Menari di Dalam Badai, Mungkinkah?


Monday, 30 Nov -0001


Hmm... Jujur, saat ini aku ngga dalam kondisi joyful-joyful amat. Jadi, sharing ini sebenarnya membantu aku untuk berhenti sejenak dari segala kesibukan, dan introspeksi tentang hidup, khususnya karirku yang saat ini memasuki fase baru, yaitu beralih dari selfpreneur (freelance  graphic designer) menjadi entrepreneur alias memulai bisnis graphic design house. Di proses transisi dan segala hal serba tidak pasti seperti ini, rasanya susah ya ngomongin joy. Sampai-sampai kalo ngeliat postingan IG tentang encouragement words yang terlalu unrealistic, emotional dan bombastic, rasanya pret banget haha...

Saatnya memutar otak, mendengar suara hati, dan menggali lebih dalam. apa sih joy itu? Bedanya apa sama hepi? Jawaban cepat di dalam otakku, joy itu inside to outside, sedangkan hepi itu outside to inside. Contoh, hepi itu kalau baru menang tender. Joy itu pada waktu kalah tender, we believe it happen for a reason dan bisa tetap melangkah ke depan dengan positif dan hati berat... oops besar :). Hepi itu waktu baru terima payment dari client. Joy itu waktu client berlaku curang, diri tetap bisa menganalisa bagaimana kondisi itu bisa terjadi dan move on dengan mindset baru, anggap saja sebagai biaya untuk belajar, bayar uang sekolah. Joy itu adalah keadaan dimana ketika hati ini bisa merasa utuh dan content walaupun sendirian, ngga ngapa-ngapain bahkan waktu hal-hal buruk terjadi. Karena joy itu inside to outside. Ia tidak dipengaruhi oleh keadaan dan bahkan a powerful joy tidak hanya sekedar berdiam di dalam hati kita, tetapi bisa mengalir keluar dan mengubah keadaan.

Wow, nyampe ke paragraf ini, pelan-pelan joy mulai muncul lagi dalam hatiku. Aku sadar sekarang, once you experienced joy, ia tidak akan pernah lenyap seutuhnya. Hanya terkadang, ia tertutupi oleh beberapa feeling lainnya. In my case, joy sering tenggelam ketika aku sudah terlalu cape bekerja alias burn-out. And i believe, hal ini tidak terjadi hanya pada wanita karir, tapi juga ibu rumah tangga. Selain itu, joy juga sering tenggelam pada saat sesuatu serba unpredictable and beyond my control. Bagi yang perempuan dan butuh kepastian, i'm with you, baby! ;)

Trus, pentingnya joy apa donk? Kalau buat aku, dalam konteks karir, a joyful heart bisa mambalikkan krisis menjadi opportunity, kenapa? Karena joy memampukan diriku untuk melihat sesuatu dengan jernih dari segala arah, 360 derajat. Bisa menganalisa suatu opportunity dengan jelas, kelebihan maupun kekurangannya. Jadi dari awal, bisa ambil resiko dengan 100% sadar akan konsekuensi untung dan ruginya. Di tengah-tengah proses, a joyful heart memampukan kita untuk perservere di dalam segala kondisi. Jadi, pas knocked-down, nggak terlalu spiralling down dan bisa bangkit lagi untuk melangkah ke depan. A joyful heart enables us to achieve our dreams while celebrating the process.

Joy itu adalah pilihan. Bukan lantas hanya sekedar ngucap "I’m joyful" padahal hati ngomong kaga, itu namanya denial :p. Like other awesome things in life, menemukan real joy itu butuh usaha. Berikut adalah beberapa tips praktis yang udah aku jalani sendiri dalam menemukan dan menjaga my joyful heart:

1.       Know your balance and preferences in everything

Setiap orang memiliki tingkat balance dan preferences yang berbeda-beda. A cukup tidur 5-6 jam, B butuh lebih. C bisa bekerja 11 jam sehari dan baik-baik saja, D hanya mampu mentok 8 jam sebelom banting komputer. E merasa cukup dengan gaji sekian, F selalu mencari penghasilan lebih. G suka bekerja di perusahaan besar dengan jabatan oke dan fasilitas menggiurkan, H suka menjadi boss untuk diri sendiri walaupun harus merangkak dari awal dan minim fasilitas. I berani invest gila-gilaan, high risk high return, J lebih berhati-hati dan prefer alon alon kelakon. Tidak ada yang benar dan salah. Yang penting jujur sama diri sendiri, gak banding-bandingin sama orang lain and never be too greedy, coz greed will eaten you up.

You can achieve unlimited things by knowing and respecting your own limit.

2.       Be realistic and embrace

Tidak selamanya segala sesuatu berjalan mulus. Berharap sesuatu yang tidak realistis seperti no pain, no sadness, will take your joy away from your heart. Tetapi juga tidak selamanya keadaan berlangsung buruk. Joy have a mighty power that can change your circumstances, because first it transforms your heart and make you stronger and wiser in life.

3.       Believe you are in The Right Hands

Kalau Urbanesse merasa poin ketiga ini klise, I've been there too. Basically, Im a skeptical person dan jujur pertama kali merasakan the true joy itu pada saat menerima eksistensi Tuhan dalam hidupku. Karena pada saat itu untuk pertama kalinya, aku memberikan kontrol seutuhnya pada Tuhan. Dengan melangkah bersama Dia, aku lebih pede dalam menjalani hidup karena ada kepastian bahwa I’m in The Right Hands and everything happens for His purpose. Tanpa Dia, aku tidak mungkin nekat ke Jakarta mengejar karir, tanpa tahu apa-apa tentang kota ini dan tidak ada teman maupun keluarga jauh, apalagi keluarga dekat. Setelah 5 tahun, baru dapat restu dari keluarga dan dalam kurun waktu itu, step to the next level perlahan-lahan, dari bekerja di beberapa perusahaan, memutuskan untuk jadi freelancer, sampai mempersiapkan bisnis sekarang. Without God, it is very impossible for me to walk through this journey with a joyful heart. Mungkin tanpa Dia, aku udah bitter tingkat dewa kali hahaha....

Last words, sukacita yang sesungguhnya itu terlihat bukan pada saat semua berwarna warni, melainkan pada saat badai kelabu terjadi.

You can fake a happiness, but you can't fake a joy :)

 

Sumber Gambar: Martin Gollery - DevianArt[/caption]



Unknown

No Comments Yet.