Memilih Itu Perlu


Monday, 30 Nov -0001


Baru mendengar temanku cerai lagi pagi ini duh. Seakan kopi hitam favoritku kenikmatannya menjadi berkurang. Tapi dipihak lain aku pun berpikir wah untung juga aku ini belum menikah walau mungkin di mata banyak orang aku ini telat banget menikah. Orang sering sekali berkata “kamu itu pasti milih milih, karena kalau mau menikah kamu pasti banyak yang mau”

Ya memang sih aku sebenarnya memilih tapi apakah memilih-milih itu salah?  Kalau memilih-memilih untuk sesuatu yang sempurna mungkin berlebihan tapi aku memilih-memilih untuk kriteria tertentu yang menurut saya penting namun memang pada kenyataannya kriteria-kriteria ini memang sulit dicari. Aku tidak mencari orang yang kaya atau orang yang berposisi hebat ataupun orang yang keren. Tapi jangan disimpulkan secara ekstrim juga ya, tidak kaya bukan berarti miskin ya tapi biasa-biasa saja cukup buat saya dan seterusnya.


Lalu pertanyaannya mungkin kriteria apa sih yang sampai membuat saya menunggu selama ini? Mmm saya itu mencari seorang laki-laki yang bisa:

1. Mencintai, memperlakukan dengan lembut,  & juga menghormati wanita

2. Bertanggungjawab dalam hidupnya

3. Mempunyai acuan prinsip-prinsip hidup yang benar (ya ini sebenarnya relatif tapi kalau buat saya acuan mudahnya ajaran agama     masing-masing saja)

 
Simpelkan?

Tapi pada kenyataannya mendapat pria yang bisa melakukan 3 hal yang tertulis di No.1 mencintai, berlaku lembut, namun juga menghormati itu susah. Dari begitu banyak laki-laki yang saya pernah kenal,ngedate, bahkan pacaran.

Biasa yang lembut cenderung menganggap wanita itu mahkluk hidup No.2 setelah pria. Mereka lembut karena merasa wanita patut diperlakukan lembut tapi belum tentu patut dihormati sepenuhnya. Padahal menurut saya wanita berbeda saja dengan pria dalam fungsi dan kemahiran, bukan berarti manusia yang kualitasnya lebih rendah dari pria. Salah satu contoh tindakan lembut namun kurang hormat seperti, “Lebih baik kamu tidak perlu kerja keras karenakan gaji saya lebih dari kamu. Cukup kok untuk kamu di rumah” Ya memang lembut tapi semua wanita pasti punya bakat dan aspirasi, kenapa diminta tinggal di rumah tanpa alasan yang jelas? Apakah para pria itu mau diberikan opsi yang sama? Lain halnya kalau tinggal di rumah karena alasan yang penting.


Lalu banyak yang bilang mencintai tapi sebenarnya lebih cocok dibilang mereka menyayangi karena di dalam kata cinta sebenarnya terdapat kata hormat.
Sedangkan orang bisa menyayangi orang lain tanpa rasa hormat. Sering sekali pria-pria memberikan aturan-aturan yang maksudnya mungkin melindungi kita para wanita tapi aturan-aturan itu tidak dipakai juga untuk melindungi diri mereka sendiri. Padahal baik pria dan wanita rentan akan godaan dan bahaya. Bahayakan tidak selalu bahaya fisik? Contoh wanita disarankan tidak pulang malam-malam, kalau bisa di bawah jam 10 ya sebenarnya itu ada benarnya. Tapi lalu kenapa pria-pria sah-sah saja?  Apakah benar kalau ada perampokan dan penculikan pria lebih aman? Lalu terhadap godaan malam apa benar pria-pria lebih tahan godaan. Saya rasa tidak juga ya. Jadi sebaik mana wanita harus menjaga dirinya menurut saya juga sejauh itu pria harus menjaga dirinya juga.


Belum lagi banyak pria-pria
  yang tujuannya tidak ada dari ketiga hal di atas. Saya tidak menyalahkan pria, para wanita juga ada. Cuma dalam artikel ini saya sedang menulis alasan saya untuk santai dalam masuk jenjang pernikahan bahkan pacaran.


Kenapa menurut saya ketiga hal di atas ini penting dan harus ada bersamaan?

Karena kita para wanita pastinya ke depannya akan ada banyak tanggung jawab ketika menikah antara lain: menjaga keadaan rumah, melahirkan anak, dan terkadangkan juga bekerja. Kalau pria biasanya tugas utamanya bekerja dan hadir untuk keluarga. Jadi sebagai wanita saya rasa saya butuh
support secara mental dan emosional yang cukup besar untuk bisa menjalankan tugas-tugas saya dengan baik. Bayangkan kalau saya sudah mengurus rumah, hamil, dan juga bekerja lalu saya kurang dicintai, kadang-kadang saja, diperlakukan lembut, dan jarang dihormati. Waduh saya pastinya akan merasa sangat menyesal menikah. Seperti memasukkan diri dalam goa yang sangat kelam dan tidak akan keluar dari goa itu. Bisa jadi, inilah alasan kenapa banyak wanita minta cerai jaman sekarang.

Tapi sebaliknya jika saya mendapatkan ketiga hal itu kemungkinan saya menjalani tugas saya dengan hati yang bahagia walau capek tapi juga merasa dihargai. Jadi semua hal-hal yang menguras tenaga dan waktu itu bisa saya berikan dengan baik. Perkawinan kan pada dasarnya seharusnya seumur hidup ya? Jadi saya memilih untuk memilah-memilah kandidat yang ada dengan perlahan untuk  memastikan saya bisa menjalani hubungan serius secara langgeng. Nah ketika saya menulis artikel ini rekan kerja saya menyeletuk “ Tapi bagaimana kalau kriteria itu ternyata terlalu sempurna dan tidak ada pria seperti itu?”  Ya jawabannya juga simple. Wanita sebaik itu saja ada pastinya pria yang seperti itu juga ada walau belum tentu banyak dan memang pada saat saya menulis artikel ini saya sudah menemukan pria itu.

 

Kesimpulan saya sebaiknya kita jangan begitu saja mudah mendengar kata orang atau apa yang sudah “dibiasakan” budaya kita untuk dijalankan, misalnya menikah harus sebelum umur tertentu karena nanti yang akan menjalani dan menerima konsekuensinya kita sendiri. Kedua, jangan terintimidasi orang-orang yang mungkin tidak berani memilih jalan yang kita pilih atau orang yang tidak suka dengan pilihan kita kembali, karena kita memperjuangkan hidup yang terbaik untuk kita. Terakhir adalah jodoh yang sepadan itu ada.

Kalau kita sudah menjadi wanita yang baik saya rasa tidak perlu kuatir tidak ada pria yang kualitasnya seperti saya. Jangan dibiasakan menerima alasan” Ya laki-laki kan memang begitu”. Karena apa? baik laki-laki maupun perempuan diciptakan Tuhan dengan kualitas yang sama, tidak  ada yang lebih buruk. Jadi jangan membela diri dengan alasan-alasan di dalam otak atau perasaan kita cuma karena kita ingin buru-buru menikah.

So, menurut saya kata orang yang jangan terlalu pilih-pilih itu ada benarnya. Jangan terlalu. Tapi memilih-memilih itu harus dan perlu. Mudah-mudahan dengan pilihan ini saya bisa menjalani relationship atau bahkan mungkin mendapatkan perkawinan yang harmonis dan langgeng ke depannya.



Priscilla

No Comments Yet.