Menjadi Pasangan Teladan


Monday, 30 Nov -0001


 

 

Aku bisa dibilang adalah pengantin baru, jadi masih ada banyak hal yang harus disesuaikan dalam kehidupan baru ini. Mau dari cara kita bangun tidur, makan sarapan pagi, pekerjaan, atau pun kebiasaan tidur, semua banyak yang gampang bikin aku gigit jari kesal (dan aku yakin si suami pun begitu).  Sebuah hubungan, dan apalagi pernikahan, memang melatih kesabaran dan kebesaran hati.  Tapi aku yakin, untuk mengelola sebuah hubungan menjadi baik, kita harus menjadi wanita yang teladan terlebih dahulu.


Keteladanan ini untukku bukan suatu ekspektasi untuk selalu melaksanakan hal dengan sempurna, maupun bersusahpayah setiap hari untuk menjadi wanita sempurna.  Ya memang, kita mau menuju kesempurnaan, tapi taulah namanya manusia, hari ini aku bisa siapkan sarapan pagi, eh yang besok taunya telor bisa gosong.  Banyak hal-hal yang tidak diinginkan datang menampar diriku sampai kehilangan arah.  Jadi, keteladanan yang aku pegang dengan erat adalah ini:  Always Give 100%


Aku gak percaya yang namanya “give 110% or 120%” karena kita gimana mau memberi lebih kalau maksimal kita adalah 100%? Udah deh gak usah lebay… Give 100% itu memang susah dan terasa seperti 200%, tapi sebenarnya jarang banget aku sendiri sampai di titik 100%, karena terlalu sering saat setelah semua beres baru nyadar, eh kemarin seharusnya lebih didorong dan giat lagi ya, siapa tau hasilnya bisa lebih bagus? Itu kan artinya aku sadar bahwa kemarin kurang memberi yang terbaik?


Tapi aku juga sudah sadar akan satu hal. Kita punya 100% itu selalu berubah.  Jadi jangan pakai tanggapan kalau kita memberi 100%, akan selalu mendapat nilai A. Terkadang di hari-hari yang berat untuk dilewati, mau senyum aja susah, apalagi menyenangi si Dia? Di saat-saat seperti ini, pas memberi 100% untuk si Dia, mungkin hanya dapat nilai B, walaupun biasanya bisa dapat nilai A. Saat itu terjadi, ya sudah jangan terlalu dipusingin, asal kita sudah memberi 100%, karena artinya kita sudah mencoba dengan sebisa kita di saat itu.


Memberi 100% itu juga sama dengan memberi versi terbaik diriku untuk Dia setiap saat. Ini adalah sebuah pilihan, bukan respon karena situasi. Di saat-saat dimana aku gak pengen menjadi orang baik/manis/sabar/lembut/rendah hati, apalagi saat aku mempunyai alasan baik untuk menyalahkan/memarahi/menghukum Dia, aku tetap harus memberi versi terbaik diriku untuk Dia. Tidak berarti kalau Dia salah akan aku tutup-tutupi, tapi walaupun dibahas dengan Dia, tetap dengan versi terbaik diriku, misalnya tidak dengan nada tinggi yang menuduh, atau tidak memakai emosi untuk menyalahkan, tapi untuk mencari solusi dan perbaikan untuk kedepannya. Dan akan kuingatkan lagi, kita kalo lagi PMS, wah sulit sekali untuk dilakukan, tapi berilah versi terbaik kita di detik itu yang mampu kita beri.


Aku berikan contoh. Aku dan Dia mempunyai kebiasaan tidur yang berbeda.  Dia senang tidur dengan lampu dan TV yang menyala, dan aku harus dengan sunyi senyap dan gelap baru bisa tidur. Sering sekali karena hal ini, walaupun sudah berkompromi, kualitas tidurku jadi terganggu.  Saat bangun pagi karena alarm yang berbunyi kencang, rasanya ingin lempar telpon jauh-jauh karena satu badan masih terasa seperti ditabrak bis. Tapi aku terus harus memberi versi terbaikku, jangan karena aku yang lagi kesal/bete gara-gara tidur gak cukup, jadi Dia yang kumarahin.


Saat Dia mau keluar rumah pergi ke kantor, tetap aku temani keluar sampai di pintu depan dan kuberi ciuman di pipi (walaupun masih pake baju tidur dan belom gosok gigi). Dan ini selalu kulakukan (kecuali sedang sakit, atau dimana aku merasa sama sekali gak sanggup) setiap hari, entah semalam tidur jam 12 malam, atau jam 4 pagi. Pagi hari memang bukan temanku, aku gak kuat di pagi hari, dan 100% aku di pagi hari yah seperti itu, pake baju tidur dan belom gosok gigi. Mata juga mungkin belom kebuka semua.  Dulu aku memberi ekspektasi ke diri sendiri bahwa pagi-pagi harus siap cantik seperti iklan susu di TV, sang istri begitu cantiknya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak dan memberi senyuman manis pada sang suami. But that made me so miserable. Memang gak kuat di pagi hari, dan malam hari tidur terganggu, 100% ku di pagi hari terasa seperti nilai C.


Itulah keteladanan yang kumaksud, dan itulah keteladanan yang kujalankan sekarang. Dengan begini, aku berharap 100% ku yang mungkin sekarang masih bernilai C dapat pelan-pelan naik pangkat ke B, dan yang nilai B ke A, karena aku sudah melatih diriku untuk lebih terbiasa dalam memberi versi terbaikku di setiap saat, walaupun susah.


Aku percaya jika aku menjadi wanita yang teladan dalam memberikan versi terbaik diriku untuk Dia, maka Dia pun akan menjadi suami yang teladan, dan hubungan ini pun akan menjadi hubungan yang teladan.



Cianna

No Comments Yet.