Mengejar Impian


Monday, 30 Nov -0001


Aku adalah anak ke-2 perempuan dari 5 bersaudara. Saat ini aku sudah 7 tahun tinggal di Jakarta, sendirian, sedangkan keluarga ada di Samarinda.

Kenapa aku mau pergi ke Jakarta? karena  ingin mengejar impian!

Aku sangat suka dengan anak-anak dan bidang kreatif, drawingilustration, graphic design itu hobiku. Keluargaku tahu impianku itu, tapi mereka ga pikir aku bakal serius dibidang itu. Mereka mempunyai prinsip bahwa setelah kuliah menjadi sarjana, perempuan seharusnya menikah dan mengurus suami dan anak, setelah itu baru bekerja dan itupun jangan kantoran karena akan banyak menyita waktu, nanti rumah tidak diurus. Sangat tradisional. Prinsip ini tidak hanya dianut oleh keluargaku tapi oleh masyarakat di daerah itu juga.

Untuk menjaga prinsip mereka, akupun pernah sampai dijodohkan dengan sepupuku supaya tidak terlambat menikah karena perempuan punya masa expired nya. Aku merasa kering dan tidak bebas, tiap hari bangun dengan rutinitas yang sama "duh kok gini lagi", sampai suatu hari rasanya aku ga mau bangun lagi, depresi tidak ada gairah hidup. Untuk menghilangkan kebosanan, aku melamar menjadi pegawai bank, gaji dan posisi ok, semua settle, siap untuk masuk kerja. Di saat yang sama ada temanku butuh designer di Jakarta, interview lewat telepon, tapi karena sudah terlanjur diterima di bank, akhirnya ku cancel. Di saat itu pula aku pikir akan lepas impianku. Beberapa hari berlalu, aku terima kabar permohonan maaf karena pekerjaan di bank dibatalkan, segeralah aku menghubungi temanku di Jakarta apakah masih ada kesempatan untuk bekerja menjadi designer? dan Ya! aku diterima. Aku urus tiket semuanya, tanpa bilang ke mama dan papa. Sampai satu hari sebelum keberangkatan, aku beritahu keluarga bahwa akan ke Jakarta tapi bukan untuk jalan-jalan tapi untuk bekerja. Reaksi mereka?? Mama nangis, cici marah-marah di telepon, papa tidak membuka mulutnya sama sekali dan itu tandanya dia sangat kecewa. Aku dinilai sebagai anak yang tidak bersyukur, durhaka, pembakang dan egois, karena menyalahi prinsip mereka. Sedangkan aku menilai mereka sebagai orang tua tidak mengerti anaknya, egois juga, berpikiran sempit, dan tidak bisa menerima perbedaan. Akhirnya kami saling menghakimi satu sama lain.

Aku tetap pergi ke Jakarta.

Aku sampai berpikir kenapa hanya aku satu-satunya yang begitu berbeda cara berpikirnya dibandingkan dengan kakak dan adikku?! "I am a misfit in my own family"

Waktu aku kecil, aku dicap anak yang penurut, pintar banget dan baik sekali pokoknya membanggakan sekali. Selalu juara 1 di sekolah, aku takut kalau sampai juara 2, karena akan dimarahin nyokap bokap.

Penurut karena ada rasa takut, "air termos setelah sekolah harus habis ya!" sakin segitunya aku bisa buang air termosnya di jalan supaya abis. Waktu itu hidup seperti di sangkar dan merasa dikekang. Lalu saat aku sekolah di Surabaya lalu ke luar negeri, bertemu dengan orang lain beda budaya beda pemikiran, aku merasakan yang namanya bebas , keluar dari sangkar, dan rasanya menyenangkan.

Definisi kebebasan aku dengan orang tuaku juga berbeda, menurutku bebas artinya bisa bekerja sesuai yang aku inginkan sedangkan mereka sebaliknya, bebas itu dengan tidak bekerja.

