kecewa, marah, sedih dan sebagainya. Mengelola emosi berarti mengontrol atau mengatur jalannya ego yang ada di pikiran dan hati kita. Makin besar egonya makin besar pula emosinya. Saya jadi ingat perdebatan di media sosial beberapa teman seputar topik antara profesi Ibu Rumah Tangga yang bekerja atau menjadi Ibu Rumah Tangga Full dirumah mengurus pekerjaan rumah tangga dan anak-anak.

 

Masing-masing memiliki argumen dan pembenaran sendiri untuk status yang sedang mereka sandang. Saya hanya tertawa dalam hati, Yaaa untuk apa gitu diperdebatkan, sampai perang urat putus juga dua-duanya pasti menganggap pilihannya yang paling baik. Kelompok Perempuan bekerja menganggap profesinya itu baik selain bekerja membantu suami juga agar memiliki kemandirian dalam hidup sebagai perempuan, menurut mereka yang penting anak dan suami tetap diperhatikan. Atau mereka yang beranggapan kalau menjadi Ibu rumah tangga itu baik karena bisa full mengurus dan terlibat langsung dalam mendidik dan melihat perkembangan buah hati serta rumah dan suamipun terurus dengan tangan sendiri. Buat saya keduanya benar, keduanya baik dan mulia niatannya.

 

Tidak ada yang lebih baik maupun yang lebih buruk. Kalaupun ada yang mengatakan “Ah lebih baik jadi Ibu Rumah tangga, Mulia urus anak dan suami terlibat secara langsung, Ah lebih baik jadi perempuan bekerja bisa lebih mandiri dan tidak bergantung dengan suami” Saya pastikan yang komentar seperti itu pasti sedang terjebak oleh ego nya sendiri hingga lupa denga ucapannya tersebut, bahwa mereka sebenarnya sedang menjatuhkan aktivitas atau rutinitas perempuan lainnya. Entah itu perempuan yang bekerja maupun Ibu rumah tangga, ujung-ujungnya emosi tidak stabil dan lagi-lagi terus balas membalas argumen untuk menjatuhkan kaumnya sendiri. Menyedihkan yaaa. Menurut saya ego-ego seperti itu semestinya dihilangkan, harusnya mereka itu saling mendukung aktivitas yang dilakukan sesama perempuan. Toooh kedua profesi tersebut sama-sama melelahkan lho...Jangan salah!

 

Profesi Ibu Rumah Tangga merupakan pekerjaan tiap hari yang bisa dibilang tanpa kenal waktu dari pagi-pagi sekali mereka harus bangun melayani kebutuhan anak-anak dan suami, siang hingga malam mereka mengurus rumah dan menjaga anak-anak. Begitupun Profesi Perempuan Pekerja juga tak kalah melelahkannya mereka selain harus berperan sabagai karyawati ditempatnya bekerja yang harus menjunjung tinggi profesionalitasnya, mereka juga harus berperan sebagai Ibu dan Istri untuk anak-anak dan suaminya. Bangun pagi-pagi juga, seperti halnya Ibu rumah tangga lainnya, pastinya harus menyiapkan semua kebutuhan anak dan suami sebelum ditinggal berangkat bekerja. Sepulangnya dari aktivitas bekerja yang melelahkan di kantor mereka juga harus dihadapkan untuk merasakan macetnya jalanan Ibukota. Sampai di rumah harus menyiapkan makan malam untuk suami, mendampingi anak-anak belajar dan beres-beres mempersiapkan kebutuhan keluarga untuk keesokan harinya. Fair kan? Kalau dirasain sama melelahkannya, sama niatan baiknya dan menurut saya kedua profesi ini sama-sama dilakukan oleh perempuan yang kuat hatinya. Jadi tidak ada alasan untuk terjebak di ego masing-masing.

 

Perumpamaan ego mungkin seperti tulisan salah seorang kawan saya Mbak Fiki dalam blog miliknya “FIKI MAULANI” yang berjudul “Terjebak Ego” ditulisannya tersebut Mbak Fiki mengurai perumpamaan seperti apa ego itu “Jika menurutmu bersepeda dan menggunakan kendaraan umum itu lebih mencintai lingkungan, dan kemudian menuding pengendara kendaraan bermotor itu salah, maka kamu terjebak dalam egomu sendiri.

Jika menurutmu tidak menonton televisi itu lebih baik karena televisi akan merusak otakmu, tetapi dirimu menuding orang lain menonton televisi itu sebagai sesuatu yang tidak baik, maka kamu terjebak dalam egomu sendiri.

Jika menurutmu menghindari membaca dan menonton tontonan tentang gosip, tetapi menuding orang lain yang melakukan hal tersebut itu sebagai sesuatu yang salah, maka dirimu terjebak dalam egomu sendiri. Jika kamu merasa sudah sangat benar dalam pola hidup dan lifestyle karena sudah melakukan Yoga, menjadi seorang vegetarian, selalu mengkonsumsi makanan minuman organik, dan suka membaca buku spiritual tetapi menuding orang-orang yang tidak melakukan ini sebagai sesuatu yang salah, maka kamu terjebak dalam egomu sendiri. Perasaan yang selalu mengutamakan keunggulan diri, adalah suatu ciri bahwa kamu telah terjebak ego dirimu sendiri. Keunggulan, menghakimi, ‘pelabelan’ terhadap sesuatu. Itu adalah jebakan ego.

Well...perdebatan mengenai profesi Ibu rumah tangga yang bekerja maupun Ibu rumah tangga yang full di rumah saya rasa seharusnya sudah selesai, tidak perlu lagi tuh adu argumen hingga balas-balasan lempar meme tentang kedua profesi mulia tersebut. Semua profesi tersebut pastinya diambil oleh perempuan mungkin ada alasan tersendiri yang sudah mereka pikirkan sebelumnya, sudah mereka diskusikan dengan pasangan dan pasti sudah mereka niatkan dalam hati serta tahu batasan dan resiko yang akan mereka hadapi dari pilihan dua profesi mulia tersebut. Tidak perlu saling menjatuhkan, tidak perlu saling meremehkan, tidak perlu saling merendahkan. Kalau bukan kita sesama perempuan yang saling mendukung kedua profesi mulia tersebut siapa lagi? Saya setuju dengan pendapat seorang kawan kantor saya dia mengatakan “Wanita mungkin perlu menghargai dirinya sendiri dalam situasi apapun tanpa dinilai dari atribut yang dimiliki. Dimulai dengan menolak untuk diperlakukan tidak terhormat dalam kondisi apapun” Jadi, mau berkarir atau mau menjadi Ibu rumah tangga, itu pilihan pribadi masing-masing dan tidak perlu dibandingkan apalagi diperdebatkan. Masing-masing orang menjalankan pilihan tersebut dan sudah tahu porsi dan konsekuensinya. 



Libra

No Comments Yet.