Membuka Hati


Monday, 30 Nov -0001


Masih ingat tulisan saya tentang Hilangnya Self Respect?  Stephanie atau akrab dipanggil Fany merupakan salah satu nara sumber yang ada dalam tulisannya tersebut, kembali berbagi pengalamannya, Jumat, 7 Feb 2014. Di tulisan sebelumnya disebutkan bahwa Fany tetap menjaga keperawanannya, alasannya? Sederhana, karena ia ingin bersikap setia kepada suaminya, walaupun saat ini belum menikah. Mungkin, hal ini agak membingungkan, bagaimana bisa setia kepada suami di saat belum menikah. Jadi, maksudnya begini, kalau sudah menikah, memang sudah sepatutnya setia kepada suami, nah sementara belum menikah, keperawanannya tetap terjaga, sebagai salah satu cara menunjukkan kesetiannya kepada suaminya. Analoginya, seorang penjual bunga pasti merawat dan memelihara bunga-bunganya dengan sangat baik, supaya dapat tumbuh dengan baik, warna-warnanya tetap indah, harumnya semerbak dan segar, jadi ketika dibeli, bunganya masih segar, sehingga pembeli merasa puas. Sama seperti dirinya, ia menjaga keperawanannya tersebut untuk suaminya nanti, sebagai bukti bahwa ia ingin memberikan yang terbaik bagi suaminya nanti. Dalam hal ini, tidak bermaksud merendahkan pihak mana pun tentang keperawanan.

Hal lain yang ia bagikan adalah tentang membuka hati. Fany sudah hampir 8 tahun menjomblo, tidak mau membuka hati untuk hubungan yang lebih serius dengan seorang pria, karena takut disakiti lagi. Bukan berarti selama 8 tahun tersebut tidak ada pria yang mendekati, justru cukup banyak pria mendekati, karena Fany adalah seorang wanita yang sangat menarik. Namun, setiap kali ada pria yang mendekati dan mulai menunjukkan tanda-tanda serius, Fany akan langsung mengambil langkah seribu, lari!

Singkatnya, Fany sulit membuka hati kepada pria karena takut disakiti lagi, secara lengkap, Urbanesse dapat membaca di Hilangnya Self Respect. Menyadari hal ini tidak sehat bagi dirinya, Fany memutuskan berkonsultasi dengan beberapa orang. Setelah yakin, Fany memutuskan berani membuka hati. Fany membuka hati kepada seorang pria Iran yang dikenalnya sekitar 6 bulan yang lalu. Dalam waktu singkat, hubungan mereka mulai menuju ke arah serius.

Senang sekali, punya pacar dan sekolahnya sebagai fashion designer hampir selesai. Fany adalah seorang lulusan S1, Teknik Arsitek yang sekolah lagi karena kegemarannya pada dunia fashion. Fany mengundang si pria untuk hadir di hari kelulusannya, sekalian memenuhi permintaan si pria untuk bisa mengenal lebih dekat lagi orang tua & keluarga Fany. Suatu hari, dua minggu sebelum hari kelulusan, mereka terlibat dalam pembicaraan serius, yang membuat Fany menyatakan dan mengakui bahwa dirinya tidak mau melakukan hubungan intim sebelum menikah. Perlahan dan pasti, si pria menyingkir lalu menghilang. Fany sempat kecewa, karena pada saat dirinya sudah membuka hati, ternyata pada orang yang kurang tepat, untuk kesekian kalinya. Beruntung kali ini Fany mengerti, bahwa makna dan tujuan utama dari kejadian ini adalah agar dirinya dapat membuka hati, bukan untuk mendapatkan pasangan.

Sekitar 2 bulan sejak kejadian tersebut, Fany bertemu dengan seorang pria dari komunitasnya, Ditto. Awalnya Fany tidak menaruh perhatian pada si pria, karena memang tidak tertarik, walaupun pria tersebut idola para wanita di komunitast tersebut. Walaupun digemari banyak wanita, tidak ada satu pun yang menarik perhatian Ditto, Ditto justru tertarik pada Fany. Beberapa kali diabaikan Fany, tidak membuat Ditto menyerah, malah terus berusaha.

Lama-lama, Fany melihat ada yang berbeda dan berharga dari Ditto, dibanding pria-pria yang pernah dikenalnya. Singkat cerita, Ditto dan Fany mulai saling mengenal, sebagai sahabat. Ditto belum berani melanjutkan ke jenjang pacaran, karena berkomitmen untuk tidak memiliki hubungan romantis sebelum dirinya mampu mencapai level tertentu dalam kehidupan,paling tidak setahun pertama. Hal ini juga sudah disampaikan ke Fany, sehingga Fanny mau menunggu dan mengerti.

Di kesempatan keduanya ini, Fany kembali membuka hati, dan siap untuk merasakan sakitnya; berbeda dengan sebelumnya, Fany takut membuka hati, karena takut merasakan sakitnya. Ya, Fany membuka hati, dan mengasihi dengan tulus.

Jika saja Fany bertemu Ditto sebelum bertemu dengan pria Iran, mungkin tindakannya akan sama, melarikan diri pada saat si pria mulai mengajak pacaran, beruntung Fany sudah belajar dari kejadian tersebut, sehingga kali ini ngga lari lagi. Bahkan, Fany dapat menerima, memandang dan menilai Ditto dengan cara yang berbeda, sebagai seorang manusia yang berharga dan bernilai dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan segala kebaikkan dan keburukkan masa lalunya. Fany menerima dan mengasihinya dengan tulus. Secara logika, pria ini ngga masuk itungan, hingga Fany melihat sesuatu yang berbeda dan berharga dalam pria tersebut.

Kini Fany dan Ditto, merupakan sahabat yang saling mendukung dan mencoba mengenal satu sama lain. Hari-hari mereka diisi dengan berbagi, saling menjaga perasaan masing-masing, tau batasan, dan saling mendukung satu sama lain. Dan jika pada akhirnya Fany dan Ditto tidak menjadi pasangan, Fany sudah siap dan berjanji akan menerimanya dengan lapang dada tanpa kapok untuk membuka hati lagi.

Urbanesse, berdasarkan kisah Fany tersebut, ternyata untuk dapat mencintai seseorang dengan tulus, hal pertama yang perlu dilakukan adalah membuka hati. Dengan membuka hati, justru juga akan membuka mata hati kita, untuk dapat melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh mata itu sendiri.

 

 Sumber gambar: amolife.com[/caption]



Unknown

No Comments Yet.