Merajut Kesabaran


Monday, 30 Nov -0001


Mobil yang saya tumpangi dari Jakarta menuju Jambi, ringsek parah di tengah-tengah kampung. Sopir melaju dengan kecepatan 140 km sehingga menabrak ujung kiri truk dan sopir membanting setir sehingga menghantam tiang listrik. Dalam keadaan tidak sadar saya dilarikan ke Rumah Sakit Umum, sopir meninggal. Selama dua hari saya mengalami demam tinggi, karena keterbatasan medis maka saya dirujuk ke Jakarta kembali. Hasil scan menunjukkan bahwa tulang leher (cervical) remuk di bagian 4, 5, dan 6.

Dokter sudah memberitahukan bahwa hasil operasi hanya 15 persen. Mendengar hal tersebut orang tua saya sempat terhenyak dan shock, namun apa daya mau atau tidak mau harus menyetujuinya. Setelah operasi yang memakan waktu 8 jam memasangkan pen di belakang leher, kurang lebih 2 minggu saya mengalami masa kritis. Panas tinggi 40 derajat yang datang dan pergi, bahkan koma 2 hari. Nyawa saya saat itu bagaikan di ujung tanduk. Rumah sakit dengan rutinitasnya membuat saya muak. Rindu akan kampung halaman dan teman-teman sering menerpaku, ini menjadi kekuatanku untuk bertahan.

Akhirnya saya boleh keluar dari rumah sakit setelah hampir 2 bulan. Senang sesaat ketika diperbolehkan oleh dokter untuk berobat jalan. Siapa sangka selanjutnya membuat saya harus belajar menerima kenyataan bahwa saya bukan Airin yang dulu lagi. Saya tidak memiliki kekuatan untuk duduk sendiri dan membalikkan badan, tangan tidak mampu menggenggam, memakai kateter, dan BAB dibantu dengan enema.

Menata hidup merupakan hal tersulit bagi saya, terbukti dengan saya harus struggle di berbagai sisi kehidupan saya. Terutama di bagian dealing terhadap konflik diri, baik secara internal atau eksternal.

Konflik diri seringkali menggerogoti diri, bagaikan setiap menit bahkan detik membuat saya harus mampu dealing dengan “kesabaran”. Dulu, saya adalah pribadi yang mandiri, ketika dihadapkan pada kenyataan untuk duduk pun saya butuh bantuan orang lain, membuat saya tak mampu mengendalikan kesabaran lagi. Hingga satu titik saya berusaha mengakhiri hidup saya dengan membenturkan kepala sekuat tenaga, menggigit lidah, dan tidak makan.

Untuk apa lagi saya hidup? Tidak ada gunanya! Pria yang saya kasihi pun sudah mengkhianati saya. Tidak tanggung-tanggung! Dia mengenalkan wanita yang disukainya ke saya, meskipun saya mengijinkan namun rasanya seperti beribu-ribu jarum menusuk hati saya. Enam bulan setelah kecelakaan, papa saya menikah dengan wanita lain yang notabene adalah rekan kerjanya. Sudah terjatuh tertimpa tangga pula, demikianlah keadaan saya.

I scream frustrated inside, I hate you God.. Why you choose me? I want my life back! It comes up in my brain over, over, and over.

Suatu hari seorang sosok menginspirasi saya, sebut saja Kak Ye. Seorang wanita yang terlahir tuna netra, dari keterbatasannya terpancar aura inner beauty. Teman-temannya banyak yang terinpirasi oleh beliau yang fasih berbahasa Inggris, bermain gitar, lebih luar biasanya lagi beliau perduli akan anak-anak berkebutuhan khusus. Untuk menyemangati saya, mama saya sering bilang, “Lihat, anak temannya mama, si Ye, begitu luar biasa, kamu harus belajar dari dia”.

Mengenai kesabarannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Beliau piawai dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Seperti memasak, mencuci piring, memilih pakaian tanpa salah warna, belakangan saya dengar bahkan beliau menampung kurang lebih 100 anak-anak berkebutuhan khusus. Semangat Kak Ye memberikan cambukan keras untuk terus tegar dalam menerima kenyataan. Kalau beliau bisa menjalani hidup, kenapa saya tidak?

