Menemukan Tujuan Hidupmu


Monday, 30 Nov -0001


“It does not matter how long you are spending on the earth,

how much money you have gathered or how much attention you have received.

It is the amount of positive vibration you have radiated in life that matters 

Amit Ray 

 


What’s Your Purpose life?

Bagi sebagian orang, pertanyaan ini akan memiliki jawaban yang berbeda-beda. Tergantung dari kebudayaan dan keyakinan seperti apa kita dilahirkan, kebiasaan kita, ataupun tuntutan hidup masing-masing. Beberapa orang merasa tujuan hidupnya tercapai jika sudah memiliki deretan harta kekayaan. Beberapa yang lain menganggap popularitas dan ketenaran adalah tujuan hidup. Sebagian yang lain mungkin saat ini masih bertanya-tanya pada diri mereka, apa yang menjadi tujuan hidup saya?

Ketika menulis ini, saya pun bertanya-tanya lagi pada diri saya. Apa yang menjadi tujuan hidup saya. Apakah saya berencana untuk menjalani hidup yang biasa saja dengan rutinitas bangun pagi, bermacet-macet dalam perjalanan ke kantor, makan siang, melanjutkan kerja sampai jam 7 kemudian pulang ke rumah – tentu saja dengan macet yang sama, makan malam, bersih-bersih, dan kemudian tidur selama 5 hari ke depan plus diselingi dengan berleyeh-leyeh pada akhir Minggu? Memikirkan memiliki hidup seperti itu membuat saya bergidik. Jika sungguh demikian, maka apa yang akan menjadi peninggalan dari hidup seorang ‘saya’? Bagaimana kelak saya akan diingat setelah waktu saya habis di bumi ini? Apakah saya hanya akan ditangisi sebentar saja, kemudian pelan pelan terlupakan?

Pemikiran-pemikiran seperti itu akhirnya membuat saya bertanya sendiri tentang beberapa hal dalam hidup saya. Misalnya, pengorbanan apa yang siap saya lakukan untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Dalam hal pekerjaan, jika saya hanya menginginkan hasil yang biasa-biasa saja, tentu saja saya hanya akan menjadi gerombolan rata-rata. Namun untuk bisa melewati kelas rata-rata itu, pengorbanan apa yang harus saya lakukan? Karena pada akhirnya apa yang saya lakukan dalam pekerjaan, menjadi penentu salah satu tujuan hidup saya.

Di luar itu, adakah dari kita yang masih mampu mengingat kebahagiaan yang pernah kita miliki ketika kita masih anak-anak dulu. Sesuatu yang kita lakukan dengan senang hati dan suka cita, bukan untuk mengesankan siapapun, namun semata-mata karena memang kita menyukainya. Ketika kecil saya menyukai seni. Saya menari dan membaca puisi. Tapi hal itu berhenti begitu saja ketika saya beranjak dewasa. Alasan saya untuk tidak melakukannya lagi setelah dewasa, adalah bahwa saya sudah lupa caranya, dan saya mungkin tidak terlalu bagus melakukannya. Mungkin jika versi masa kecil saya mengetahui apa yang saya lakukan sekarang, ia akan sedih karena saya tak lagi melakukan apa yang paling dia suka.

Dulu, Fisikawan Isaac Newton sering kali harus diingatkan secara teratur oleh ibunya untuk tidak melupakan waktu makan karena ia kerap melupakannya ketika tenggelam dengan apa yang dikerjakannya. Saya kerap lupa waktu jika sudah membaca buku. Saya bisa menghabiskan seharian begitu saja ketika sudah tenggelam dengan buku-buku saya. Bagi sebagian yang lain ini bisa saja berbeda. Ketika dilihat-lihat ini bisa saja sesuatu yang terlihat sederhana. Namun cobalah melihat prinsip-prinsip kognitif dibalik aktifitas-aktifitas tersebut yang membawa kebahagian dalam diri kita, sebab hal-hal itu bisa diaplikasikan untuk segala sesuatu. Jika hal ini terasa belum jelas, coba tanyakan pada diri kita, apa sih selama ini hal yang bisa membuat kita lupa makan atau tidur?


Saya yakin masing-masing kita memiliki gambaran besar tentang dirinya.

