Memahami Pria Berarti Memahami Kehidupannya


Monday, 30 Nov -0001


Ngomong-ngomong soal memahami pria dalam konteks berpasangan, aku mau sharing how I’m trying to understand one man yang sekarang jadi pacar aku. Sebut saja namanya O. Kita kenal berawal dari ngetrip sama teman. Awalnya kita sama sekali tidak tertarik satu sama lain dan gak follow up contact. Setelah beberapa bulan berjalan, kita nggak sengaja ketemu lagi di trip lain dengan teman yang berbeda. Pada saat itu kita ngobrol lebih banyak dan kita mulai keluar dinner. Awal-awal cuma sebulan sekali, berlanjut dua minggu sekali, lalu seminggu sekali, dan kita semakin intense dalam berkomunikasi.

 
 

Kebetulan both of us tipe yang bisa banget pergi berdua dengan lawan jenis dan ngobrol tanpa ada hidden agenda alias pedekate. Karena awalnya tidak ada maksud buat deketin, kita just pure ketemu buat catch up dan ngobrol apa aja, jadi diri sendiri tanpa bermaksud to impress each other, ataupun ada unsur flirting. We go with the flow tanpa ada ekspektasi ini pertemuan akan mengarah kemana.
 

 

Dari situ aku bener-bener bisa ngertiin dia as a human being, bukan sebagai kandidat pacar, karena aku juga lagi tidak sedang aktif mencari pasangan. Kita ngobrol mulai dari background hidup, life experiences, para mantan, keluarga, finansial, karir, cita-cita, spiritual life where we believe in same God dan Tuhan ada dalam setiap musim hidup kita, Dia menolong kita pada saat kita terpuruk dan mengangkat kita pada saat kita jatuh.  Sampaijoke-joke sampah yang nggak penting. Aku lihat core values kita sama walau interests ada yang beda tapi somehow ngelink juga. Aku suka art museum, dia suka historical museum.
 

 

Dia bilang aku dreamer, aku bilang dia pragmatic. Tapi dua-duanya kalo mau apa sama-sama ngotot dan do our faith in our own way. Aku heran sama diriku, karena walaupun aku sibuk, tetep aku luangkan waktu buat ketemu dia disitu aku merasa kayaknya aku tertarik sama dia dan aku minta dia to spend one whole day with me to celebrate his birthday. Aku pengen ngetes apakah tetep enjoyable. Di luar dugaan hari itu bener-bener yang paling memorable dan akhirnya kita officlally jadian.
 

 

Waktu jadian, aku sengaja memberi waktu ku untuk kenal dia lebih dalam. Aku pergi kekantornya, berbicara dengan nyaman kepada ibunya ketika ia berbicara lewat telepon, menonton film kesukaanya, aku mendengarkan cara pandangnya dalam menghadapi segala sesuatu dan sebaliknya. Kami mendiskusikan segala sesuatu dengan cara menghargai satu dengan yang lainnya tanpa ada pikiran-pikiran buruk ataupun prasangka, kami berusaha membuat diri kami sejalan satu dengan yang lain. Aku juga pakai donk knowledge yang aku dapat di seminar leadership atau gereja, seperti MBTI test dan Gary Chapman’s 5 love language tests.
 

 

We shared our results dan ternyata benar-benar ngebantu kita buat ngertiin satu sama lain dan mencari cara mencintai yang tepat dan personalized. Kita jujur soal  our future goals dan ekspektasi masing-masing. Gak semua sama, disitu seninya berkompromi dan prioritas. Aku selalu berusaha menerima dia apa adanya and so does him. Nobody’s perfect dan aku senang hubungan ini bisa buat kita menjadi pribadi yang lebih baik dansekaligus menikmatinya.
 

 

Aku pikir romance gampang dibangun, cukup ada infatuation dan skills. Cinta yang tricky dan lebih challenging. Buat saya cinta itu keputusan dimana kita harus memilih dan berkomitment. Akhir kata, ini words dari pacar aku. Dia bilang a real understanding develops a real trust, and the real trust develops a real love.  

 

 



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.