Mengatur Uang Membawa Kehidupan Idaman


Monday, 30 Nov -0001


Pada dasarnya saya bukan wanita yang suka mengatur uang. Saya itu sukanya menggunakan uang heeheeee.... Membeli pernak pernik kecantikan & perawatan kulit dan wajah, membeli baju-baju yang trendi, dan pergi ke sana ke mari bertemu teman  untuk hangout dan mencoba tempat-tempat baru. Semasa saya masih lebih muda hidup itu seru!

 

Dengan bergulirnya waktu saya mulai belajar bahwa terkadang hidup kita itu seringnya dikendalikan orang lain bila kita tidak mempunyai tabungan atau uang lebih. Karena jika pemberi sumber dana  itu mengancam atau memaksa kita dan kita tidak setuju, sering kalinya kita juga akan menjadi takut akan masa depan kita. Mau makan apa? Mau tinggal di mana? Bagaimana bisa membayari gaya hidup saya sehari hari? Apakah saya akan jadi pengemis jalanan? ancaman-ancaman seperti ini awalnya datang dari orang tua saya dan saya cukup terkejut karena terkadang pembicaraan yang menurut saya selayaknya menjadi suatu diskusi menjadi pembicaraan satu arah karena saya secara finansial bergantung pada mereka. Padahal saya juga yakin keputusan saya tentang pilihan hidup saya tidak selalu salah.

 

Dari awal yang menurut saya cukup menyakitkan hati, saya belajar untuk mulai bekerja disaat saya kuliah dan belajar untuk menyisihkan uang yang saya dapatkan. Dari uang yang saya kumpulkan saya bisa membeli barang-barang yang saya inginkan bukan hanya barang-barang  yang diperbolehkan orang tua saya. Maklum orangtua saya tipenya cukup mendikte. Mmm rasanya senang dan bangga juga. Barang-barang itu milik saya dan hasil jerih payah saya.

 

Lalu ketika saya diancam akan dihentikan uang kehidupan saya sehari-hari pada saat kuliah jika tidak mengikuti pilihan orang tua, kalau tidak salah pada saat itu tentang pilihan pacar) ya saya bisa memberi jawaban yang “bebas” karena saya mempunyai tabungan yang bisa menghidupi diri saya sendiri paling tidak cukup untuk  1tahun karena saya sudah bekerja sejak kuliah. Mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sendiri bukan sesuatu hal yang menjadi momok. Saya tidak takut mengambil keputusan pribadi serta bertanggung jawab akan keputusan-keputusan tersebut.

 

Beranjak dewasa bukan hanya orang tua saja yang berusaha mengatur kehidupan saya dan cenderung memaksakan kemauan mereka melalaui kekuatan finansial namun juga pacar-pacar saya. Saya tipe wanita yang senang belajar dan jika ada kesempatan saya dari muda maunya belajar dan belajar lagi. Kembali ketika saya diterima program S2 saya diberikan pilihan: menikah dan semua kebutuhan saya dipenuhi atau saya sekolah tapi ditinggalkan pacar saya dan meniti hidup sendiri. Sedih sebenarnya saya mendengar ultimatum-ultimatum seperti itu. Tapi saya juga sadar seringkali ultimatum diberikan karena kepentingan dan sisi pandangan pemberi ultimatum. Sering kalinya diberikan bukan karena pengertian mengenai apa yang terbaik untuk orang yang diberikan ultimatum tersebut.

 

Kembali saya memilih sekolah karena walaupun pacar-pacara saya sudah mapan saya tidak kuatir bahwa saya tidak bisa menghidupi diri saya sendiri. Walaupun belum tentu dengan standar yang diberikan pacar-pacar saya tadi. Maklum mereka lebih tua dan hidupnya sudah sangat mapan.

 

Berlanjut dengan waktu saya semakin mahir untuk menabung dan juga memilih berbagai jenis tabungan. Sekarang saya mempunyai pekerjaan yang bagus, tabungan yang cukup, apartemen yang nyaman, dan mendapat fasilitas-fasilitas lain seperti mobil dan lain-lain sehingga boleh dibilang hidup saya mapan dan nyaman. Saya juga bisa mensupportkegiatan-kegiatan amal yang melekat di hati saya. Kalau saya lihat ke belakang lagi, saya bisa menjadi diri saya yang sekarang karena saya membela cita-cita dan hal-hal yang saya percaya baik untuk saya, hal yang kadang secara kasat mata tidak bisa dlihat oleh orang lain bahkan oleh keluarga sendiri. Semua bisa saya dapatkan dan perjuangkan berawal dari kebiasaan bekerja dan menabung.

 

Yaaa... awal yang sederhana seringkali membawa kita ke tujuan yang berbeda. Jika pada saat itu saat tidak bekerja dan menabung mungkin saya tidak akan sekolah tinggi-tinggi. Hidup dari ancaman ke ancaman dan hanya bisa menjadi pribadi yang diinginkan orang lain. Bukan menjadi diri saya sendiri.

 

 Jadi buat saya kemampuan mengolah keuangan dengan baik penting untuk saya menjadi pribadi saya yang sebenarnya tanpa paksaan dari pihak-pihak lain. Saya tidak mengatakan orang tua saya atau pacar-pacar saya jahat atau tidak baik tapi pastinya mereka kurang mengerti siapa saya dan aspirasi hidup saya walau dalam kenyataannya  sayalah yang paling mengerti diri saya dan passion saya. Kunci saya meraih dan memilih jalan hidup yang saya pilih adalah kemampuan menghasilkan uang dan kemampuan mengaturnya dengan baik. Untung saya memulai kebiasaan ini dari kecil. heeheeee,.......



Priscilla

No Comments Yet.