Sesuatu yang selalu kita pikirkan, kita fantasikan, dan kita memiliki semua alasan yang diperlukan, hanya saja kita belum melakukannya. Sebagian karena alasan pribadi, sebagian lagi karena memikiran apa yang akan dikatakan orang-orang. Hal-hal besar memang terkadang membutuhkan mental besar. Diperlukan banyak momen jatuh bangun. Dalam prosesnya, kita mungkin akan mendapat cibiran, melakukan kesalahan berkali-kali, serta meragukan keputusan kita berkali kali. Namun itulah harga yang diperlukan untuk melakukan hal besar bagi hidup kita. Dan itu menakutkan. Namun sesuatu yang tidak boleh kita lupakan adalah, bahwa dalam proses jatuh bangun itu, kita sedang dalam perjalanan menciptakan sesuatu yang berarti.

By the way, sudah melihat berita hari ini, Urbanesse? Ada banyak cara untuk menyelamatkan dunia. Ada banyak isu diluar sana seperti korupsi, kekerasan perempuan dan anak, kesenjangan ekonomi, atau karakter dan mental kerdil dari masyarakat kita sehingga menghalalkan segala cara demi uang. Saya sendiri selalu tertarik dengan isu pemberdayaan wanita karena rasa ‘gemas’ yang selalu saya rasakan setiap kali melihat perempuan yang sering kali menerima begitu saja apa yang terjadi pada mereka. Silahkan pilih satu hal yang ingin Urbanesse lakukan. Kita mungkin tidak memecahkan persoalan dunia. Namun kita bisa berkontribusi dalam bagian besar itu dan membuat perbedaan sedikit demi sedikit.

Sekarang jika kita bisa berandai-andai, jika anda dipaksa – dan ini soal hidup dan mati – untuk keluar dari rumah hingga tiba saatnya untuk pulang dan tidur, apa yang akan lakukan. Terlebih dahulu, saya akan hapus opsi untuk ‘ngopi’ di kedai kopi maupun menghabiskan waktu ‘ngemall’ ataupun browsing situs-situs internet. Ini adalah mengenai sesuatu secara nyata yang ingin kita lakukan. Apa yang akan Urbanesse lakukan pada waktu tersebut. Jika ini membuat kita bertanya-tanya, tuliskan jawabannya dan kemudian lakukan hal tersebut.

Belakangan saya sering sekali melihat kematian.

Hal itu mau tidak mau membuat saya bertanya pada diri saya sendiri. Peninggalan apa yang ingin saya tinggalkan untuk dunia ini? Cerita apa yang akan diceritakan orang-orang tentang saya ketika saya pergi? Ketika kita tidak bisa menjawab dua hal ini, kemungkinan kecil kita sudah gagal disini. Karena kita tidak mampu menemukan sesuatu yang penting dari diri kita. Ketika kita tidak mampu menemukan jawabannya, maka itu berarti kita tengah menjalani kehidupan dan visi misi orang lain daripada milik kita sendiri. Menemukan visi misi kita sendiri adalah mengenai sesuatu yang lebih besar dari hanya sekedar memikirkan tentang diri kita sendiri.  Take your time to think about these all, Urbanesse. These could lead you in finding your own purpose of life. And please don’t forget to keep being happy while searching the answers .

 



Ika Lubis

Sulung. Leo. Suka musik country. Suka semua acara masak dan membaca apa saja. Mulai menulis rutin pertama kali saat dibangku kuliah lewat blognya mataharicinta.wordpress.com. Perempuan yang lebih suka dipanggil Ika dan lahir 11 Agustus 1985 ini tertarik pada segala hal mengenai perempuan sejak bergulat dengan skripsi “HAM dan Buruh Wanita” nya. Saat ini menikmati pekerjaannya sebagai HR Consultant dibilangan Rasuna Said. Penyuka puisi dan berkampung di Medan, Sumatera Utara ini punya cita-cita bisa mengelilingi Indonesia dan menjadikannya hidup dalam catatan perjalanan. Berusaha terus berpikir positif setiap hari dan percaya pressure sesungguhnya adalah sesuatu yang kita ciptakan sendiri.

No Comments Yet.