Mengurangi Kekecewaan. Why?


Monday, 30 Nov -0001


 

Saat saya muda, saya jauh lebih mudah tersulut emosi, mudah merasa kecewa dengan orang, dan juga mudah merasa kenapa orang tidak menjalankan standar-standar yang ada. Saya merasa orang-orang disekitar saya itu kurang peka, kurang memikirkan orang lain, cenderung egois dan berengsek. Well, dari satu sisi pemikiran-pemikiran itu ada benarnya. Namun dengan berjalannya waktu saya mulai berpikir juga….

 

Kenapa saya mudah terpacu emosi?

Saya emosi karena orang tidak masuk standar yang menurut saya baik. Lalu saya berpikir kenapa hal itu menjadi penting, bahwa orang lain harus memenuhi standar yang menurut saya baik dan kenapa saya bisa sangat terluka lalu emosi karena mereka “kurang punya standar yang baik”. Itukan hidup-hidup mereka, kenapa jadi saya yang lebih peduli, lebih mengurusi, dan lebih sakit hati bila hal - hal “baik” itu tidak tercapai.  Ternyata setelah saya cari akarnya karena dalam ekspektasi-ekspektasi yang ada itu terdapat kebutuhan dan keinginan saya dan standar yang baik itu untuk menjamin diri saya tidak dirugikan.

 

Kenapa begitu?

Karena saya selalu memikirkan diri saya dan selalu memikirkan bagaimana supaya saya tidak “rugi”.

 


 Its about me & protecting what I have….

 Plak!

Teguran ini adalah teguran yang cukup keras yang saya dapatkan ketika sedang merenungkan hidup saya. Serba salah jadinya menerima kenyataan ini. Saya itu suka kecewa karena saya cukup egois. Rugi sedikit saja terasa rugi besar makanya saya mencak-mencak, merasa unfair, dan mencap orang-orang itu jahat. Padahal mungkin saja mereka orang dengan kekurangan, belum tentu berniat jahat. Sebenarnya rugi sedikit itu juga OK karena pastinya tanpa sadar saya juga bisa merugikan orang lain.

Wow, saya jadi malu sendiri walaupun sebenarnya yang menuduh saya adalag kata hati saya sendiri. Tidak ada saksi, tidak ada yang tahu.

Sejak saat itu saya mulai belajar. Setiap kali saya mau marah saya tanyakan dulu. Kenapa sih marah? Apakah sudah tahu posisi orang yang membuat marah? Sengaja atau tidak sengaja? Alasannya bisa diterima atau tidak? Jika tidak  sengaja atau mungkin sengaja tapi dengan alasan yang cukup masuk akal ya lebih baik saya yang mengerti dan mengalah, karena saya tidak bisa berharap semua orang sempurna, seperti saya tidak bisa mengharapkan diri saya sempurna. Denganberpikir seperti ini saya mengubah fokus saya yang tadinya me,me, and me menjadi orang lain (walau  me-nya masih ada juga hehee).

 

 

Apa hasil dari perubahan sikap saya terhadap hal2 yang “salah” tadi ?


Pertama, pastinya saya menjadi lebih berkurang letupan emosinya. Bisa sebal tapi belum tentu harus marah-marah.

 

Kedua, saya jadi lebih bisa mengerti dinamika perasaan dan pemikiran orang lain. Saya berkurang pemikiran yang memperlakukan orang seperti robot: benar atau salah, karena mereka memang bukan robot.

 

Ketiga, saya mulai bisa mengambil keputusan yang mungkin tidak bisa dibilang “benar” tapi bisa dikatakan lebih bijak. Apakah benar lebih baik dibanding bijak. Ahh bisa jadi tidak…..

 

Keempat dan yang terakhir, saya jadi bisa berdamai dengan lebih banyak orang. Tidak terlalu hitungan dan bisa menerima orang dengan kekurangan mereka dengan lebih baik.

 

Less of myself, more of others. It’s good for me. Walaupun awalnya sepertinya susah  dan tidak jelas 'buat apa?’. Tapi ternyata banyak gunanya. Membuat saya menjadi manusia yang lebih pengertian dan membuat hidup saya menjadi lebih tenang.

Thank you quiet moment, you make me a better & happier person.

 



Priscilla

No Comments Yet.