Memberi Secara Tulus Dengan Gaya Cerdas


Monday, 30 Nov -0001


Bicara tentang ketulusan, saya pernah punya pengalaman ngga enak yang akhirnya malah membuat saya belajar tentang ketulusan dalam memberi. Sekitar 8 tahun yang lalu, saya pergi merantau ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan. Di situ saya bertugas untuk memanage project dengan seorang vendor, yang akhirnya menjadi teman saya. Suatu hari, dia mau minjem duit dengan alasan buat bisnisnya. Jumlahnya cukup besar bagi saya yang pada saat itu masih fresh grad. Berhubung saya sudah percaya sama dia, saya pinjemin. Kelihatannya orangnya jujur dan dia berjanji untuk nyicil balikin tiap bulan. Bulan-bulan pertama bayarnya emang rutin. Tapi, lama-lama, pembayaran mulai tertunda, dia semakin susah dihubungin, meski ditelpon berkali-kali tidak diangkat dan disms pun tidak dibalas.

 

Saya tidak tahu alamat rumah atau alamat perusahaan dia, karena selama itu selalu dia yang visit ke perusahaan tempat saya bekerja. Saya mulai panik, dan curhat sama sahabat dekat saya. Dia pun memberi beberapa saran yang akhirnya saya lakukan. Untunglah, setelah beberapa bulan, dengan berbagai cara, saya berhasil mendapatkan uang saya kembali. Pada malam hari saya mendapat pelunasan terakhir, sahabat dekat saya itu mau pinjem uang saya dengan tujuan bayar uang sewa apartemen selama setahun. Saya pinjemin atas dasar percaya. Lagi-lagi saya melakukan kesalahan kedua. Kejadian yang sama terulang lagi. Bulan-bulan pertama bayarnya rutin, bulan-bulan berikutnya sudah tidak bisa bayar.

 

Saya memutar otak cari jalan keluar, akhirnya saya berhasil mendapat kontak kakaknya. Kakaknya kaget karena yang bayar apartemen itu papanya. Saya juga kaget karena tidak menyangka sahabat saya bisa bohong. Uangnya dipakai buat apa donk? Tidak ada yang tahu, Singkat kata, kakaknya crosscheck dengan sahabat saya apa bener dia pinjem duit. Setelah dia mengaku, kakaknya melunasi hutangnya dan saya sudah hilang kepercayaan dengan sahabat saya itu.

 

Dengan background cerita seperti di atas, mulai saat itu bisa dibilang saya kapok bantu orang, dalam artian saya tidak mau asal bantu, karena efeknyabukan sekadar materi, tapi hubungan juga jadi rusak. Saya curhat dengan teman saya yang lain. Dia kasih satu saran yang bijak. Katanya kalau mau bantu orang jangan harap duit itu balik. Jadi bukan meminjamkan, tapi memberi secara sukarela dan semampu kita. Saya pikir-pikir benar juga saran dia, karena kalau meminjamkan apalagi dengan teman atau rekan sendiri berdasarkan pengalaman endingnya selalu tidak mengenakan. Dari situ Lalu, saya coba praktekkan ketika ada satu teman membuat suatu proyek bangun rumah sederhana untuk orang-orang yang membutuhkan. Saya kasih sesuai dengan kemampuan dan kerelaan hati saya.

 

Selain menyumbang materi, kita juga menyumbang waktu dan tenaga ke situ untuk membuat beberapa komponen rumah itu, seperti membuat kerangka besinya dan menggali fondasi rumahnya. Beberapa hari setelahnya, kita kembali untuk melihat rumah yang sudah jadi, dan memberikan beberapa peralatan rumah yang kira-kira dibutuhkan oleh ibu yang diberikan rumah. Pada hari itu, saya amat sangat terharu dengan respon si ibu. Dia tersenyum dengan mata berlinang-linang, mengenggam tangan saya, dan berkata, “Makasih banyak, ya, Mbak…” Saya benar-benar tersentuh melihat ketulusan yang terpancar dari matanya. Saya tidak menyangka uang dan tenaga yang saya sisihkan, bermakna begitu besar buat orang lain.

 

Sejak saat itu, saya belajar untuk tiap bulan, selalu sisihkan pemasukan untuk memberi. Saya belajar untuk spend uang tidak menuruti keinginan saya, tapi bijak pikir dulu apakah saya benar-benar butuh barang itu atau liburan itu. Saya tahu saya punya hak untuk enjoy jerih payah saya sendiri, tapi saya sadar keinginan kalau selalu diturutin gak akan ada habisnya dan malah saya semakin haus materi dan liburan baru. Lucunya, pada saat saya disiplin bikin pos untuk memberi, saya malah bisa simpan duit karena saya belajar self control.

  

Saya juga bisa lebih bersyukur untuk hal-hal yang kelihatannya ‘biasa’ tapi sebenarnya itu berkat yang tidak pernah saya hitung sebelumnya. Selain itu, ternyata disiplin untuk memberi secara materi, berdampak juga ke area lain, yaitu make time for people. Saya yang cenderung suka menghabiskan waktu untuk bekerja, jadi lebih bisa membatasi jam kerja saya, dan make time buat orang-orang yang membutuhkan waktu saya. Saya juga bisa meluangkan waktu untuk sharing pengalaman saya dalam bentuk tulisan untuk Urban Women, dengan harapan orang lain yang baca bisa merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan hidup mereka. Saya sangat bersyukur memilih untuk mencoba lagi memberi secara tulus, tapi dengan pola pikir dan cara yang berbeda, setelah belajar dari pengalaman nggak enak, Hidup orang yang saya bantu menjadi lebih baik, dan saya juga pelan-pelan membangun karakter yang positif dan lebih berguna untuk hidup saya. Dengan cara ini saya tetap bisa memberi dengan ketulusan dari hati saya namun, dengan cara yang lebih cerdas agar tidak mudah lagi ditipu daya dengan teman sendiri.

 

 



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.