Menjadi Ibu


Monday, 30 Nov -0001


 

Usiaku 31 tahun. Di usia ini, banyak sekali drama kehidupan yang telah kualami sebagai seorang wanita. Bila dijadikan novel, mungkin bisa menjadi berpuluh-puluh novel untuk setiap babak kehidupanku. Dan selama hari-hari kehidupanku yang penuh warna, menjadi single parent adalah yang paling menguji kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri yang kumiliki dalam diriku.

Mulai dari menjalani kehamilan sendirian, tanpa dapat memberitahu siapapun hingga kandungan 7 bulan, mengatasi duka kehilangan ayahku yang begitu kucintai saat aku juga harus berjuang untuk terus mempunyai damai dan sukacita di hati demi janin di dalam rahimku agar ia bisa menjadi anak yang periang dan mempunyai ketenangan jiwa selama dititipkan di dalam rahimku.

Perjuangan mengatasi segala kesedihan, menekan segala rasa kehilangan atas perginya almarhum ayahku sambil juga terus menjaga mood pribadi agar terus stabil. Damai sejahtera dan sukacita, itulah yang begitu kubutuhkan saat itu. Kurasa bukanlah kekuatanku, jika aku bisa melewati semua kisah itu dengan begitu tegar, tertawa lepas dan tersimpan damai di hati. Sungguh, aku yakin bahwa itu bukanlah kekuatanku, melainkan kekuatan dari Dia yang berdiam di hatiku.

Dan ketika bayi yang kunanti-nantikan telah lahir, wow, aku baru tahu bahwa menyusui itu bukanlah hal yang alamiah. Melahirkan ditemani bidan yang tidak mengajarkan apa-apa padaku di klinik bersalin, aku harus google, bagaimana cara menyusui yang baik, posisi pelekatan, bagaimana menjaga kualitas asi agar terus tersupply dengan baik. Dan pada kesempatan pertama itu, tidak kulalui dengan baik. Sambil berdarah-darah karena posisi pelekatan yang belum benar, aku terus menyusui bayi cantikku hingga masa-masa harus menahan perih setiap kali menyusui, terlewati setelah 2.5 bulan.

Menjadi seorang single mother, benar-benar menguji kesabaran dan kelemahlembutanku. Di saat aku harus menafkahi diriku dan anakku (yang sekarang berusia 3 tahun), serta menabung untuk pendidikannya , aku juga harus memperhatikan gizinya, karakternya, pendidikannya, menemani bermain, membelainya saat ia ingin bermanja.

Jujur, di awal-awal, hal ini bukanlah hal yang mudah. Saat aku sedang fokus berjualan online, anakku yang manis terus merengek minta dibacakan buku, minta keluar beli es krim, minta diperhatikan. Dan ketika aku memperhatikan anakku, para pembeli yang tidak sabar, terus mengejar jawaban dari pertanyaan tentang barang yang kujual.

Aku juga mengambil pekerjaan lain sebagai substitute teacher di sebuah international school, menggantikan guru-guru yang cuti hamil, yang sedang sakit atau yang sedang sertifikasi. Dilema yang lain adalah, pagi-pagi buta, aku harus membangunkan anakku yang masih tertidur lelap, menitipkannya di day care, saat sore kujemput, dia bercerita tentang kegiatannya di day care hari itu. Sebagai seorang Ibu, aku merasa kehilangan waktu-waktu berharga bersama anakku. Sungguh pilihan yang tidak mudah. Aku mengajar anak lain, namun anakku sendiri kuserahkan pengasuhannya pada orang lain.

Dalam hari-hariku yang begitu sibuk, tidak jarang juga aku mengomel atau marah pada anakku ketika ia tidak berhenti merengek, atau ketika ia tidak patuh pada nasehatku dan bersikeras pada pendapatnya. Menjadi seorang Ibu betul-betul membentuk karakterku untuk mempunyai penguasaan diri, bagaimana untuk boleh menjadi Ibu yang lebih lemah lembut dan sabar. Setiap kali aku merasa kehilangan kesabaran, aku menarik nafas panjang, kuingatkan diriku bahwa putri manisku ini bukanlah milikku. Ia adalah permata titipan Tuhan, yang apabila terluka hatinya atau menjadi anak yang keras hati, nantinya Tuhan sendiri yang akan meminta pertanggungjawaban kepadaku.

Aku bukanlah seorang Ibu yang sempurna. Kurasa, di dunia ini tidak ada Ibu yang sempurna. Saat aku mulai tidak bisa menguasai diri karena di satu sisi aku harus mencari nafkah setiap harinya dan di sisi lain, aku harus memperhatikan putriku secara intens, aku ingatkan diriku berulang-ulang kali bahwa saat aku tua nanti, akupun ingin putriku memperlakukanku dengan segala kelemahan dan keterbatasannya secara lemah lembut, sabar dan penuh kasih.

Saat inilah, saat aku menjadi ibunya, putriku begitu membutuhkan semua itu. Bukan sekedar materi, melainkan terutama kasih, kesabaran, kelemahlembutan, penguasaan diri. Pada saatnya nanti, aku yang akan memetik hasilnya, ketika anakku menjadi anak yang manis, baik budi, mempunyai hati yang lembut, mengerti tata karma, berbakti pada orang tua, dan hal-hal baik lainnya. Terutama, saat nanti Tuhan meminta pertanggungjawabanku atas permata yang Ia titipkan.



Unknown

No Comments Yet.