Ada rasa bersalah dan pertentangan dalam hatiku, aku cerita tentang ini ke temanku dan dia bilang aku harus berdoa dan berserah. Apakah Tuhan menginginkan aku balik ke Samarinda atau terus lanjut dengan yang kujalani sekarang..."wah kalau beneran harus pulang bagaimana??" ada sedikit ragu, tapi ya aku doain juga. Lalu saat papa telepon dan membujuk untuk pulang lagi, tiba-tiba keluar dari mulutku menceritakan tentang keadaanku di sini, aku butuh tempat tinggal dan lainnya. Aku pikir responnya akan marah tapi dia hanya diam dan berkata "yaudah kalau kamu mau cari tempat tinggal, papa bantu". Sangat di luar dugaan dan ternyata doaku terjawab, dari apartemen dan kendaraan didukung oleh papaku. Dia tadinya underestimate karena di Jakarta ga kenal siapapun, dll tapi nyatanya bisa kok!

Setelah 5 tahun bekerja di Jakarta. Papaku menyetujui, ternyata dia senang melihat aku bekerja sendiri.

Jika melihat ceritaku ini, sepertinya keluarga menjadi faktor penghalang dalam mencapai impianku. Tapi tidak sama sekali.

Ternyata ada sebuah proses yang Tuhan ingin aku jalani.

Di Jakarta, aku mengikuti sebuah konseling keluarga, dan ternyata penyakitku adalah rasa bersalah, karena sebenarnya untukku keluarga itu adalah No. 1. Selama ini aku melakukan yang terbaik untuk mereka didasari oleh rasa bersalah bukan karena rasa sayang yang tulus. Aku diminta oleh konselorku, selama seminggu stop pikirin keluarga dulu, awalnya aku pikir egois dong...tapi setelah seminggu itu beneran plong hatinya. Minggu depannya aku disuruh melakukan tugas yang sama tapi ditambah dengan pertimbangan-pertimbangan, supaya lebih considerate. Sedikit demi sedikit tapi ga drastis, aku dan keluarga berubah. Dulu aku orangnya defense banget ,saat argumen aku argumen balik. Tapi sekarang aku lebih bisa membuat penilaian yang mengarah ke realita dan netral. Walaupun sebal dengan orangnya, lihat dulu kenapa dia bisa begitu. Kenapa mama ga suka wanita yang bekerja, kenapa mama harus aku cepat-cepat menikah, yah memang ada history di balik itu. Menyadari itu, setiap aku memberikan pendapat/masukkan kepada mereka bukan untuk attack mereka tapi karena sayang mereka. Oleh karena perubahanku itu merekapun memberikan reaksi yang berbeda juga dan lebih considerate

Selain itu, aku berusaha hidup dengan standar sendiri bukan dengan standar tuntutan orang tua, "stop pikirin apa kata mama papamu dan trust the process", kata konselorku. Lalu mencoba untuk bicara jujur perasaannya ke mama dan papa. Hal ini cukup sulit, karena waktu kecil jika dipanggil papa itu bukan berarti untuk ngobrol atau dipeluk tapi karena kita melakukan kesalahan, jadi selalu ketakutan kalau papa panggil, dan tidak pernah berbicara dari hati ke hati. Bekas itu masih ada dan harus dibereskan. Sekali waktu, papa telepon dan akhirnya aku cerita tentang aku ikut konseling keluarga, papa kaget dan aku cerita waktu aku umur 14 tahun sambil nangis (marah, sedih, malu, bingung campur aduk perasannya), papa kaget dan aku ga nyangka  dia mengakui kelemahannya bahwa saat itu dia temperamen. Batu besar terangkat. Sejak saat itu kita bisa saling jujur dan bisa saling hugging dan papa lebih berperasaan.

Proses di atas makin memantapkan tujuan hidupku, berkontribusi secara signifikan dalam dunia kreatif di dunia anak-anak dengan memegang prinsip kebenaran. Seperti, buat design house, desainer majalah, jadi guru Sunday School. Juga menjadi manusia dengan jati diri sesungguhnya, feeling secure so I can do my best.

Tuhan selalu punya tujuan untuk hidup kita, yang hasil akhirnya untuk berdampak positif buat orang lain. Dalam dunia kreatif, tidak hanya menghasilkan karya tapi aku bisa ajarin mereka dalam hal skills dan life values dan menjadi perubahan positif dalam keluargaku.

 

Semangat Ladies!



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.