I gained back my confidence gradually since then. Tentu saja saya berdoa kepada Tuhan supaya diberi kekuatan dan kesabaran di dalam menyusuri kehidupan ini dari NOL.

Perlu diketahui orang yang putus harapan tidak dapat melihat masa depan, mereka bagaikan bayi yang kembali belajar merangkak. Kuputuskan menenun segalanya mulai dari makan sendiri, mengetik HP yang memerlukan kesabaran tinggi mengingat jari-jari saya sama sekali tidak berfungsi, membaca buku, belajar bagaimana berpenampilan menarik karena selama 1 setengah tahun saya jarang keluar rumah alias mengurung diri karena minder. Selebihnya saya membutuhkan bantuan dari mama atau orang lain.

Tahun 2006, saya hijrah ke Jakarta bersama keluarga tanpa mengetahui tujuan. Walaupun di Jakarta kami memiliki saudara namun kami memilih untuk tinggal di kost-kostan. Mama memutuskan untuk berpisah dengan papa (almarhum) dikarenakan di luar papa banyak memiliki affairs. Sejak itu, kami berpindah dari satu kost ke kostan yang lain, belum lagi kami mengalami penolakan dari pemilik kostan. Pemasukkan menipis membuat saya kembali dirundung stress dan merasa tidak berguna.

Tahun 2007, melalui seorang kakak yang sering mengunjungi saya yang bernama Kak Ratna. Beliau menawarkan saya pekerjaan sebagai penerjemah bahasa Inggris. Sekali lagi kesabaran saya kembali diuji. Saat itu jangankan punya laptop, yang saya miliki adalah kemampuan Bahasa Inggris yang sangat minim dan tangan mama sebagai pengganti tangan saya untuk menulis. Mama saya tidak fasih berbahasa Indonesia, jadi saya harus mengeja ke mama sambil menyimpan terjemahan di kepala. Rasanya ingin cepat-cepat menuangkan terjemahan tersebut sebelum buyar seluruh kata-kata yang sudah tersusun.

Saya mulai mencicil laptop dari Kak Ratna untuk memaksimalkan diri dalam dunia bekerja. Dari seorang yang tidak mengerti teknologi, saya menantang diri untuk menguasai bagaimana mengoperasikan laptop. Tantangan yang menguras kesabaran saya akhirnya mendatangkan hasil, sampai hari ini saya tidak pernah berhenti untuk belajar untuk mengolah kesabaran. Merasa memiliki kemampuan untuk berbisinis, saya merambah di dunia bisnis online melalui media sosial, yakni Airin Shop sebagai reseller. Di dunia bisnis pun dituntut kesabaran karena yang diutamakan customer satisfaction.

Dengan bantuan ayah angkat, saya menyediakan snack-snack unik, yaitu Pak Budi Setiawan. Saya memberi encourage bagi kaum disabilitas, khususnya disabilitas yang bisa menerima bahasa verbal dan bisa menggunakan Blackberry, pad, atau laptop. Mari kita bersama-sama membantu orang tua atau minimal bisa mencukupi kebutuhan diri sendiri. Boleh dikatakan sembari mengajar mereka sembari belajar berkomunikasi untuk membangun hubungan baik, walaupun membutuhkan kesabaran tinggi.

Merajut kesabaran diri merupakan pengulangan yang Anda dan saya harus lakukan sampai ajal menjemput. Sabar bukan berarti pasrah terhadap keadaan tetapi belajar bijaksana sehingga dapat berpikir secara matang. Mama saya adalah teladan bagi saya dalam belajar mengerti arti kesabaran itu, tanpa mama saya yang memiliki kesabaran yang luar biasa, tidak akan ada Airin sekarang.

Terimakasih buat Tuhan, mama, dan setiap orang yang sudah menginspirasi (tidak mungkin saya sebutkan satu-satu karena terlalu banyak) di dalam hidup saya.

Jika Urbanesse sedang menghadapi masalah dan bingung, bisa konsultasi dengan psikolog profesional melalui layanan Let's Chat.



Unknown

No Comments Yet.